Menu
Menantang Segala Kesulitan
Rusly Tjohnardi

Saya sangat berejeki terlahir di tengah-tengah keluarga yang telah memeluk Buddhisme Nichiren Daishonin sejak lama. Sejak kecil saya sudah melaksanakan kepercayaan ini dan mengikuti kegiatan di susunan. Waktu kecil dalam menghadapi ujian di sekolah, saya tidak pernah lupa berdaimoku sebelum memulai belajar dan sebelum memulai mengisi kertas ujian. Dengan daimoku, saya pun bisa memenangkan banyak perlombaan antar sekolah dengan gemilang. Kedua orangtua saya mencintai seni, dan saya pun memiliki gairah di bidang seni sejak masa SMA, yang akhirnya menuntun saya untuk mengejar impian menjadi seorang perancang busana.  Dengan kepercayaan ini, saya bisa mengeluarkan kekuatan dan kewelasasihan dalam  hidup, dan tentu saja membuat saya bisa merevolusi diri menjadi pribadi yang lebih peka dan peduli terhadap orang-orang di sekitar saya. Saya teringat bimbingan seorang pemimpin Soka Gakkai yang mengatakan “Walaupun kita hidup di dalam kekacauan dunia dan menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari, kita bisa menjadi seperti bunga teratai yang tumbuh menjulang dengan indah di tengah air kolam yang keruh.” Titik tolak karir saya adalah ketika saya menjadi juara utama dalam sebuah kompetisi mode internasional di Paris, Perancis pada tahun 2000. Lomba ini merupakan kejuaraan dunia bergengsi yang diikuti oleh peserta dari 10 negara. Setiap negara mengirimkan masing-masing finalis yang sebelumnya telah diseleksi terlebih dahulu dari ratusan sketsa melalui lomba yang telah diselenggarakan di negara masing-masing. Ini seperti sebuah ajang olimpiade mode dunia.  Dalam menghadapi persiapan menjelang perlombaan tingkat nasional saya sempat putus asa karena dengan ide rancangan yang ambisius, sehingga sangat sulit untuk mewujudkan sketsa rancangan saya. Selama proses ini saya selalu memulai usaha dan pekerjaan saya dengan menyebut daimoku di depan Gohonzon. Dengan tekad, perjuangan keras, dan juga bimbingan dari Mama, saya pun menambah daimoku saya pada tengah malam selama satu bulan penuh. Mama pun mengirimkan daimoku untuk keberhasilan saya.  Selama satu bulan saya terus berdoa tetapi masih belum mendapatkan hasil yang maksimal. Namun saya tidak menyerah dan terus berdoa sampai hari terakhir. Dengan gaibnya saya bisa bertemu jodoh baik yang membantu saya mewujudkan konsep rancangan saya. Kami akhirnya berhasil mengerjakan dan menyelesaikannya dalam waktu sehari semalam untuk mengikuti seleksi semifinal di Jakarta.  Dari ratusan desain yang diseleksi ketat, 20 semifinalis terpilih untuk dipamerkan dalam sebuah peragaan busana, dan kemudian disaring lagi menjadi 10 finalis yang akan mewakili Indonesia. Saya termasuk salah satu finalis yang terpilih dalam ajang kompetisi tingkat nasional tersebut. Ajang kompetisi kemudian berlanjut di Paris pada musim dingin bulan Desember 2000, 10 finalis dari 10 negara berkompetisi sangat ketat di depan dewan juri internasional yang profesional di bidang mode. Tanpa saya bayangkan sebelumnya, saya berhasil mengukir sejarah mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi Juara Utama dari ajang Olimpiade Mode Dunia ini setelah menyisihkan 99 finalis lainnya. Saya adalah orang Indonesia pertama yang berhasil memenangkan kompetisi ini. Saya yakin hal ini berkat usaha keras dan juga karunia dari kepercayaan ini. Setelah kemenangan tersebut saya pun memenangkan banyak kompetisi lainnya yang berkontribusi bagi kemajuan karir saya. MAMA YANG MENJADI SUMBER INSPIRASI  Dalam hidup tentu saja kita pasti mengalami berbagai tantangan kehidupan. Suatu hari Mama mengalami gejala diare dengan diagnosa usus buntu, dan ternyata setelah pemeriksaan secara medis diketahui bahwa beliau terkena kanker usus besar. Melalui perjuangan hati kepercayaan Mama, saya bisa melihat bukti nyata dari Buddhisme ini. Kami bisa bertemu dengan orang-orang yang tepat untuk menangani penyakit Mama. Dalam melawan penderitaan sakitnya, beliau tidak pernah berhenti berdaimoku setiap harinya yang membuat kami pun sekeluarga bisa bersatu. Mama mengubah semua keadaan dengan doa dan semangatnya. Saya selalu mengingat sosok Mama sebagai orang yang selalu berdoa di semua saat terpenting dalam kehidupan keluarga kami. Dengan tekadnya yang sangat kuat, jodoh baik dan karunia nyata terwujud dalam kesembuhan Mama di tahun yang sama.  Saya pernah membaca bimbingan dari Ikeda sensei bahwa : “Tidak ada yang bisa menandingi kekuatan dari mereka yang hidupnya telah dibentuk dan ditempa dengan mengatasi dan menantang kesulitan. Orang-orang demikian tidak takut pada apapun. Tujuan pelaksanaan Buddhisme kita adalah mengembangkan kekuatan dan kegigihan demikian. Menempa inti yang terkalahkan seperti ini merupakan kemenangan itu sendiri, juga merupakan karunia terbesar. Mereka yang berhasil dalam usaha ini pasti akan menikmati kebahagiaan yang tak tertandingi”.  Perjuangan Mama telah menginspirasi kehidupan saya. Dalam perjalanan karir saya sebagai desainer mode di usia yang masih sangat muda, saya pun bisa mencapai kesuksesan yang luar biasa sepanjang hidup saya.   Dalam waktu singkat, saya berhasil mencapai posisi yang sejajar dengan para senior di dunia mode. Saya merasa sangatlah berejeki bisa meraih impian secara cepat. Kehidupan Saya Adalah Cerminan Jiwa Saya Seiring berjalannya waktu, saya bisa menikmati berbagai kemudahan dari kesuksesan yang didapatkan dengan begitu cepat. Banyak keuntungan yang saya dapatkan, baik dari segi finansial ataupun aspek lainnya. Dengan cepat pula saya terbuai dalam arus pergaulan semu yang membuat saya menjadi hilang fokus dari tujuan hidup saya. Kepekaan saya perlahan larut dalam kesenangan duniawi. Saya menyadari harus mengubah kondisi dan situasi jiwa seperti ini. Setelah beberapa tahun terbuai, saya memutuskan untuk berusaha menemukan jatidiri saya kembali dengan menerima Gohonzon. Namun usaha untuk kembali tidaklah mudah. Selama satu tahun saya sempat mengabaikan Gohonzon yang telah saya terima. Akibat kesalahan dalam mengambil keputusan tatkala suasana jiwa rendah, maka kesulitan demi kesulitan muncul secara perlahan dalam kehidupan saya. Tantangan yang normalnya bisa saya hadapi menjadi berat karena tidak dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan tepat. Dalam lingkungan kerja, karyawan saya pun menghilang satu per satu, ada yang meninggal karena sakit, dan ada juga yang berhenti bekerja. Adik perempuan yang saya andalkan juga memutuskan untuk kembali melanjutkan kuliahnya di negara lain karena lelah menghadapi sikap saya. Kemudian yang membuat lebih terpuruk lagi, pelanggan saya pun menjadi sangat berkurang dikarenakan tersedot oleh banyaknya saingan pendatang baru. Untuk pertama kalinya saya benar-benar menghadapi tantangan besar dalam perjalanan karir saya. Dalam keadaan yang sangat terpuruk, Mama menjadi sosok yang menyinari keluarga kami bagaikan matahari. Saya mengingat saat beliau sedang menyebut daimoku pada pukul 4 pagi mendoakan keselamatan saya sementara saya baru pulang dari club, serta perbincangan kami yang sangat bermakna di suatu minggu pagi sebelum beliau pergi ke pertemuan di kaikan pusat sedangkan saya baru saja pulang entah dari mana. Semua doa Mama selalu saya rasakan di mana pun saya berada. Akhirnya berkat ketulusan dan doa Mama, saya menyadari bahwa semua kekacauan dalam hidup saya adalah cermin dari kekacauan jiwa saya. Berkat doa dari Mama dan dorongan semangat anggota seperjuangan di Soka Gakkai, saya pun perlahan bangkit dan mengubah hidup saya dengan hati kepercayaan ini. Ikeda Sensei mengatakan, “Kita hidup di zaman tanpa adanya kesempatan untuk inspirasi mendalam dari jiwa ke jiwa. Hiburan kosong hanya membawa kenangan sesaat. Mereka tidak memberikan inspirasi yang mendalam ataupun pertumbuhan bagi hidup seseorang. Sebaliknya, Buddhisme ada untuk memampukan orang-orang mewujudkan pertumbuhan diri dan memperbaiki hidup mereka. Buddhisme selalu berakar pada kenyataan hidup. Buddhisme adalah mata air kearifan untuk membawakan keharmonisan dan kebahagiaan pada keluarga kita, dan juga pada komunitas lokal dan masyarakat pada umumnya.”   MISI SEBAGAI BODHSATWA MUNCUL DARI BUMI Pada masa tersebut, saya pun bertekad untuk mulai melaksanakan gongyo dan daimoku secara rutin dan teratur. Saya pun mulai menyadari misi saya sebagai Bodhisatwa Muncul Dari Bumi yang berjuang untuk kosenrufu di Indonesia dan juga sebagai murid dari Ikeda Sensei. Banyak anggota dan pemimpin pun merangkul saya dengan hangat dan menyegarkan kembali kehidupan saya. Saya sangat berterima kasih kepada Buddhisme yang luar biasa ini. Perlahan saya dapat merevolusi diri sendiri dan mengubah kehidupan saya. Saya pun dengan penuh semangat berusaha untuk dapat membantu teman-teman lain yang menghadapi tantangan hidup dan pekerjaan. Bersama-sama saling menyemangati. Seiring waktu, perlahan pekerjaan semakin membaik. Saya pun dapat memimpin bisnis saya kembali dengan lebih arif dan bertanggung jawab, sungguh penuh karunia, dan rasa terima kasih. Melalui Buddhisme ini saya ingin memberikan bukti nyata kehidupan sehingga bisa berbagi dan memberikan dorongan semangat kepada generasi muda lainnya agar bisa menemukan misi hidup dengan menantang segala kesulitan dan kesesatan dalam hidup dan mengubahnya menjadi cahaya harapan dan pertumbuhan diri kita, seperti kata-kata dalam Gosho Nichiren Daishonin “Mengubah racun menjadi obat”. Saya akan menutup pengalaman saya dengan mengajak teman-teman generasi muda untuk bisa bangkit dan menang dengan hati kepercayaan ini. Sekaranglah saatnya untuk mewujudkan perubahan dimulai dari diri kita di saat ini juga! Mari menang di jalan agung Revolusi Manusia!

Baca Selengkapnya
Melihat Kecantikan Dari Dalam
Anasthasya Risa

“Cadut”, “Babi Kecil”, “Si Gendut”, begitulah orang-orang memanggil saya sejak kecil. Memiliki bentuk badan yang besar sejak dilahirkan membuat orang-orang memanggil saya dengan sebutan-sebutan seperti itu hingga remaja. Tanpa sadar panggilan-panggilan yang awalnya hanya sekedar gurauan perlahan-lahan mempengaruhi kepercayaan diri saya. Memiliki badan langsing seperti model tentu merupakan impian kebanyakan perempuan. Belum lagi tuntutan masyarakat dan juga pengaruh dari berbagai media yang membentuk pandangan bahwa wanita yang ideal harus berparas cantik dan langsing. Bentuk tubuh saya pun seringkali dibanding-bandingkan dengan orang lain. Akhirnya saya terperangkap dalam pola diet yang destruktif. Saya melakukan pola diet yang sangat ekstrem. Saya menargetkan penurunan berat badan 5 kg dalam sebulan. Saya hanya makan 1 jenis makanan atau minuman untuk asupan gizi setiap hari selama satu bulan. Saya hanya makan 1 potong tahu dalam satu hari, di hari selanjutnya hanya minum 1 liter jus jambu, atau 1 potong roti gandum atau pisang dalam satu hari. Saya sering membatasi asupan hanya 300 kalori per hari, padahal umumnya remaja perempuan memerlukan sekitar 2200 kalori per hari. Ketika diet saya berhasil, banyak orang memuji saya. Pujian mereka membuat saya senang dan percaya diri. Namun apabila saya mulai berhenti diet, orang sekeliling mengatakan, “Gendutan kamu Thasya, diet lagi”. Saya selalu mendengar komentar-komentar yang mengarah ke fisik dan bentuk tubuh setiap hari sehingga akhirnya kepercayan diri saya jatuh ke titik terendah. Saya mulai meremehkan diri sendiri, menjadi murung dan merasa tidak berarti. Suasana jiwa saya menjadi sangat rendah. Ketika saya merasa tidak puas dengan apa yang saya lakukan, baik dalam kuliah ataupun pekerjaan, saya akan menyakiti diri dengan diet yang ketat. Saya merasa dengan diet seperti itu saya akan jauh lebih kuat, tetapi kenyataannya saya semakin memburuk dan lemah. Setelah menjalani diet terus menerus, lama kelamaan saya merasa diet yang selama ini saya lakukan sudah tidak bisa lagi membuat saya kurus. Rasa lapar dan sakit kepala yang biasanya saya alami pun, sudah biasa saja. Dan setelah semua itu sudah saya lewati, saya pun akhirnya mulai mengenal Bulimia. Bulimia adalah memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakan, dan itu merupakan salah satu penyakit mental (gangguan pola makan). Setelah bulimia menjadi kegiatan sehari-hari saya akhirnya mencari cara lain untuk kurus, yaitu dengan cara meminum pil pencahar, yang semakin hari semakin saya tambah dosisnya. Mulai dari satu pil, dan akhirnya menjadi tiga pil setiap hari. Pola hidup dan sakit mental seperti itu, menyebabkan saya memiliki banyak penyakit. Saya mulai mengalami gangguan saat menstruasi. Terkadang saya bisa menstruasi hampir satu bulan penuh, dengan kondisi tubuh kekurangan darah. Hormon saya menjadi terganggu karena pola hidup saya yang merusak diri. Banyak dampak negatif pada kesehatan saya, seperti gigi yang mudah copot dan berlubang, kuku mudah patah, kulit kering, mudah stress, emosi tidak stabil, dan sebagainya. Dan yang paling parah dan menakutkan adalah ketika saya mengalami sakit di bagian tulang, dan menyebabkan saya kesulitan berjalan. Selagi saya mengalami hal tersebut, saya tidak membiarkan kondisi itu menghalangi saya untuk beraktivitas. Tapi itulah yang menjadi tantangan dalam diri saya sendiri. MEMAHAMI ARTI KEBAHAGIAAN YANG SESUNGGUHNYA Saya terus melakukan kegiatan di Soka Gakkai, tugas pundarika, dan apapun itu selagi saya sanggup. Dengan aktif di kegiatan susunan, secara perlahan saya pun mulai menyadari pola merusak yang selama ini saya lakukan tanpa sadar. Dengan mendengarkan bimbingan dari Ikeda Sensei, saya semakin memahami arti kebahagiaan yang sesungguhnya dan misi hidup saya. Dari awal saya melakukan diet hingga akhirnya saya sakit, saya masih belum mengetahui bahwa saya mengalami penyakit gangguan pola makan. Sampai akhirnya saya bertemu Vani dan Chyntia. Vani dan Chyntia merupakan jodoh baik untuk saya. Saya sangat berterima kasih karena memiliki teman seperti mereka. Apabila salah satu dari kami tidak ada yang membuka diri mengenai penyakit ini dan menceritakannya ke orang lain, mungkin saya atau Vani pun masih melakukan bulimia sampai sekarang. Vani membutuhkan psikolog dan ahli gizi untuk sembuh, namun saya bertekad untuk sembuh melalui hati kepercayaan ini, dengan Gongyo dan Daimoku. Nichiren Daishonin mengatakan, “Yang lebih berharga daripada harta gudang adalah harta badan, dan harta hati adalah yang paling berharga dari semuanya. Dari saat Anda membaca surat ini, berusahalah untuk mengumpulkan harta hati!” (“Perihal Tiga Harta”, WND-1, hlm. 851) Pada saat itu saya sangat sulit menjalani masa-masa pemulihan. Diperlukan keberanian dan tekad yang kuat sekali untuk tidak kembali ke pola hidup seperti itu. Akhirya dengan kekuatan Gohonzon-lah saya bisa mengatasi penyakit saya tersebut. Melalui pengalaman yang menyakitkan itu, saya bertekad untuk bisa menyelamatkan dan memberikan edukasi kepada generasi muda yang menghadapi masalah dan penyakit serupa. Tekad saya saat ini ialah menyelamatkan teman-teman yang memiliki kesulitan yang sama seperti saya. Saya sempat berpikir, bila saya tidak mendapat perlakuan seperti itu sedari kecil, mungkin saya tidak akan mengalami gangguan pola makan. Namun pikiran-pikiran yang menyalahkan lingkungan itu saat ini telah berubah menjadi misi hidup saya. MENGUBAH PENDERITAAN MENJADI MISI HIDUP Ketika itu, saya berdoa untuk bisa menerima semua ini dan bertekad mengubah pengalaman saya menjadi misi untuk memberitahukan kepada orang lain bahayanya body shaming (mencela orang lain atau diri sendiri karena penampilan fisiknya). Saya bertekad untuk memberitahu orang-orang yang terkena body shaming untuk tidak menyalahkan lingkungan, tetapi perkuatlah jiwa diri sendiri. Saat ini saya bersama dengan kedua teman saya membentuk sebuah kampanye sosial, yang dinamakan Curvaceous, dengan misi untuk menyelamatkan teman-teman yang memiliki tekanan mental serta menderita penyakit  gangguan pola makan. Kami sedang melakukan pelatihan untuk membuat kampanye ini lebih dikenal dan memberikan dampak yang baik bagi generasi muda saat ini. Dan kami mendorong agar generasi muda akan jauh lebih menghargai dan mencintai diri mereka sendiri, dan memberikan pengetahuan tentang bahaya body shaming ini kepada yang lainnya. Di sela-sela kesibukan saya dengan berbagai aktivitas, setelah lulus kuliah saya harus berjuang untuk mencari pekerjaan. Saya sempat melamar ke beberapa perusahaan, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Saya mengirimkan lamaran ke 60 perusahaan dalam 2 minggu. Tetapi hanya 5 perusahaan yang memanggil saya untuk wawancara. DOA UNTUK MISI AGUNG KOSENRUFU, PASTI TERJAWAB Pada saat itu, saya berdoa untuk mendapatkan pekerjaan yang mendukung saya menjalankan tugas kosenrufu, hari sabtu dan minggu libur. Selain itu saya berdoa untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa mendukung Pameran Sutra Bunga Teratai, dan dapat mengeluarkan potensi yang saya miliki. Selama menunggu kepastian kerja, saya pun mulai mendapatkan pekerjaan sebagai pembawa acara di pesta ulang tahun. Saya sangat berterima kasih kepada susunan Soka Gakkai, karena lewat kegiatan kosenrufu yang saya jalani selama ini saya dapat mengeluarkan bakat-bakat terpendam dalam diri saya. Benar-benar tidak ada yang sia-sia dalam kosenrufu. Beberapa bulan kemudian, akhirnya saya mendapatkan panggilan dari salah satu perusahaan. Saya menjalani wawancara dan tes untuk masuk ke perusahaan tersebut. Beberapa pelamar memiliki pengalaman yang jauh lebih hebat di bidang itu ketimbang saya. Tetapi doa saya tetaplah sama, yaitu saya ingin agar perusahaan ini dapat mendukung dan membuka potensi saya untuk Pameran Sutra Bunga Teratai di tahun 2019. Setelah menjalani beberapa tahapan seleksi, akhirnya saya berhasil masuk ke salah satu perusahaan pertelevisian besar di Indonesia. Semua doa saya terjawab: saya mendapatkan pekerjaan di bidang pengelolaan media sosial, yang sama dengan tanggung jawab di bagian media sosial dalam Pameran Sutra Bunga Teratai, dan bisa libur pada hari Sabtu dan Minggu, padahal biasanya perusahaan media memiliki jam kerja yang tidak pasti. Saya bertekad menyukseskan Pameran Sutra Bunga Teratai dan mengenalkan hati kepercayaan Buddhisme ini kepada orang-orang di sekitar saya menuju 10.000 anggota di tahun 2020. Ikeda Sensei memberikan dorongan semangat kepada generasi muda, “Mungkin ada kalanya kita iri terhadap orang lain. Tetapi orang lain adalah orang lain dan Anda adalah Anda. Daripada membandingkan kebahagiaan dan penderitaan Anda dengan orang lain, Anda harus berusaha melampaui batas-batas Anda dalam situasi saat ini. Orang yang bisa melakukan ini adalah pemenang sejati dalam hidup.”

Baca Selengkapnya
Nam-Myoho-Renge-Kyo Mengubah Nasib Saya
Kelly Humala Iskandar

Sejak muda, saya sudah memiliki toko bahan bangunan dan membesarkannya sampai menjadi bisnis kayu yang sukses. Saya menganut hati kepercayaan Buddhisme ini karena Mama dan aktif di kegiatan susunan saat itu. Namun fungsi iblis yang muncul dari kekayaan materi membuat saya mundur dari hati kepercayaan selama hampir lebih dari 20 tahun. Selama itu juga usaha saya mulai mengalami kemunduran dan akhirnya bangkrut akibat perilaku dan kebiasaan saya yang suka berjudi. Istri saya sangat bersusah hati dan tidak bahagia karenanya, apalagi kami memiliki tiga putri. Saya berhutang di mana-mana, dan akhirnya sampai tidak memiliki uang sama sekali untuk membiayai sekolah anak-anak dan kebutuhan rumah tangga. Hidup saya saat itu benar-benar sangat berantakan dan terpuruk akibat ulah dan keserakahan saya sendiri. Saya mudah emosi dan marah-marah kepada istri dan anak-anak, bahkan tidak akur dengan orangtua sendiri. Saat kondisi terpuruk, saya berusaha meminta bantuan kepada saudara, tetapi tidak seorang pun yang mau membantu dan mendukung karena mereka tidak percaya lagi dengan saya. Keluarga besar menganggap saya adalah orang yang sudah tidak punya harapan dan takut bila saya datang ke rumah untuk meminjam uang untuk berjudi. Saya pun merasa marah dan benci terhadap sebagian keluarga besar saya. Teman-teman berjudi pun menghilang karena saya memilki banyak hutang. Bertemu Dengan Soka Gakkai Di tengah-tengah kondisi demikian, dua pemimpin Soka Gakkai mengunjungi dan mengajak saya untuk mengikuti kegiatan di Soka Gakkai. Istri saya dalam keadaan yang sangat putus asa, ketika mendengar dorongan semangat untuk menyebut Nam-myoho-renge-kyo, langsung ingin mencobanya walaupun tidak mengerti apa-apa. Dia hanya bertekad dalam hatinya ingin mengubah nasib dan bahagia. Sedangkan saya berusaha untuk menghindari mereka dengan berbagai alasan bila mereka mau datang berkunjung. Keadaan semakin membuat saya stres berat dan hanya mau tidur saja. Dalam benak saya hanya memikirkan bagaimana bisa mendapatkan uang dengan segala cara. Pada akhirnya, karena sudah buntu dan putus asa, saya pun mencoba untuk kembali menyebut Nam-myoho-renge-kyo. Pada Desember 2010, saya akhirnya memutuskan untuk menerima Gohonzon dan menjadi anggota Soka Gakkai berkat dorongan semangat yang tiada henti dari pimpinan Soka Gakkai. Melalui hati kepercayaan ini saya menyadari bahwa saya memiliki latar belakang keluarga penjudi. Keluarga dari beberapa saudara saya juga berantakan karena judi. Oleh karena itu saya bertekad untuk memutus karma keluarga ini dan mengubahnya menjadi misi hidup saya. Saya bertekad menyebut daimoku minimal 3 jam setiap hari. Terkadang bisa 7 jam. Di jalan pun saya menyebut daimoku dalam hati. Saya bertekad ingin cepat mengubah nasib. Berkat daimoku, saya mulai percaya diri bahwa saya pasti bisa mengubah nasib. Kesulitan pun terasa begitu ringan. Dua bulan setelah saya menerima Gohonzon, susunan di Karawang juga dibentuk dan saya diberi tugas menjadi ketua chiku Karawang. Nichiren Daishonin dalam memberikan bimbingan kepada murid-murid mudanya mengatakan, “Keinginan saya adalah agar semua murid-muridku membuat sumpah agung’ (“Perihal Gerbang Naga”; WND-1, hlm. 1003). Saya pun berprasetia akan menjalani hati kepercayaan ini seperti air dan melaksanakan kosenrufu dengan sungguh-sungguh. Saya menceritakan segala kesulitan saya di depan Gohonzon dan terus menjalani kegiatan kosenrufu walaupun kondisi saya sangat sulit dan banyak hutang. Dengan daimoku saya pun bertekad untuk bisa memiliki penghasillan yang cukup untuk keluarga dan sarana penunjang untuk melakukan kegiatan kosenrufu. Saya sangat percaya dengan bimbingan dari Nichiren Daishonin yang mengatakan, “Mereka yang percaya pada Sutra Bunga Teratai ibarat sedang berada di musim dingin, tetapi musim dingin pasti berubah menjadi musim semi” (WND-1, hlm. 536). Berjuang Untuk Kosenrufu Dengan Segenap Jiwa Raga Saya menjalankan tugas sebagai pemimpin chiku dengan penuh semangat, saya harus menghadiri pertemuan dengan jarak tempuh yang cukup jauh Karawang-Cikampek dan saya juga belajar sebagai pemimpin harus mendoakan kebahagiaan orang lain walaupun keadaan saya sangat sulit. Saya berpikir, “Bagaimana saya mendoakan kebahagiaan orang lain sedangkan saya memiliki hubungan tidak baik dengan keluarga sendiri?” Dengan kesadaran itulah, saya mendatangi satu per satu saudara saya dan memulai hubungan baik dengan mereka. Mereka pun menjadi sangat bingung ketika saya datang.  Saya selalu percaya bila kita bertekad dan berdoa dengan sungguh-sungguh pasti ada jalan untuk mengatasi kesulitan. Keluarga besar yang tadinya tidak mendukung saya menjadi dewa-dewi pelindung. Ayah saya meyakinkan kakak saya untuk meminjamkan uang kepada saya untuk merintis usaha baru. Akhirnya saya berhasil mendapat pinjaman untuk modal usaha kios pulsa dan telepon genggam.  Tetapi banyak sekali rintangan yang harus saya hadapi, terutama mencari lokasi toko yang tepat. Perlahan-lahan karena saya tidak bekerja, uang pinjaman semakin menipis untuk biaya kehidupan keluarga. Setelah mencari sana-sini, saya menemukan dua tempat yang bisa dijadikan pertimbangan, ada satu ruko yang saya suka karena bangunannya bagus, ruko satunya lagi saya tidak suka karena ruko tersebut bangunannya sudah rusak dan jelek. Setelah menunggu beberapa lama, dengan keadaan keuangan yang sudah menipis, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan ruko yang bangunannya jelek dan memulai usaha baru di sana. Saya merintis usaha baru dari nol. Namun dalam perjuangan itu pun saya selalu mengutamakan kegiatan susunan. Sesibuk apapun, saya selalu mengutamakan tugas saya sebagai pemimpin. Kekuatan Gohonzon sangatlah luar biasa. Toko saya pelan-pelan mulai ramai, padahal toko tersebut dulunya sangat sepi karena bangunannya jelek, lokasinya pun kurang bagus. Saya percaya dengan menjadikan Gohonzon dan kegiatan Kosenrufu sebagai pusat kehidupan saya, secara perlahan dan pasti kehidupan saya berubah. Dari modal yang habis dan memesan barang dengan keadaan yang pas-pasan, saya bisa atasi satu per satu kesulitan untuk memajukan usaha saya. Dari awal saya membuka usaha ini, saya tidak pernah berjaga di toko, tetapi karyawan-karyawan sayalah yang berjualan! Saya hanya memesan dan mengatur barang, yang bisa saya lakukan di mana saja, sehingga bisa menjalani kegiatan susunan dan melakukan kunjungan. Bila kita tulus hati menjalani kosenrufu, dewa-dewi pelindung pasti mendukung kita. Bila ada karyawan yang tidak benar, dia akan dengan cepat keluar dengan sendirinya, dan saya tidak pernah susah mendapatkan penggantinya. Semakin kita bergiat untuk kosenrufu, fungsi iblis pasti datang. Ada satu musibah besar ketika Honbu Jawa Barat mengadakan kursus pelatihan, kami sekeluarga menjadi panitia untuk kegiatan tersebut. Satu hari sebelum acara, terjadi banjir besar melanda rumah kontrakan yang kami tempati, sedangkan saat itu kami sudah ada di lokasi kursus pelatihan dalam rangka persiapan acara. Banjir ternyata sudah mencapai leher orang dewasa, tetapi karena kami semua sangat sibuk untuk kegiatan ini, kami sudah tidak ada waktu lagi untuk khawatir dengan keadaan rumah kami. Apapun yang terjadi, kami sekeluarga ingin acara ini berjalan sukses dan anggota-anggota bisa senang. Istri saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Meski para tetangga melarang untuk masuk ke rumah, tetapi dengan susah payah dia menerobos banjir yang sudah sampai leher orang dewasa hanya untuk mengambil Gohonzon, surat-surat berharga dan satu baju batik yang saya kenakan untuk kursus pelatihan. Setelah itu dia kembali lagi ke lokasi acara. Saat itu kami sangat gembira menjalani semua ini karena untuk pertama kalinya kami menjadi tuan rumah walaupun ada bencana besar di depan mata. Rumah dan barang-barang lain tentunya habis karena banjir. Dua bulan setelah kejadian banjir besar tersebut saya mendapatkan rejeki bisa membeli rumah baru pada tahun 2013. Saya pindah dari sebuah rumah kontrakan ke rumah baru. Enam bulan kemudian setelah itu saya mendapatkan lagi rejeki besar dengan membeli satu rumah lagi yang sekarang saya tempati, sehingga rumah pertama yang saya beli saat ini dikontrakan.  Ketika Kita Berubah, Dunia Pun Berubah Saya tidak menyangka dalam waktu 3 tahun saya berhasil mengubah nasib sesuai tekad. Saya mendapatkan penghasilan bulanan yang melebihi doa saya. Saya bisa membeli  dua rumah dan mobil yang saya bayar secara tunai demi kegiatan Kosenrufu. Dulu saya sangatlah serakah dan ingin cepat kaya, tetapi dengan hati kepercayaan ini saya bisa merevolusi diri saya. Bahkan istri dan anak-anak memuji perubahan saya menjadi suami dan ayah yang lebih perhatian dan tidak pemarah. Saya pun selalu mendukung penuh anak-anak saya untuk melakukan kegiatan di susunan. Mereka pun menjadi aktif di kegiatan Soka Gakkai dan mau melaksanakan daimoku pagi dan malam. Bagaimanapun, hati kepercayaan dan revolusi manusia dari orangtua-lah yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Ikeda Sensei memberikan bimbingan berikut, “Bila ada kesulitan besar, maka pasti akan datang kebahagiaan besar”. Karunia dari Gohonzon sangatlah luar biasa. Sebagai manusia sangatlah wajar bila kita menjadi malas bila situasi kehidupan kita yang sudah maju diserang fungsi iblis. Tetapi bila kita selalu ingat akan prasetia untuk tidak mundur dari hati kepercayaan dan komitmen untuk selalu berjuang demi kosenrufu tidak peduli apapun yang terjadi, maka rejeki baik, nyata maupun sunyata, pasti datang melebihi yang kita bayangkan. Setelah kejadian banjir besar, saya berhasil membeli rumah baru yang lebih nyaman dan lokasinya tidak banjir. Bahkan keluarga besar sangat heran dengan perubahan nasib saya, mereka bahkan menganggap saya mendapat gaji besar dari Soka Gakkai. Perjuangan untuk menjalankan kosenrufu juga tidaklah mudah. Saya harus kunjungan anggota ke daerah yang jauh sehingga saya seringkali harus pulang sampai rumah larut malam. Ada satu wilayah namanya Renglas Dengklok. Dulu area tersebut hanya ada satu anggota. Setiap kami melaksanakan daimoku bersama atau pertemuan, hanya pemimpin saja yang datang. Wilayah tersebut sangatlah sulit tantangannya karena banyak anggota yang sudah mundur dari hati kepercayaan sejak lama dan hanya mau di zona nyaman. Bahkan mereka sering membatalkan janji saya secara mendadak. Tetapi saya bertekad justru di tempat yang paling sulitlah saya harus berjuang. Dengan didasari daimoku bersama semua pemimpin dan bersatu hati agar para Bodhisatwa Dari Bumi bermunculan di Renglas Dengklok dan tidak pernah menyerah untuk berjuang, saat ini Renglas Dengklok sudah terbentuk chiku dan memiliki 20 anggota. Sebagai seorang pemimpin, dengan daimokulah kita bisa mengeluarkan kekuatan untuk menyampaikan kata-kata Buddha agar bisa sampai hati ke anggota. Sebagai pemimpin, saya berkomitmen untuk berjuang menjaga dan memperhatikan para anggota. Ini adalah bentuk balas budi saya kepada Gohonzon dan Soka Gakkai yang telah mengubah hidup saya. Pada saat pertemuan kemenangan bulan April 2018 di Pusat, Shibu Karawang juga mendapatkan penghargaan karena berhasil 20 Bodhisatwa Dari Bumi telah muncul dan menjadi anggota Soka Gakkai. Semuanya adalah berkat kerja keras dan kesatuan hati dari empat bagian di Shibu Karawang.  Bimbingan Ikeda Sensei mengatakan, “Ketika kita berubah, dunia pun berubah. Kunci untuk semua perubahan adalah transformasi batin kita — perubahan hati dan pikiran kita. Ini adalah revolusi manusia. Kita semua memiliki kekuatan untuk berubah. Ketika kita menyadari kebenaran ini, kita dapat menghadirkan kekuatan itu di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa pun.”  Dengan mengubah dasar kesesatan pokok jiwa kita, maka pasti kehidupan kita pun ikut berubah baik, baik dari aspek ekonomi maupun hubungan kita dengan orang lain. Saat ini saya bisa sangat memahami dan bisa memberikan bukti nyata dari bimbingan Sensei tersebut. Keluarga saya menjadi harmonis dan hubungan dengan orangtua menjadi sangat baik. Saudara-saudara kandung yang dulunya takut dan tidak percaya dengan saya, sekarang kami memiliki hubungan yang sangat baik. Mereka berubah menjadi mendukung saya, bahkan beberapa di antara mereka sudah menyebut Nam-myoho-renge-kyo. Saya sangat berterima kasih kepada Gohonzon dan mempunyai guru kehidupan Ikeda Sensei yang telah mengubah kehidupan saya, jauh dari saya yang pernah pikirkan sebelumnya. Sungguh luar bisa kekuatan hati kepercayaan ini, jauh melebihi apa yang kita pikirkan!  

Baca Selengkapnya
Hidup Dengan Keberanian
David Surachmat

Ketulusan Sahabat Yang Meyakinkan Saya Mengalami perceraian orangtua di masa Sekolah Menengah Pertama dan juga kehilangan sosok ayah membuat saya berubah menjadi pemuda yang kasar, selalu cemberut, suka mencari perhatian dan suka berburuk sangka kepada orang lain. Saya benar-benar tidak bahagia pada saat itu. Saya terlahir di keluarga yang sangat berkecukupan di Jambi. Namun di sekolah hampir tidak ada satu pun yang mau berteman dengan saya karena sifat saya yang pemarah dan kasar.  Hanya ada seorang teman bernama Jasper yang mau berteman dengan saya dan dia seringkali memberikan dorongan semangat agar tidak menyerah terhadap situasi keluarga saya pada saat itu. Jasper selalu mengajak saya untuk datang ke pertemuan Soka Gakkai di Jambi, bahkan menjemput saya. Saya bisa merasakan ketulusannya yang ingin saya bahagia. Berkat kegigihannya, saya pun memutuskan hadir ke pertemuan untuk pertama kalinya. Saya sangat terkesan dan tersentuh oleh anggota-anggota Soka Gakkai yang selalu menyapa dan berusaha mendekatkan diri ke saya. Seketika saya langsung berpikir saya ingin mencari teman sejati di susunan ini, dan pelan-pelan saya pun mulai aktif di kegiatan Soka Gakkai.  Bukti Nyata Di Awal Melaksanakan Buddhisme Nichiren Setelah aktif di kegiatan Soka Gakkai, saya mulai berubah menjadi sosok yang lebih suka tertawa, ceria dan terbuka dengan pendapat orang lain. Karena bisa bermain gitar, saya diajak untuk membentuk Soka Band dan merekrut teman-teman yang dulu pernah bermain band bersama saya. Saat kelas 3 SMA, menjelang saya harus masuk kuliah, Mama mengatakan bahwa usaha beliau jatuh bangkrut dan memiliki banyak hutang di bank. Kehidupan saya yang suka berfoya-foya dan selalu bepergian dengan mobil akhirnya berubah drastis. Mama harus menjual satu per satu asetnya sebagai jaminan untuk hutang di Bank. Saya stres berat, apalagi saya ingin sekali bisa kuliah di Jakarta dan harus segera daftar masuk ke universitas. Keluarga besar Mama tidak berniat membantu, karena khawatir uang bantuan mereka untuk kuliah digunakan saya untuk berfoya-foya. Kekhawatiran ini muncul akibat kebiasaan hidup saya yang sudah enak dari kecil.  Saya meminta bimbingan seorang senior Soka Gakkai di Jambi, Junaidi. Dorongan semangatnya membuat saya sangat terharu dan terisak. Dia mengatakan “ David, jika kamu harus berjalan 100 langkah untuk melewati masalah ini, maka asal kamu memberanikan diri maju satu langkah saja untuk berjuang mengatasi masalah tersebut, saya akan menemanimu berjalan 99 langkah berikutnya. Saya mengerti tidak mudah untuk memiliki keberanian maju satu langkah saja. Oleh karena itu kamu harus menyebut daimoku. Kamu tidak perlu khawatir karena saya pasti akan berjuang bersamamu”.   Sejak itu, saya selalu menyebut daimoku 1 jam setiap harinya di kaikan bersama senior itu. Saya bertekad jika bisa kuliah di Jakarta, saya pasti akan kosenrufu di Jakarta. Meskipun saya mengetahui kondisi Mama saya sangat susah, terkadang hanya ada uang Rp 20.000,- di dompet Mama saya, saya bertekad dalam hati untuk bagaimana pun saya harus bisa kuliah di Jakarta. Saya mulai memikirkan cara untuk membantu Mama kebutuhan sehari-hari. Tiba-tiba salah satu perusahaan rekaman di Jambi  ingin merekam lagu ciptaan band kami untuk dijadikan nada dering ponsel salah satu provider telekomunikasi terkenal di Indonesia. Saya pun mendapat penghasilan yang bisa meringankan kebutuhan hidup sehari-hari Saya dan Mama lewat musik.  Keinginan untuk kuliah di Jakarta membuat saya terus menyebut daimoku dan memberanikan diri untuk mendaftar jalur beasiswa jurusan teknik sipil di salah satu universitas di Jakarta. Dan saya berhasil mendapatkan beasiswa dengan hanya perlu membayar setengah biaya kuliah. Saya sangat senang mendapat kabar tersebut namun juga cemas karena dana untuk kuliah masih belum terkumpul. Saya terus menyebut daimoku setiap harinya di hadapan Gohonzon dan membaca buku Discussion on Youth dari IkedaSensei. Ada satu bimbingan beliau yang tertanam dalam hati saya: “Mereka yang pemberani memiliki kekuatan untuk tabah menghadapi pasang surut kehidupan dengan tenang dan bergerak maju menuju puncak sasaran dan impian mereka dengan mantap. Keberanian adalah aset yang sangat hebat. Mereka yang tidak mempunyai keberanian tidak sanggup mengabdikan diri untuk kebahagiaan orang lain dan juga tidak mampu memperbaiki diri atau mencapai sesuatu yang penting atau bertahan seakan-akan mesin mereka sudah rusak.” Saya terus bertekad untuk bisa menang dalam menghadapi situasi apapun dalam kehidupan saya, Tiga hari sebelum tenggat pelunasan uang kuliah, Mama mendapat pesanan 6 drum aspal dari seorang pelanggannya, dan hasil dari penjualan tersebut akhirnya bisa digunakan untuk melunasi biaya masuk kuliah. Bukti nyata hati kepercayaan ini membuat saya begitu gembira dan bisa merasakan betapa hebatnya Buddhisme Nichiren Daishonin. Saya pun memantapkan hati untuk terus berjuang demi kosenrufu di mana pun saya berada. Menantang Diri Menunjukkan Bukti Nyata  Tantangan terus hadir dalam kehidupan saya. Dengan keuangan yang pas-pas-an, hidup saya di Jakarta sangat sulit untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun berkat hati kepercayaan yang luar biasa ini, tante saya diam-diam memperhatikan perubahan saya dan mengatakan, “David sudah banyak berubah ya”. Pada suatu hari, kakek saya di Jambi yang dulunya menentang saya untuk kuliah di Jakarta menelepon saya, “Kalau perlu apa-apa jangan segan-segan memberi tahu kakek”. Saya pun tercengang. Beliau telah menjadi kekuatan pelindung tatkala Mama tidak sanggup membayar uang kuliah semester dua dengan membiayai kuliah saya saat itu. Saat saya pulang ke Jambi di kala liburan, bertemu Papa. Saya menceritakan tentang Soka Gakkai dan mengajaknya juga untuk datang ke pertemuan Soka Gakkai. Saat itu Papa sedang mengalami kebangkrutan bisnis. Satu per satu kendaraan terpaksa dijual. Saya terdorong untuk mengenalkan Buddhisme Daishonin kepada orangtua saya agar mereka bisa mengatasi permasalahan dalam hidup dengan hati kepercayaan ini. Akhirnya, Papa setuju untuk menghadiri pertemuan dan ternyata salah satu sepupu Papa adalah anggota Soka Gakkai. Papa akhirnya menerima Gohonzon pada 2016, setahun setelah saya menerima Gohonzon 2015. Sampai sekarang beliau masih aktif di kegiatan Soka Gakkai. Ini merupakan satu kemenangan dalam hidup saya. Dengan tekad harus bisa memberikan bukti nyata dan menunjukkan revolusi manusia dalam kehidupan demi men-shakubuku teman-teman saya yang sedang menderita, saya pun berhasil mengajak dua sahabat untuk menjadi anggota Soka Gakkai. Kami seringkali mengajak teman-teman baru untuk datang ke pertemuan Soka Gakkai di Jakarta. Saya juga mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai kehidupan di Jakarta. Saya berdoa secara mendetail untuk nilai gaji dan lokasi pekerjaan yang saya ingin. Tiba-tiba saya mendapat tawaran untuk mengajar les di salah satu tempat kursus di Jakarta. Meski awalnya takut dan cemas, lagi-lagi bimbingan senior memberi saya keberanian, “David, kamu pasti bisa! Meski awalnya tidak berhasil, namun secara perlahan saya belajar menjadi pengajar yang baik hari demi hari dan menciptakan suasana belajar yang tidak membebani murid, apalagi mata pelajaran yang saya ajarkan adalah Matematika dan Fisika. Saya memahami betapa lelahnya mereka harus sekolah dari pagi hingga pukul 3 sore, lalu langsung les dengan saya. Karena itu saya mulai mendekatkan diri kepada mereka untuk mengurangi stres dan membuat suasana belajar yang menyenangkan bagi mereka. Mereka pun mulai membuka hati kepada saya mengenai masalah di sekolah maupun kehidupan.  Saya selalu membawa buku Discussion on Youth sebagai pegangan untuk berbagi bimbingan Ikeda Sensei kepada mereka. Tantangan pun datang ketika pemilik bimbingan belajar meminta saya untuk mengajar di pusat. Hal ini berarti jarak tempuh sehari-hari akan semakin jauh dan jadwal saya akan semakin padat. Saya merasa terbebani. Setiap hari saya harus bangun pukul 5 pagi, lalu menjalani kuliah hingga sore, dan pergi mengajar les pada malam hari. Setiap hari saya hanya tidur selama tiga jam dan daimoku pun hanya bisa di malam hari. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti. Namun saya tidak menduga para murid mogok belajar karena saya tidak ada. Pemilik bimbingan belajar akhirnya memberi saya kebebasan untuk memilih waktu mengajar, yang penting saya tidak berhenti dan terus mengajar. Ini sungguh karunia yang luar biasa.  Saya menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli buku Discussion on Youth dan menghadiahkannya kepada teman-teman lainnya. Dengan membaca buku ini, saya semakin dekat dengan Ikeda Sensei, dan hidup saya pun berubah karenanya. Seperti yang dikatakan Nichiren Daishonin :  “Meski saya dan murid-murid bertemu berbagai kesulitan, jika kami tidak menyimpan keraguan dalam hati, maka kami pasti akan memperoleh Kebuddhaan. Janganlah ragu hanya karena langit tidak memberikan perlindungan. Janganlah patah semangat karena tidak menikmati kehidupan yang mudah dan mapan. Inilah apa yang telah saya ajarkan ke murid-murid saya pagi dan malam, namun tetap saja mereka mulai menyimpan keraguan dan meninggalkan hati kepercayaan mereka. Orang-orang bodoh kemungkinan besar akan melupakan janji-janji mereka ketika momen-momen yang menentukan tiba” (“Surat Membuka Mata”, WND-1, hlm. 283)  Saya bertekad untuk bisa melakukan banyak dialog dengan teman-teman mahasiswa dan menjadi sosok di belakang layar yang bisa memberikan dorongan semangat kepada orang lain dan berjuang bersama mereka melalui hati kepercayaan ini.  

Baca Selengkapnya
Menciptakan Harapan Dalam Kehidupan
Leonardo Pratama

Saya terlahir di keluarga yang sudah memeluk hati kepercayaan Buddhisme Nichiren sejak tahun 1975. Masa-masa akhir sekolah dasar dan awal sekolah menengah atas menjadi salah satu kenangan terburuk dalam hidup saya. Saya sering mengalami perundungan (Ing. bullying) dan dihindari oleh banyak teman-teman karena sikap dan penampilan saya. Mama mencoba melakukan sesuatu pada awalnya, seperti datang ke sekolah dan berbicara dengan guru, tetapi tidak ada tindakan apapun dari sekolah. Hal ini membuat saya sangat stres dan mencari pelarian dengan membaca manga (komik Jepang) dan bermain game online di komputer. Kedua hal ini akhirnya memberikan efek yang negatif dalam kehidupan saya. Saya begitu menikmatinya dan membantu saya melupakan apa yang terjadi di sekolah. Nilai sekolah saya menurun dan orangtua pun sering memarahi saya yang sudah tidak disiplin dan hanya bermain saja. Setiap harinya, saya dirundung secara fisik seperti dipukul dan ditendang, ataupun secara mental seperti dihina dan diancam di sekolah. Depresi menghantam saya dengan sangat keras, di bawah tekanan teman-teman disekolah, dan ditambah dengan penyakit alergi dermatitis atopik yang saya derita, yang membuat kulit saya sakit dan gatal dimana-mana, saya merasa tidak ada gunanya lagi hidup seperti ini. Perlahan-lahan saya mulai menutup diri dari teman-teman, keluarga, dan lingkungan. Ada saat ketika saya berpikir lebih baik saya bunuh diri, tetapi saya mengurungkan niat karena takut. Pada akhirnya saya pun mulai menggunakan lebih banyak waktu saya untuk membaca komik dan bermain game. Di saat ini, Mama saya juga mulai menyuruh saya untuk berdaimoku, tetapi saya merasa sangat malas dan tidak yakin dengan kekuatan Gohonzon. Tetapi entah mengapa saya suka  membaca buku sejarah Soka Gakkai dan majalah bulanan Soka Spirit, majalah bulanan Soka Gakkai. Dengan membaca bimbingan yang ada di Soka Spirit, saya bisa merasakan bagaimana Buddhisme ini mengajarkan untuk tidak menyerah, dan terus maju tanpa rasa takut. Hal ini memberikan saya kekuatan untuk bertahan di masa-masa sulit di sekolah, dan perlahan-lahan semua berubah menjadi lebih baik. Meskipun begitu, saya merasa seperti di jalan yang berkabut tanpa tahu arah dan tujuan saya. Di tahun 2012, berkat usaha keras para pimpinan ibu Honbu 3 DKI Jakarta, Mama saya mau kembali aktif di susunan Soka Gakkai. Sejak itu, masalah-masalah yang tidak tampak di permukaan pun bermunculan, harga sewa ruko yang terus bertambah tiap tahunnya membuat kami tidak ada pilihan lain selain pindah. Mama pun berdaimoku dengan sekuat tenaga dan pada akhirnya kami mencapai kemenangan pertama setelah kembali ke Soka Gakkai, yaitu berhasil membeli ruko menggunakan kredit bank dengan harga yang terbilang sangat murah, dari yang sebelumnya hanya sewa ruko. Saya pun mulai ikut berbagai kegiatan generasi muda, dan menyebut daimoku Di tahun ke 3 SMP, saya mulai tertarik dengan film animasi Jepang. Di sinilah awal dari keinginan kuat saya untuk pergi ke Jepang meskipun tidak tahu bagaimana caranya. Tanpa disadari, masalah besar yang mengubah hidup saya pun datang. Saat sedang berada di rumah, saya melihat orangtua saya sedang berdebat dan mendengar bahwa keluarga kami ternyata sedang menghadapi masalah ekonomi yang sangat besar. Melihat hal ini di depan mata saya, pikiran saya menjadi kosong, dan tidak tahu harus berbuat apa. Terlintas di pikiran saya “Apakah ini akhir dari semuanya?” “Apakah sudah tidak ada harapan lagi?” Saat pikiran-pikiran negatif itu muncul,  saya berlari ke arah Gohonzon dan mulai berdaimoku karena secara reflek hati saya tahu kalau saya membutuhkan kekuatan Gohonzon. Setelah itu saya langsung kembali ke kamar orangtua saya dan menghentikan mereka berdebat, dan mengajak mereka berdua berdaimoku bersama. Itu adalah daimoku pertama Papa setelah lebih dari 10 tahun. Begitu Papa dan Mama kembali tenang, saya membiarkan mereka untuk beristirahat dan tidak memikirkan masalah ini dahulu. Sejak saat itu, dunia saya berubah untuk selamanya. Saya memutuskan dan bertekad dalam hati bahwa saya sudah tidak bisa membebani orangtua lagi, dan sudah tidak bisa bersikap egois lagi untuk meminta sesuatu yang berhubungan dengan uang. Saya harus berusaha sebaik mungkin untuk tidak membuat orangtua saya stres. Sejak itu, saya berusaha menjaga agar nilai saya di sekolah terus di atas rata-rata atau bahkan melebihi itu. Saya berusaha untuk tidak membuat orangtua saya khawatir terhadap ranking ataupun keadaan saya. Perlahan keinginan saya untuk bisa belajar di Jepang semakin membesar. Saya pun membaca bimbingan Ikeda Sensei yang didasarkan pada Gosho Nichiren Daishonin: “Jika kita tidak bangkit untuk menantang diri kita sekarang, kapan lagi?” Terpacu oleh kata-kata tersebut, saya mulai mencari tahu informasi untuk pergi ke Jepang, termasuk informasi beasiswa. Di awal tahun 2015, saya pun pergi ke kaikan untuk mengikuti seminar dari Universitas Soka di Jepang. Saat itu saya mulai bertekad ingin ke Universitas Soka Jepang. Saya sadar keadaan ekonomi keluarga kami sangat sulit, oleh karena itu saya harus berjuang keras untuk melamar beasiswa ke universitas-universitas lain di Jepang, tetapi pilihan utama saya adalah Universitas Soka. Saya pun bergiat belajar di sekolah demi menjaga nilai dan untuk menambah pengetahuan saya lebih dalam. Walaupun begitu, masalah tetap tidak terhindarkan. Masalah ekonomi semakin membesar, hubungan dengan orang lain di sekolah dan alergi yang memburuk, dan stres dari berbagai masalah yang datang. Saya mulai meluangkan waktu untuk menyebut daimoku dan membaca cerita pengalaman orang-orang lewat Soka Spirit sebanyak mungkin. Saya merasa dengan membaca cerita mereka, motivasi saya diperkuat dan saya semakin yakin dengan target saya sendiri. Di pertengahan tahun 2015 setelah kenaikan kelas, saya mulai melakukan Praktik Kerja Lapangan selama 2 bulan setengah dan dalam kurun waktu itu, saya mulai belajar bahasa Jepang secara otodidak dengan ponsel setiap hari. Saya juga belajar bahasa Jepang dari menonton animasi Jepang. Dalam waktu 2 bulan setengah tersebut, kemampuan bahasa Jepang saya cukup meningkat dan tanpa waktu lama, saya langsung menerobos untuk mengambil Japanese Language Proficiency Test atau JLPT level N4, dan saya berhasil lulus tes. Di tengah perjalanan, keraguan kembali muncul. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, apa yang benar-benar saya inginkan? Mengapa saya ingin kuliah di Jepang? Tidak Ada Doa Yang Tidak Terkabulkan Meskipun awalnya saya tidak tahu, tetapi perlahan-lahan, semuanya menjadi lebih jelas melalui perjuangan saya untuk Kosenrufu. Di saat saya menghadapi berbagai masalah di sekolah menjelang akhir 2015, saya pun berdaimoku, membaca Soka Spirit dan sebisa mungkin berpartisipasi dalam kegiatan SGI. Perlahan-lahan saya merasa misi saya terbangkitkan sebagai Bodhisatwa Muncul Dari Bumi untuk menyebarkan Hukum Gaib dan juga harus berjuang untuk kebahagiaan orang lain. Begitu saya menyadari hal ini, saya akhirnya berhasil menemukan tujuan hidup yaitu untuk Kosenrufu. Saya juga bertekad untuk membalas budi kepada Ikeda Sensei dan melaporkan kemenangan saya ke Sensei dengan bukti nyata. Nichiren Daishonin mengatakan “Dengan daimoku, tiada doa yang tak terkabulkan”. Sejak membaca bimbingan tersebut, saya pun bertekad untuk menyebut daimoku setiap hari selama 1 jam  dam menulis tekad saya. Saya pun mulai menjadi lebih positif dan yakin bahwa saya bisa mengubah kondisi saya menjadi lebih baik. Semakin bertekad, fungsi iblis pasti akan muncul. Sesaat sebelum Ujian Nasional, saya jatuh sakit dan terkena penyakit hepatitis A. Akibatnya, ujian saya menjadi tertunda dan saya harus dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu karena seringkali saya makan di warteg demi menghemat dan kurang tidur. Tentu saja, hal ini membuat saya cukup patah semangat karena ini bisa mempengaruhi nilai saya untuk mendaftar di ke Universitas Soka. Saya pun menyebut daimoku dan beristirahat sebanyak mungkin demi memulihkan kesehatan. Berkat hal ini, saya bisa mengikuti Ujian Nasional susulan dengan nilai memuaskan dan berhasil meraih nilai Ujian Nasional bahasa Inggris tertinggi di sekolah dengan nilai 98. Setelah lulus, saya mulai lebih fokus terhadap persiapan untuk pergi ke Jepang. Saya juga berusaha untuk lebih aktif di pertemuan SGI dan lebih giat menyebut daimoku. Tidak lama kemudian, saya kembali ditimpa musibah. Saat sedang mengendarai motor selagi membawa barang pesanan toko, saya menabrak angkot dengan cukup keras dan pingsan. Kepala saya dan tubuh saya terbentur cukup keras dan mungkin bila tidak ada helm, saya mungkin sudah tidak ada di dunia ini. Meskipun begitu, saya benar-benar merasa kekuatan Gohonzon dan dewa-dewi yang melindungi saya. Gaibnya, walaupun saya tertabrak cukup keras, tidak ada dampak buruk terhadap kepala saya saat di rontgen. Hari itu, saya benar-benar berterima kasih terhadap Gohonzon.Sejak saat itu saya merasa lebih bersemangat dan bisa menyebut daimoku lebih banyak. Daimoku yang awalnya terasa berat, perlahan-lahan menjadi menyenangkan dan membuat saya nyaman. Saya juga semakin berjuang di kegiatan-kegiatan mahasiswa. Saya pun mulai mempersiapkan berbagai dokumen untuk mendaftar sebelum tenggat waktu dari Universitas Soka Jepang, dan juga mengambil tes-tes yang harus dijalani. Saya baru mengetahui bahwa uang jaminan harus masuk sebelum tenggat waktu. Kami sekeluarga bingung bagaimana bisa mendapatkan uang jaminan yang cukup besar bagi kami. Mama dan saya berdaimoku mati-matian untuk mendapatkan jalan keluar dan akhirnya dua hari sebelum tenggat kami berhasil mengumpulkan uang jaminan. Tekanan untuk melawan kelemahan diri sendiri yang terkadang merasa ragu dan cemas apakah dapat diterima di Universitas Soka Jepang juga muncul. Tetapi upaya melawan kelemahan diri sendiri membuat saya semakin rajin menyebut daimoku, dari yang sebelumnya hanya satu jam menjadi dua jam. Tekad saya semakin kuat dan saya semakin yakin pasti dapat diterima oleh Universitas Soka Jepang dan mendapatkan beasiswa penuh. Tidak peduli apapun yang terjadi saya harus membuktikan kekuatan Gohonzon. Salah satu kutipan dari bimbingan Sensei yang saya baca, “Doa dengan tekad kuat akan menggerakkan seluruh alam semesta dan dewa – dewi pelindung untuk mendukung saya.” Pada 8 Desember, ketika kedua orangtua saya sedang pergi, saya tiba-tiba mendapatkan surel pengumuman dari Universitas Soka. Jantung saya berdegup sangat keras. Namun semua itu berubah menjadi tangis bahagia yang penuh rasa terima kasih ketika saya membaca bahwa saya diterima dan mendapat beasiswa penuh! Saya segera membuka butsudan dan menyebut daimoku. Lalu saya menelepon Mama dan kami menangis gembira bersama-sama. Tantangan yang datang tidak sampai di situ saja. Saya harus menyiapkan uang untuk membayar uang sekolah dan berbagai hal lain yang harus dipersiapkan. Tentu saja, awalnya terlihat mustahil, bahkan Mama mulai putus asa melihat banyaknya hal yang harus dipersiapkan. Akan tetapi, saya percaya dan yakin kami pasti menang. Dan pada akhirnya tantangan pun kami berhasil atasi satu per satu. Semua ini tidak akan tercapai tanpa dukungan dari teman-teman seperjuangan di Soka Gakkai. Mereka mengirimkan daimoku dan memberikan semangat kepada saya. Gohonzon sudah membuka jalan untuk saya. Saya bertekad untuk berjuang demi kosenrufu dunia sebaik mungkin. Saya mulai menyadari bahwa masalah-masalah yang saya hadapi membuat saya lebih kuat dan begitu juga hubungan pertemanan dengan teman-teman saya. Sekarang, sudah lebih dari 5 bulan saya di Jepang. Hari-hari saya menjadi sangatlah menyenangkan dan membuat saya bisa menjadi lebih siap untuk menghadapi masalah-masalah yang saya miliki. Saya tidak menyangka hidup saya akan berubah menjadi seperti sekarang. Terima Gohonzon! Terima kasih Sensei! Terima kasih Soka Gakkai!

Baca Selengkapnya
Mengubah Penderitaan Menjadi Misi Hidup
Ida Gbodossou Adjevi

Ida Gbodossou Adjevi, Direktur Umum SGI-Togo, berbagi pengalamannya menggunakan Buddhisme untuk mengembangkan kemampuannya dalam membantu ibu dan anak-anak Togo terletak di sebelah utara Khatulistiwa. Ikeda Sensei menyebut Togo sebagai ‘mutiara Afrika Barat’.1 Togo adalah negara dengan keindahan agung yang dikelilingi oleh alam yang luar biasa. Saya tumbuh dalam keluarga yang sangat besar dengan dua puluh tiga kakak beradik. Salah satu kakak perempuanku adalah perawat dan ketika saya masih kecil, dia memicu minat saya di bidang kedokteran. Saya khususnya, sangat tersentuh oleh ibu-ibu yang terkadang kehilangan nyawa saat melahirkan karena perawatan medis yang tidak memadai. Saya belajar dengan penuh semangat, didorong oleh tekad untuk mendukung kaum wanita selama masa ini. Setelah menyelesaikan A-Level pada tahun 1968, saya dapat melanjutkan studi di bidang kedokteran di sebuah universitas di Perancis dengan beasiswa negara dari Dakar di Senegal. Pada tahun 1978, saya sangat beruntung bisa melahirkan putra pertama. Kami tidak pernah melihat ayahnya karena dia tinggal terlalu jauh. Tidak mungkin berbagi masa depan dengannya, jadi saya memilih untuk membesarkan sendiri putra saya, sebagai orang tua tunggal. Untuk mendapatkan penghasilan, saya bekerja di instansi medis dan melupakan studi untuk menjadi seorang dokter yang telah saya impikan. Saya akan menitipkan putra saya di tempat penitipan bayi pada jam 6 pagi dan menjemputnya kembali pada jam 8 malam. Pada saat itulah pemilik penitipan bayi putra saya mengundang saya ke pertemuan diskusi SGI. Saya pernah mendengar tentang Buddhisme jadi saya ikut. Sambutan yang hangat dan getaran suara daimoku benar-benar menyentuh saya. Saya memutuskan untuk memulai pelaksanaan hati kepercayaan ini pada saat itu juga. Pada Juni 1980, saya menerima Gohonzon. Melalui penyebutan daimoku saya dapat menyelesaikan gelar doktor (PhD) di bidang kedokteran. Rejeki kedua saya datang pada bulan Januari 1980 ketika saya bertemu dengan suami, yang mulai melaksanakan tepat pada saat bersamaan dengan saya. Kami menikah pada bulan Oktober 1981 dan kembali ke Togo pada tahun 1982. Saya mulai bekerja di departemen ginekologi rumah sakit di Universitas Lome. Di sanalah saya bisa mengenalkan orang pada Buddhisme untuk pertama kalinya. Hanya ada sedikit anggota di Togo pada saat itu dan selain dari suami, saya tidak mengenal siapa pun yang melaksanakan hati kepercayaan ini. Jadi saya hanya berbicara mengenai Buddhisme kepada satu orang dan kemudian yang lain dan terus melanjutkan. Jumlah orang yang berdaimoku mulai meningkat sedikit demi sedikit. Dua anggota pindah dari London ke Togo dan kami berhasil mengadakan pertemuan diskusi pertama pada 1 April 1984. Saya ingin mengatakan bahwa gerakan kosenrufu di Togo dimulai dari dua puluh orang yang menghadiri pertemuan ini. Didorong oleh tekad yang kuat, kami berkomitmen untuk mempelajari tulisan-tulisan Nichiren Daishonin dan mengadakan pertemuan pertukaran dengan anggota negara tetangga, Ghana. Pada saat inilah, badai rintangan muncul dan mulai menyerang saya. Putra ketiga saya meninggal saat dilahirkan. Saya mencoba melupakan semuanya, tetapi ketika saya pulang dari rumah sakit dan melihat ayunan bayi yang kosong, saya benar-benar hancur. Saya merasa sangat sulit untuk menyebut daimoku. Saya harus terus mengingatkan diri bahwa saya hanya seorang manusia bukan dokter atau pemimpin kosenrufu. Saya menyadari bahwa mengatasi kesedihan yang luar biasa ini akan mengubah hidup saya dan juga berdampak pada kehidupan masa mendatang putra saya. Saya bertekad belajar dan menggunakan seluruh badan dan pikiran saya untuk mengatasinya setiap hari. Momen Chiku pertama terbentuk di Togo pada tahun 1992 terukir dalam hati saya selamanya. Juga ada perubahan signifikan dalam pekerjaan saya di tahun 1999. Orang yang menghargai perawatan saya sehubungan dengan kesejahteraan ibu dan anak-anak merekomendasikan agar saya membuka klinik ginekologi di ibukota, Lome. Saya menamai klinik baru ‘Myoren Clinic’ karena saya ingin memberinya makna simbolis dan menunjukkan bahwa kami adalah entitas Myoho-renge-kyo. Karena saya mengalami sendiri pengalaman yang sangat menyakitkan, saya benar-benar mencurahkan perhatian penuh kepada pasien yang berkonsultasi karena saya tidak ingin mengabaikan gejala apapun dan selalu ingin mendukung para ibu yang sangat tertekan. Reputasi saya mulai meningkat dan wanita hamil mulai berdatangan ke klinik saya dari segala penjuru Togo. Rumah sakit nasional bahkan mengusulkan untuk berkolaborasi dengan saya dan telah meminta saya berbagi pengalaman untuk mengembangkan kemajuan teknologi medis, yang akan melindungi nyawa perempuan dan anak-anak. Kami akhirnya melihat pengembangan kursus pelatihan bagi tenaga ahli wanita. Reputasi klinik saya juga menarik perhatian sebuah saluran televisi nasional, yang menginginkan saya tampil pada program untuk menjawab berbagai pertanyaan medis. Saya menjawab semua pertanyaan dari penonton dengan ketulusan hati. Program televisi tersebut sangat dipuji dan telah menjadi tayangan 30 menit tetap setiap hari Rabu dan Jumat. Penonton televisi memanggil saya ‘Mama Ida’. Program ini sekarang ditayangkan melalui satelit sehingga pertanyaannya datang dari Pantai Gading, Kamerun, Burkina Faso dan bekas koloni Perancis di Afrika, dan juga dari Eropa, Amerika Serikat dan Asia. Mengetahui telah membantu ibu-ibu di seluruh dunia telah membuat saya sangat bahagia dan memberi saya manfaat besar. SGI-Togo terus berkembang dengan kuat saat ini dan memiliki gedung kantor pusat administrasi dan tiga belas pusat regional lainnya. Pada bulan Maret 2016, pembangunan ‘pusat nasional SGI-Togo’ telah selesai. Upacara pembukaan tersebut mendapat sambutan hangat karena kehadiran kepala negara dan anggota-anggota dari negara tetangga. Satu per satu kami telah menyebarkan Hukum Gaib dan telah melihat perkembangan besar dalam jumlah anggota. Kami memulai gerakan untuk kosenrufu tiga puluh lima tahun yang lalu dari satu orang dan sekarang ada lebih dari 2.700 anggota di Togo. Waktunya telah tiba bagi abad baru Afrika, seperti yang dikatakan Ikeda Sensei.  Saya yakin bahwa orang-orang menunggu Buddhisme Nichiren, untuk kebahagiaan dan keadilan bagi Afrika. Dengan menggunakan bimbingan humanistik Presiden Ikeda sebagai dasar, kita tidak akan gagal menarik sejumlah besar generasi muda, yang akan memungkinkan kita membangun kebahagiaan dan menciptakan era baru kosenrufu di seluruh dunia.   Sumber: Art of Living, Agustus 2017   1 Terjemahan Tentatif Ida (baris ketiga, ketiga dari kiri) pada pertemuan di Jepang, 2017

Baca Selengkapnya
Saya Tidak Akan Menyerah!
Ruslan ( A Tie )

Interview Seikyo Shimbun dengan Perintis Soka Gakkai di Batam   Seikyo Shimbun : Terima kasih, Bapak A tie, telah meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman anda kepada kami. Bagaimana anda bisa mulai mengikuti hati kepercayaan ini? Bapak A tie : Saya lahir di Batam dan saya mulai menganut hati kepercayaan ini di tahun 1983. Awal mulanya, pada tahun 1980-an bisnis saya sangat sulit. Walaupun mendapatkan banyak uang, pengeluaran juga sangat banyak. Suatu hari saya bertemu dengan seorang bapak yang mengatakan, “Pak A tie, saya lihat usaha kamu sangat susah. Kamu sebut Nam-myoho-renge-kyo saja”. Lalu saya tanyakan ke dia, “Apa itu Nam-myoho-rengke-kyo? Saya belum pernah dengar dan tidak tahu itu agama apa.” Tetapi karena si bapak ini ternyata juga baru mengenal Buddhisme ini, dia pun tidak bisa menjelaskannya kepada saya. Dia hanya berkata, “Pokoknya sangat bagus!” Saya hanya berterima kasih padanya, tetapi saya tidak percaya dan mengerti. Kemudian pada tahun 1981-1982 kakak saya datang dari Singapura, dan ternyata dia sudah menjadi anggota Soka Gakkai di sana. Dia berkata kepada saya: “Kamu sebut Nam-myoho-renge-kyo saja.”   Seikyo Shimbun: Setelah kakak anda menganjurkan untuk menyebut Nam-myoho-renge-kyo, apakah Bapak langsung percaya ? Bapak A tie : Saya tidak percaya. Saya bahkan meragukan dan bertanya kepada kakak saya, “Apa yang membuat kekuatan Nam-myoho-renge-kyo begitu luar biasa?”.   Seikyo Shimbun : Lalu, apa yang membuat Pak A tie mulai mau menyebut Nam-myoho-renge-kyo? Bapak A tie :  Tidak lama kemudian kakak saya datang lagi, kemudian dia kasih jawaban ke saya. “ Kalau kamu sebut Nam-myoho-renge-kyo ini kamu bisa rubah nasib”! Lalu setelah mendengar jawaban tersebut saya langsung berpikir, “ Saya sudah 40 tahun hidup seperti ini tidak ada perubahan dalam kehidupan saya”. Saya pun akhirnya mulai mencoba menyebut Nam-myoho-renge-kyo”.   Seikyo Shimbun : Setelah Bapak menyebut Nam-myoho-renge-kyo, apa yang anda rasakan? Bapak A tie : Jadi waktu saya baru saja memulai hati kepercayaan ini selama 6 bulan tiba-tiba saya mengalami sakit perut yang luar biasa dan hampir merenggut nyawa saya. Tidak jelas apa penyakitnya tetapi sangat sakit sekali. Akhirnya saya pun tidak ingin melanjutkan hati kepercayaan ini. Mendengar hal ini, kakak saya buru-buru menjumpai saya, dan berkata “ Kamu tidak boleh melepaskan hati kepercayaan ini, dengan daimoku baru kamu bisa rubah nasib”. Saya pun akhirnya berdaimoku kembali, dan sakit perut saya pun sembuh.   Seikyo Shimbun : Selama anda memeluk hati kepercayaan ini, perjuangan apa yang paling sulit dihadapi ? Bapak A tie : Semenjak saya memeluk hati kepercayaan ini, saya pun mengikuti kegiatan di susunan yang lama di Batam, saat itu Soka Gakkai belum terbentuk di Batam. Waktu saya ikut pertemuan, saya sama sekali tidak bisa mengerti bahasa indonesia, saya hanya mengerti bahasa Teo Chew. Saya sungguh tidak mengerti pelajaran Gosho selama 6 tahun, ada anggota yang cerita pengalaman pun saya tidak mengerti karena saya benar-benar tidak bisa bahasa Indonesia. Selama 6 tahun juga saya hanya bisa berdaimoku menghadap tembok.   Seikyo Shimbun : Lalu, bagaimana selanjutnya? Bapak A tie : Pada tahun 1989 saya akhirnya menerima Gohonzon. Tahun 1990 saya mulai mengikuti pertemuan chiku susunan Soka Gakkai di Singapura, karena disana ada pertemuan chiku dibagi dari berbagai bahasa seperti ada tempat pertemuan chiku untuk anggota yang hanya mengerti Teo Chew,  ada tempat pertemuan khusus mandarin, dan juga inggris. Setiap sebulan 2 kali saya pergi ke Singapura menggunakan kapal ferry untuk pergi mengikuti pertemuan. Akhirnya saya bisa belajar dan memahami Gosho, serta cerita pengalaman anggota. Saya pun sangat gembira akhirnya bisa mendengar dan mengerti bimbingan dari Ikeda Sensei, hal yang hanya saya pelajari di susunan Soka Gakkai Singapura pada saat itu. Dari situlah akhirnya saya mulai semakin tambah semangat untuk belajar dan melaksanakan hati kepercayaan ini.  Sejak kecil saya tidak bisa menulis dan membaca, karena keinginan saya untuk bisa membaca Gosho sangat kuat, saya pun mulai belajar bahasa mandarin secara otodidak dari kamus, buku-buku mandarin, dsbnya. Saya mengikuti pertemuan chiku bolak-balik selama 7 tahun ke Singapura.   Seikyo Shimbun : Sungguh perjuangan yang luar biasa! Lalu, apakah anda pernah mengalami kesulitan terbesar dalam hidup yang pernah anda hadapi? Bapak A tie : Awal pertamakali saya memeluk hati kepercayaan ini rumah saya kebakaran pada tahun 1983, kemudian kejadian yang sama berulang pada tahun 1984 rumah, toko sembako dan galangan kapal juga habis ludes terbakar, kemudian pada tahun 1990-an untuk ketiga kalinya rumah saya kembali mengalami kebakaran. Memeluk hati kepercayaan selama 11 tahun 3 rumah habis terbakar. Dulu rumah saya masih terbuat kayu dan di tepi pantai, jadi bila ada satu rumah tetangga terbakar, rumah di kiri kanannya pun akan ikut terbakar. Dalam kondisi kelam tersebut saya pun tidak mundur dari hati kepercayaan   Seikyo Shimbun : Luar biasa sekali. Mengapa Bapak A tie bisa tetap mempertahankan hati kepercayaan walaupun berkali-kali menghadapi musibah tersebut? Bp. A tie : Saya juga heran mengapa saya tidak berkeinginan sama sekali untuk mundur walaupun saya sudah mengalami 3 kali kebakaran rumah.  Di dalam hati saya terus berkata pokoknya harus menang melawan 7 rintangan 4 iblis. Apapun yang terjadi saya bertekad untuk tidak pernah menyerah dari hati kepercayaan ini.  Saya juga tidak mengeluh dan kecewa, dan tidak pernah menyalahkan lingkungan. Sebenarnya saya bisa saja marah dengan mengatakan “ Mengapa saya memeluk Buddhisme ini tetapi 3 rumah saya habis terbakar”. Tetapi perasaan marah dan kecewa seperti itu tidak ada di hati saya. Saya mengerti inilah karma saya dan bisa menerimanya. Sejak kejadian tersebut saya berdaimoku setiap hari konsisten tidak pernah kurang dari 1 jam sampai hari ini. Saya tidak pernah lepas dari gongyo daimoku. Lalu saya pun berdoa agar saya memilki rejeki untuk bisa membeli ruko untuk berdagang dan membesarkan anak-anak. Tidak lama kemudian pada tahun 1987 doa saya terwujud akhirnya saya dapat membeli ruko 3 lantai. Awalnya saya menyewa ruko tersebut untuk tinggal dari teman baik saya, lalu tiba-tiba teman baik saya menawarkan,” Kamu mau membeli ruko ini tidak?” kemudian saya bilang, “Bagaimana saya bisa beli ruko kamu, saya tidak punya uang untuk beli rumah”, lalu teman saya tersebut dengan mudahnya berkata, “ Sudah kamu kasih saja KTP kamu sekarang, saya proseskan ruko balik nama untuk kamu’. Kemudian dia tanya lagi, “ Kamu mau beli berapa ruko.” Saya jawab, “ Satu saja sudah cukup bagi saya”, lalu teman saya balik berkata, “ Mana cukup 1 ruko kamu kan ada usaha toko bangunan, sudah ambil saja satu ruko lagi. Saya pun kaget karena teman saya memaksa untuk mengambil 2 ruko yang keduanya memiliki 3 lantai. Yang membuat saya kaget, ruko itu seharga 200.000 SGD waktu itu, saya tidak punya uang sebanyak itu, dan akhirnya saya menjual seluruh harta dan perhiasan istri saya dan hanya terkumpul 6.000 SGD. Dengan uang seadanya saya bisa balik nama 2 ruko, tanpa bunga dan dibayar dengan 6.000 SGD. Sungguh sampai saat ini saya tidak percaya hal tersebut bisa terjadi dalam hidup saya, Gohonzon sungguh luar biasa!. Kurnia rejeki lain yang saya dapat adalah rumah ke-3 saya terbakar tetapi saya pelan-pelan bisa membangunnya kembali menjadi rumah dengan 2 lantai dengan bangunan beton yang kuat. Jadi saya memilki 2 ruko dengan 3 lantai dan 1 rumah dengan 2 lantai.   Seikyo Shimbun : Awalnya Bapak A tie sendiri yang menjadi anggota Soka Gakkai, sekarang Batam pun muncul banyak pimpinan yang luar biasa. Bagaimana Bapak A tie melihat susunan Soka Gakkai di Batam sekarang? Bapak A tie : Saya sangat salut dengan para pimpinan sekarang ini sangat sungguh hati berjuang untuk kosenrufu. Karena kerja keras mereka semua, sekarang ini Honbu Batam berkembang begitu luar biasa. Pada sekitar tahun 2001 saya mengundurkan dari jabatan ketua shibu Batam karena saya tidak bisa membaca dan menulis bahasa Indonesia. Segala kegiatan saya tidak paham karena menggunakan bahasa Indonesia dan saya bukanlah orang yang pintar, jadi saya minta tolong digantikan ke pimpinan lain yang lebih bisa menangani Soka Gakkai di Batam, saya hanya punya hati dan impian bagaimana Soka Gakkai bisa terbentuk di Batam. pimpinan senior pun menyetujuinya dan sejak saat itu jabatan ketua shibu batam digantikan oleh Bapak Trisno Cuandra. Saat mundur saya mengatakan mau jadi anggota saja, tetapi pimpinan senior mengatakan saya jadi penasehat Honbu Batam sampai sekarang.   Seikyo Shimbun : Menurut  Pak A tie, Bagaimana sosok Ikeda Sensei ? Bapak A tie : Saya selalu mendapatkan dorongan semangat dari Ikeda Sensei. Walaupun tidak pernah bertatap muka, bimbingan Ikeda Sensei saya selalu ukir dalam hati. Beliau sosok yang sangat luar biasa. Ada dua bimbingan dari Ikeda Sensei yang selalu saya tanam dalam hati saya. Apa arti kekalahan dalam hidup? Membuat kesalahan bukanlah kekalahan; Kekalahan berarti menyerah pada diri sendiri di tengah-tengah kesulitan.                Seikyo Shimbun : Apa cita-cita Bapak untuk Soka Gakkai Indonesia sekarang ini ? Bapak A tie: Impian terbesar untuk Soka Gakkai Indonesia adalah seluruh anggota bisa selalu sehat agar  bisa terus berjuang mengembangkan susunan Soka Gakkai di Indonesia.  

Baca Selengkapnya
Keyakinan Mutlak Pada Kekuatan Doa
Alankrita Shrivastava

Pada usia 21 tahun, saya mulai melaksanakan Buddhisme Nichiren. Ibu saya terdiagnosa kanker untuk kedua kalinya, dengan kesempatan yang sangat tipis untuk sembuh. Ayah saya juga sedang berjuang untuk hidup. Dengan keyakinan mutlak pada kekuatan daimoku dan kutipan Gosho bahwa “Musim dingin pasti berubah menjadi musim semi” (WND-1, hlm. 535), kami berhasil mengatasi karma penyakit. Kini sudah 16 tahun berlalu, ibu saya sehat, kuat, dan aktif. Kami juga mengatasi kesulitan keuangan yang luar biasa. Sambil berjuang melawan berbagai rintangan setelah kuliah, saya pindah ke Mumbai untuk menjadi sutradara dan penulis film cerita. Profesi ini sangat sulit dan tidak stabil bagi seorang wanita muda di India, apalagi jika bukan berasal dari keluarga yang berkecimpung di dunia perfilman. Saya bisa menemukan keberanian dan kegigihan berkat pelaksanaan Buddhis saya. Di hati saya hanya ada satu hasrat mendalam--membuat Ikeda Sensei (yang saya anggap sebagai guru kehidupan) dan Ibu Kaneko bangga lewat karya saya dengan menjadi “putri raja naga” (bdgk. WBD-1, hlm. 74) dan membuka jalan pencerahan bagi kaum wanita. Saya dihadapkan pada tantangan seperti uang yang sedikit, tidak ada tempat tinggal, tidak ada liburan, dan terus menerus terancam masyarakat sekitar karena saya masih lajang. Karena itulah saya selalu mencari Gohonzon untuk menemukan solusi atas masalah-masalah saya. Akhirnya, saya membuat film cerita pertama saya. Meski secara komersil tidak begitu berhasil, film itu banyak diapresiasi. Tanpa membuang sekejap pun, saya menetapkan target untuk film cerita kedua, yang terbukti menjadi tugas yang penuh segala macam kesulitan--baik dalam pengambilan gambar, penyelesaian, peluncuran ataupun distribusinya. Saya tahu semua perjuangan ini merupakan cara-cara arif agar saya menjadi pembuat film yang lebih baik dan pendongeng yang lebih sensitif. Selama periode ini, hati kepercayaan saya mengalami pergeseran mendalam. Di zona saya, saya berjuang lebih daripada sebelumnya, untuk mencapai sasaran 100.000 generasi muda dan 150.000 Bodhisatwa Dari Bumi yang dibuat Soka Gakkai Bharat (India) atau BSG. Saya menghabiskan waktu berjam-jam, menjelaskan tujuan dari sasaran-sasaran itu. Secara pribadi, saya melaksanakan banyak shakubuku. Setiap pagi, saya akan menyemangati anggota divisi pemudi untuk bangkit dengan berani. Selama masa ini, ayah saya, yang telah pulih dari kanker tingkat lanjut, harus terbaring sepenuhnya di tempat tidur. Pada saat bersamaan, pembuatan film saya mengalami kebuntuan tanpa harapan, namun saya tetap gigih dalam perjalanan hati kepercayaan. Tahun lalu, pada malam Upacara 16 Maret Keemasan, ayah saya meninggal pada usia 61 tahun yang terbilang muda. Saya merayakan 16 Maret, dan menyalakan api kremasi dalam upacara pemakaman ayah saya di hari yang sama. Melalui api kematiannya, api keberanian pun timbul di hati saya. Pada momen yang sangat penting itu, saya merasa Sensei dan ayah selamanya ada bersama saya.   Mengerahkan Diri Lebih Dari Sebelumnya untuk Membuka Jalan Saya menerjunkan diri dalam kosenrufu dengan rasa kemisian yang lebih mendalam daripada sebelumnya. Saya sebenarnya merasa hancur karena putus asa dengan tidak adanya kemajuan apapun dalam film. Namun saya menyebut daimoku seperti singa buas, menyerahkan hidup saya untuk kegiatan-kegiatan Soka Gakkai. Tanpa keraguan apapun, saya melaksanakan upaya shakubuku, mengerjakan video-video BSG tanpa menyayangi jiwaraga. Saya berjuang bersama pemudi dan menyebut daimoku lima jam di hari-hari tertentu. Dalam perjalanan menuju sasaran 150.000, dalam satu minggu, sepuluh dari begitu banyak teman yang saya sampaikan tentang Buddhisme menjadi anggota. Perasaan itu sungguh luar biasa! Hukum sebab dan akibat benar-benar tegas. Setelah kegelapan pekat selama satu tahun lebih, sepercik harapan muncul dan film saya terpilih untuk mengikuti kompetisi, di Festival Film Internasional Tokyo. Meski peluncuran dan distribusinya masih menjadi tanda tanya, film saya diputar untuk umum pada pertama kalinya di negara guru saya, Jepang. Kegembiraan saya sungguh tiada batas. Film saya memenangkan Penghargaan Oxfam yang pertama untuk Film Terbaik mengenai Kesetaraan Jender, di kampung halaman saya di Mumbai, di hari saya menyebut daimoku di Balai Prasetia Agung Kosenrufu (Jepang, Shinanomachi) untuk pertama kalinya. Beberapa hari kemudian, saya memenangkan Penghargaan Semangat Asia di Festival Film Internasional Tokyo. Kehormatan ini sungguh luar biasa. Saya menerima pesan dari Sensei bahwa beliau mendoakan keberhasilan saya yang berkelanjutan. Film tersebut terpilih untuk festival-festival film bergengsi lainnya di Stockholm, Miami, Paris, Glasgow, Tallinn, London, Amsterdam, Los Angeles, New York dan Cairo. Meski perjuangan untuk peluncurannya masih berlanjut, saya memperbaharui tekad untuk menang menuju 16 Maret. Saya berkata pada diri sendiri, saya akan menang, satu per satu. Terkadang, saya merasa ragu bagaimana film saya bisa bersaing dengan begitu banyak film peraih penghargaan dari seluruh dunia? Namun saya hanya berdoa untuk meyakini bahwa film saya memiliki misi yang belum saya sadari.   Melangkah Maju dan Menang dengan Hati Kepercayaan Kuat   Sementara itu, dewan sensor di India menolak untuk mengesahkan film saya. Saya tiba di festival film Glasgow dengan hati yang berat. Akan tetapi, Gohonzon memiliki rencana lain untuk saya. Media massa, baik nasional maupun internasional, kaum wanita di seluruh India, serta berbagai organisasi internasional dan India mulai bersuara membela hak kaum wanita dan kebebasan berekspresi. Sebuah pembicaraan yang seharusnya telah kadaluarsa, akhir kembali disuarakan. Pada Festival Film Glasgow, film saya memenangkan satu-satunya penghargaan, yang sebelumnya dimenangkan sebuah film yang dinominasikan Piala Oscar. Pada 14 Maret, film saya juga memenangkan Penghargaan Cerita Terbaik Pilihan Penonton di Festival Film CinemAsia di Amsterdam. Nichiren Daishonin berkata, “Besi yang dipanaskan dalam bara api dan ditempa, menjadi pedang tajam. Orang arif dan orang suci diuji oleh penganiayaan” (WND-1, hlm. 303). Saya telah diuji dalam cara-cara yang tak terbayangkan, namun hati kepercayaan saya tetap kuat. Dalam beberapa minggu terakhir, saya merasa seolah-olah semua pelaksanaan Buddhis saya selama 16 tahun adalah untuk mempersiapkan saya memiliki keberanian untuk tanpa gentar mempertanyakan norma-norma jender di India. Pertempuran untuk meluncurkan film saya terus berlanjut. Pertempuran saya dalam hati kepercayaan juga berlanjut. Namun saya bertekad untuk menang demi semua wanita muda di India dan dunia. Saya bertekad bahwa sebelum akhir tahun 2017, lewat upaya saya sendiri, saya akan mewujudkan kekuatan 100.000 generasi muda berkemampuan, sebuah kekuatan perubahan yang akan berkontribusi secara aktif untuk perbaikan masyarakat dalam cara uniknya sendiri. Saya, sebagai bagian dari 100.000 generasi muda pembawa perubahan, bertekad untuk meneruskan jalan membuat film mengenai wanita yang menantang status quo. Saya bertekad untuk memenangkan Oscar untuk mempersembahkan kejayaan abadi kepada Ikeda Sensei.   Sumber: Creative Life, edisi Mei 2017.

Baca Selengkapnya
Sayalah Bukti Nyata!
Ong Hui Min

  Keluarga saya mulai melaksanakan Buddhisme Nichiren pada tahun 2004 ketika Ibu saya didiagnosa leukimia dan harus menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Saya dan Ibu mulai menyebut “Nam-myoho-renge-kyo” setelah Bibi saya mengenalkan Buddhisme Nichiren kepada kami. Tepat sebelum operasi dilakukan, kondisi Ibu membaik dan hasil pemeriksaan menunjukkan beliau sepenuhnya sehat—bahkan dokter pun begitu terkejut! Dengan bukti nyata ini, Ibu menjadi yakin dengan hati kepercayaan ini. Bagi saya, saya menghadapi tantangan kesehatan dengan hipertiroid sejak 2015. Saya mengalami pengalaman di ambang kematian karena badai tiroid, dengan denyut jantung sangat cepat yang bisa menyebabkan kejang. Ketika itu, saya harus meminum delapan tablet obat setiap hari. Saya banyak bertanya pada diri sendiri, mengapa saya harus mengalami begitu banyak penderitaan dalam hidup ini? Apakah saya harus terus meminum obat sepanjang hidup? Apakah saya harus dioperasi? Pada akhirnya, saya bisa menerimanya dan belajar bagaimana menghadapi gejala-gejala yang muncul dan menganggap obat sebagai “vitamin”. Akan tetapi, pada saat itu saya belum benar-benar menyadari keagungan hati kepercayaan ini.   Kesadaran dalam Hati Kepercayaan Titik baliknya terjadi setelah saya menyelesaikan ujian level A pada tahun 2016. Saya selalu ingin mengejar hasrat dalam studi budaya Tiongkok dan sama sekali tidak bimbang untuk mendaftar di jurusan tersebut. Dalam kurun waktu itu, saya membuat sebuah tekad kuat dalam salah satu pelatihan Renaisans Byakuren, yakni pelatihan kepemimpinan selama enam bulan bagi Divisi Pemudi, agar tekad ini menjadi misi saya. Pada saat itu, saya benar-benar ingin menantang dan menempa hati kepercayaan saya. Hal pertama yang terjadi setelah saya tiba di rumah dari pertemuan Renaisans Byakuren adalah menerima surel (atau email) dari Nanyang Technological University (NTU) yang menawarkan tempat kepada saya dalam studi budaya Tiongkok! Saya sangat berterima kasih kepada Gohonzon dan menyebut daimoku agar diberi kesempatan untuk membalas budi ini! Sejak itu, kesempatan dan panggung untuk itu pun “muncul” satu demi satu bagi saya untuk berkontribusi dalam kegiatan Soka—saya mengerahkan diri di chiku, dalam kegiatan Divisi Mahasiswa/i, dan juga dalam pertemuan Ikeda Kayo-kai. Pada Juni 2017, saya menerima peran sebagai pimpinan chiku. Saya mencapai begitu banyak hal dalam delapan bulan yang singkat setelah ujian Level A, sesuatu yang sebelumnya mustahil bagi saya. Hidup saya berkembang besar lewat hati kepercayaan! Setelah itu, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri Kursus Pelatihan Divisi Mahasiswa/i antara Asosiasi Soka Singapura dan Soka Gakkai Malaysia pada Agustus (2018). Saya dapat berbagi kesan saya mengenai Revolusi Manusia Baru Jilid 30 bab “Gunung Besar”, yang ditulis Ikeda Sensei untuk generasi muda. Ada satu episode yang sangat berkesan bagi saya. Shin’ichi Yamamoto (tokoh utama dalam novel yang mewakili Ikeda Sensei) mengingat 6 Januari 1951 ketika gurunya, Toda Sensei, sedang mengalami kesulitan besar. Toda Sensei memanggil Shin’ichi ke rumah dan memercayakan semua kepadanya—Gakkai, perusahaan, dan juga keluarganya. Toda Sensei berkata, “Misi saya dalam hidup ini juga merupakan misimu. Kamu mengerti, bukan? Tidak peduli apapun yang terjadi, jadilah orang yang kuat.” Episode ini mencerminkan tidak hanya hati guru untuk murid, tetapi juga kepercayaan berakar mendalam Toda Sensei kepada Ikeda Sensei muda, bahwa Ikeda Sensei pasti akan memenuhi misi yang dipercayakan kepadanya. Saya merasa bahwa pastilah ada alasan mengapa Ikeda Sensei menceritakan episode ini antara dirinya dan Toda Sensei dalam bab “Gunung Besar”. Seolah-olah Ikeda Sensei ingin memberitahu kita setiap orang pesan yang sama, bahwa misinya di dunia ini adalah misi kita juga, dan bahwa beliau memercayakan segalanya dan masa depan organisasi ini kepada kita. Saya sangat terinspirasi dan benar-benar ingin merespons Ikeda Sensei yang saya anggap sebagai guru kehidupan, dengan semangat Shin’ichi Yamamoto! Saya bertekad untuk mengajak setidaknya 25 teman baru mengunjungi Pameran Sutra Bunga Teratai. Ketika divisi mahasiswa/i diberi kepercayaan dengan misi menjadi pemandu pameran, saya tidak ragu dan langsung mendaftar.   Terobosan dalam Berbagi Buddhisme Saya menyebut daimoku agar orang-orang yang membutuhkan Buddhisme Nichiren untuk muncul dalam hidup saya. Sepanjang 25 hari Pameran Sutra Bunga Teratai di the Art House Oktober 2017 yang lalu, saya merasakan banyak terobosan dan membangun banyak ikatan dengan orang-orang di sekitar saya. Secara keseluruhan, saya membawa lebih dari 30 teman ke pameran yang mengagumkan ini. Terobosan pertama saya datang ketika saya mengeluarkan keberanian untuk mengundang seorang profesor Universitas Teknologi Nanyang (NTU) ke pameran ini! Saya bertemu dengannya pada sebuah seminar ekstrakurikuler. Saya lalu mengetahui bahwa beliau mengajar mata kuliah seni religius, dan langsung melihat ini sebagai kesempatan untuk mengundangnya ke pameran! Beliau sangat tertarik, bertanya pada saya secara lebih mendetail, dan mengatakan dia akan datang ke Pameran Sutra Bunga Teratai. Terobosan pertama ini dalam mengundang seorang profesor menguatkan keberanian saya untuk mengundang lebih banyak orang lagi. Teman-teman ekstrakurikuler saya dari Asosiasi Mahasiswa PBB (AMPBB) kebetulan mendengar pembicaraan saya dengan profesor itu, dan mengusulkan agar kami mengadakan karyawisata ke pameran pada salah satu minggu reses. Kami menghabiskan lebih dari dua setengah jam di pameran, mendiskusikan nilai-nilai dan pesan di balik Pameran Sutra Bunga Teratai secara mendalam. Salah seorang ketua kegiatan ekstrakurikuler bahkan menyebut “Nam-myoho-renge-kyo” setelah membaca papan panel mengenai “Buku Doa Mahatma Gandhi dalam bahasa Tamil”, yang merupakan bahasa ibunya. Seorang teman lainnya berkomentar bahwa dia belum pernah bertemu Buddhisme seperti ini—sungguh tak terlupakan! Meski masing-masing memiliki keyakinan yang berbeda-beda, kami semua pulang dengan tekad baru menuju tujuan yang sama yakni perdamaian dunia. Setelah itu, yang sangat mengejutkan bagi saya, banyak teman yang berinisiatif mengatur waktu mengunjungi pameran Sutra Bunga Teratai bersama saya. Mereka bahkan bertanya mengapa saya tidak mengajak mereka lebih awal. Saya yakin bahwa doa dan tekad kuat saya telah menciptakan sebab-sebab ini dalam jiwa mereka. Selain harus mengatasi kuliah, tanggung jawab Gakkai dan berkali-kali membawa teman ke pameran, saya juga menjalani peran sebagai pemandu pameran Sutra Bunga Teratai. Selama kurun waktu ini, Ibu sangat khawatir karena saya sering pulang larut malam. Saya menghadapi dan menantang segalanya dengan doa, titik awal hati kepercayaan saya. Selama bertugas, saya akan mencurahkan segenap tenaga dengan semangat menyayangi setiap orang di depan saya, berbagi dengan segenap hati tentang Buddhisme dan nilai-nilai universal Sutra Bunga Teratai dengan pengunjung. Meski merasa lelah, melihat senyuman di wajah mereka, yang berterima kasih atas penjelasan saya, dan melihat mereka pulang setelah terinspirasi, membuat saya merasa semua rasa lelah itu sungguh bernilai. Faktanya, saya merasa belajar begitu banyak dari mereka! Satu kejadian yang berkesan terjadi ketika saya bertugas sebagai pemandu. Seorang anggota mendekati saya dan mengatakan bahwa aksara mandarin dari kata kosenrufu sesungguhnya ditulis dalam naskah Sutra Bunga Teratai yang diterjemahkan Kumarajiva. Dia bahkan menunjukkan lokasi tepatnya di dalam manuskrip yang dipamerkan kepada saya. Saya sangat tersentuh, karena mengingatkan saya tentang misi mendalam dari masa lampau yang tak berawal sebagai Bodhisatwa Dari Bumi! Rasa kemisian ini memungkinkan saya menarik keluar kekuatan dan daya hidup untuk terus berjuang hingga perjalanan pameran ini berakhir. Meskipun mengerahkan diri dalam kegiatan Soka benar-benar memuaskan, hidup tidak selalu berjalan mulus. Namun apabila saya merasa patah semangat ataupun kalah, saya akan selalu teringat apa yang dikatakan Ikeda Sensei dalam salah satu bimbingannya, “Orang-orang yang ingat bahwa mereka memiliki misi hidup yang unik akan kuat. Apapun masalah yang mereka hadapi, mereka tidak akan kalah. Mereka bisa mengubah semua masalah mereka menjadi katalis untuk pertumbuhan menuju masa depan yang penuh harapan.”   Meraih Kemenangan demi Kemenangan Di tengah-tengah upaya menantang segalanya yang saya lakukan, saya meraih berbagai kemenangan. Hormon tiroid saya sekarang berada di tingkat yang terkendali, dan obat yang harus saya minum setiap hari sudah dikurangi hingga hanya satu tablet. Dan itu terjadi satu minggu sebelum saya membagikan cerita pengalaman saya pada pertemuan peringatan 18 November. Ini sungguh merupakan sebuah tonggak pencapaian karena saat terdiagnosa dengan kondisi itu pada 2015 saya harus meminum delapan tablet setiap hari! Saya berhasil mendapatkan beasiswa senilai S$ 1.200 dari organisasi Business China Singapore untuk sebuah pertukaran musim dingin pada Desember dan mampu menanamkan banyak bibit persahabatan! Dan saya juga menjadi bagian dari panitia penyelenggara yang memimpin satu tim ke Xi’an untuk Summer Learning Journey pada Juni 2018. Untuk kegiatan ekstrakurikuler, saya terpilih sebagai Ketua Tim Ekspedisi Generasi Muda untuk Proyek Meraki2.0. Pada intinya, kami pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk memberikan bantuan kepada Pengungsi Rohingya dan Chin di sana pada Juni. Saya benar-benar kehilangan kata-kata ketika mengetahui bahwa saya terpilih menjadi Ketua Sayap Kemanusiaan NTU-AMPBB untuk tahun akademik berikutnya. Dan yang paling berkesan di hati saya adalah baru-baru ini saya berbagi Buddhisme dengan seorang teman lama yang juga mendaftar ikut Youth Summit Asosiasi Soka Singapura! Dan saya melihat banyak perubahan positif dalam dirinya sejak dia mulai melaksanakan hati kepercayaan, yang merupakan suatu bukti nyata. Saya benar-benar senang bisa mengenalkan Buddhisme padanya, sebuah filosofi yang begitu berpengaruh pada hidup saya. Saya berharap bisa bekerja untuk kosenrufu bersamanya, teman seperjuangan baru dalam hati kepercayaan. Seorang teman saya berkomentar bahwa dia terkesan dengan bagaimana saya bisa melakukan banyak hal dalam hidup saya. Nyatanya, banyak teman saya yang menyatakan kekaguman mereka melihat saya yang selalu sibuk mengerjakan sesuatu. Saya juga ingin menambahkan bahwa saya meraih hasil yang baik untuk mewujudkan tekad saya di tahun 2018 dengan melakukan yang terbaik dalam menangani semua aspek hidup saya dan mengembangkan kapasitas saya sebagai pelaksana sejati Buddhisme Nichiren. Dan dengan orang-orang yang telah saya ajak berdialog Buddhisme, saya bertekad untuk terus menjalin komunikasi dengan mereka dan terus berdoa agar mereka menjadi bahagia dengan menyadari Kebuddhaan mereka. Saya sangat berterima kasih kepada semua teman seperjuangan dalam hati kepercayaan yang terus menyemangati saya selagi kami melangkah bersama di jalan kosenrufu ini. Saya akan merespons Ikeda Sensei dalam cara yang paling langsung, dengan menjadi bukti nyata itu sendiri. Karena tidak cara yang lebih baik untuk membalas budi kepada guru selain lewat kemenangan kita sendiri. Menuju Youth Summit, saya bertekad menyebut daimoku agar semua sesi latihan berjalan lancar ketika saya berada di luar negeri selama bulan Juni dan untuk kesuksesan acara ini di bulan Agustus. Saya bertekad menghadiri semua sesi latihan dengan gembira sambil membuat penemuan baru mengenai diri saya sendiri dan menyemangati lebih banyak teman untuk ikut bersama kami dalam perjalanan memilih harapan ini.   Sumber: Creative Life, majalah bulanan Asosiasi Soka Singapura, edisi Juli 2018.

Baca Selengkapnya
News 1
Berita & Kegiatan
Pentas Seni dan Budaya Soka Gakkai…
Bertepatan dengan menyambut 88 tahun berdirinya Soka Gakkai dan menuju 90 tahun di tahun 2020…
News 1
Berita & Kegiatan
Pameran Benih-Benih Harapan Tanjung Balai Karimun…
Pada tanggal 11 Januari 2019, SMA Negeri 4 di Tanjung Balai Karimun telah memberikan…
News 1
Berita & Kegiatan
Perayaan 18 November 2018
November adalah bulan yang sangat bermakna bagi Soka Gakkai. Pada 18 November ini, kita…