Menu
Tentang Kami

Esai Perdamaian

Keberanian Nonkekerasan

[Dari buku The World is Yours To Change oleh Daisaku Ikeda]

"Saya tidak ingin mainan atau cokelat. Yang saya inginkan hanya perdamaian dan kemerdekaan. Rakyat Eropa, rakyat dunia, tolong temukan rasa kemanusiaan dalam hati Anda untuk mengakhiri perang ini!"

-- Seorang anak perempuan dari Yugoslavia

Saya sedang mengunjungi Raj Ghat, tempat Mahatma Gandhi, Bapak Kemerdekaan India dikremasi. Di suatu tempat seekor burung berkicau. Di dekat sana ada hutan dan bajing-bajing berlarian di sela belukar hijau yang lebat. Area yang lapang dan terawat baik itu merupakan tempat pemujaan terhadap nonkekerasan. Saat meletakkan bunga di depan panggung batu hitam yang menjadi tugu peringatan Gandhi, saya membungkukkan kepala. Saya merenungkan semangat cemerlang Gandhi. Saya memikirkan perjuangannya yang tanpa henti untuk memadamkan api kebencian dengan air yang diambil dari mata air cinta untuk manusia. Dan saya memikirkan betapa sendirian dia dalam pencariannya.

“DI PIHAK MANA KAU BERDIRI?”

“Gandhi melarang kita membalas orang-orang muslim itu! Bisa-bisanya dia memihak mereka! Tidak mungkin! Mereka sudah membunuh keluarga saya, termasuk putra saya yang baru berusia lima tahun!” “Apa dia menyuruh kita menerima saja serangan orang-orang Hindu? Menggelikan! Apa dia tidak tahu apa yang kita, orang Muslim, alami selama bertahun-tahun ini? Bagaimanapun juga, Gandhi sendiri orang Hindu, bukan?”

Saat itu tahun 1947. Dengan diiringi kekacauan dan tidak kekejaman,India yang baru merdeka dipecah menurut agama. Sang bijakawan yang sudah tua itu pergi ke berbagai tempat, dimana pun kaum Hindu dan Muslim berkubang dalam siklus berdarah konflik dan balas dendam. Dia menyeru agar pembunuhan dihentikan. Tetapi orang-orang yang hilang akal karna kebencian, tidak mendengarkan. Mereka menyuruhnya pergi, menyebut usaha rekonsiliasinya munafik atau lebih buruk lagi. Mereka menuntut ingin tahu di pihak mana dia berdiri.

Gandhi hanya merasakan iba untuk pemuda itu. Dia bahkan meminta kepada polisi yang marah besar agar tidak menyiksa penyerangnya, tetapi berusaha mengubah pemuda itu ke arah pemikiran dan tindakan yang benar. Selalu seperti inilah pendekatan Gandhi. Tidak ada yang lebih membenci kekerasan daripada gandhi. Pada saat yang sama, tidak seorang pun tahu lebih dalam bahwa kekerasan hanya dapat dihadapi dengan nonkekerasan.

Persis seperti api dipadamkan dengan air, kebencian hanya bisa dikalahkan oleh cinta dan kewelasasihan. Sebagian orang mengkritik Gandhi karena memanjakan si teroris. Lainnya mencela keyakinannya, menyebut itu sentimentil dan tidak realistis, suatu visi yang kosong.

Gandhi sendirian.

Banyak memuja namanya, tetapi hanya segelintir yang benar-benar berbagi keyakinannya. Bagi Gandhi, nonkekerasan berarti cinta yang melimpah untuk semua manusia, suatu cara hidup yang memancar dari sumsum dirinya. Itulah yang memungkinkan kehidupan anda. Tanpa itu, dia tidak mungkin hidup meski sesaat. Tetap bagi banyak pengikutnya, nonkekerasan hanya strategi politik, hanya taktik untuk memenangkan kemerdekaan India dari Inggris,

Gandhi sendirian.

Semakin sungguh-sungguh dia mengejar keyakinan agamanya, semakin dalam cintanya kepada umat manusia. Cinta ini membuatnya semakin tidak bisa mengabaikan realitas-realitas politik yang membentuk kehidupan rakyat. Pada saat yang sama, kontak dengan realitas politik ini memperkuat keyakinannya bahwa tidak ada yang lebih penting daripada cinta untuk semua manusia yang dapat ditumbuhkan oleh iman keagamaan.

Ini menempatkannya pada posisi dicela, baik oleh tokoh-tokoh agama----yang menganggap keterlibatan dalam bidang politik yang kotor digerakkan oleh ambisi pribadi----maupun oleh para pemimpin politik ---- yang menyebutnya tak tahu apa-apa dan naif.

Karena dia melangkah di jalan tengah, jalan kemanusiaan sejati yang berupaya merekonsiliasikan berbagai kontradiksi, kepercayaan dan tindakannya tampak memihak bagi mereka yang berpandangan ekstrem.

MENGAKHIRI TEROR

Serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat sungguh biadab. Anggota-anggota Soka Gakkai International termasuk yang menjadi korban, Serangan itu menyulut kebencian universal dan keinginan tulus bahwa pembantaian seperti itu jangan pernah terulang lagi.

Karena kejahatan apa orang-orang tak bersalah ini dibunuh? Tidak ada alasan, tidak ada pun yang dapat membenarkan aksi semacam itu. Bahkan kalaupun para pelaku percaya mereka bertindak dilandasi iman keagamaan kepercayaan mereka, tindakan mereka sama sekali tidak layak disebut dengan kemartiran. Kemartiran berarti menyerahkan nyawa sendiri, bukan mengambil nyawa orang lain. Pengorbanan diri yang sesungguhnya dilakukan untuk menyelamatkan orang lain dari penderitaan, untuk memberi mereka kebahagiaan. Tindakan apa pun yang melibatkan membunuh orang lain patut dikutuk dan murni merusak.

Telah tiba waktunya bagi umat manusia untuk bersatu mengakhiri terorisme. Pertanyaannya adalah, bagaimana ini bisa tercapai? Bisakah pembalasan militer memenuhi tujuan itu? Bukankah kemungkinan hanya akan membangkitkan kebencian yang lebih besar?

Bahkan kalaupun, demi argumentasi, “musuh”itu dapat ditundukkan. Apakah itu akan mendatangkan perdamaian sejati? Kebencian yang sudah lama menggelegak hanya akan didesak semakin dalam ke bawah tanah, sehingga mustahil memperkirakan dimana akan meledak berikutnya. Kita berisiko menciptakan sebuah dunia yang disiksa oleh rasa takut dan kegelisahan yang lebih besar lagi.

Di sini saya diinginkan akan kearifan sederhana dalam fabel Aesop “ Angin utara dan Matahari” Angin utara mencoba seorang pengelana menanggalkan mantelnya dengan menerpanya dengan embusan angin yang sangat dingin. Tetapi semakin keras Angin Utara meniup, semakin erat si pengelana merapatkan mantelnya.

Kedamaian yang didasari penindasan suara dan kepentingan rakyat, entah itu di negara kita sendiri atau negara lain, adalah kedamaian yang mati ---- kedamaian kuburan. Tentu bukan itu kedamaian yang di dambakan umat manusia.

KEKERASAN LAWAN NONKEKERASAN

Saya juga diingatkan akan sebuah kisah yang menggugah yang dituturkan Leo Tolstoy dalam sepucuk surat yang ditulis dua bulan sebelum dia wafat. Surat itu tertanggal 7 September 1910, ditujukan kepada Mahatma Gandhi. Kisah itu kurang lebih seperti ini. Di salah satu sekolah putri di Moskow diadakan ujian mata pelajaran agama. Seorang uskup datang ke sekolah itu dan mengajukan pertanyaan kepada para gadis satu per satu tentang Kesepuluh Firman. Ketika sampai pada perintah “Jangan membunuh”, uskup itu bertanya, “ Apakah tuhan melarang kita membunuh dalam situasi?” Gadis-gadis itu menjawab seperti yang diajarkan kepada mereka selama ini. “Tidak,”kata mereka, “bukan dalam semua situasi. Kita boleh membunuh dalam perang atau sebagai hukuman yang sah.” “Ya, itu benar! Kalian sudah menjawab dengan benar!” kita sang uskup. Lalu salah seorang gadis wajahnya memerah karena marah dan angkat bicara, “Membunuh itu salah dalam situasi apa pun!” Sang uskup heran dan mengerahkan seluruh keahlian beretorika untuk meyakinkan gadis itu bahwa ada pengecualian untuk perintah yang melarang membunuh, tetapi usahanya sia-sia. “Tidak,” kata gadis itu. “Membunuh adalah dosa dalam situasi apa pun. Seperti itulah yang dikatakan dalam Perjanjian Lama. Lagi pula, Yesus tidak hanya melarang membunuh, tetapi juga mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyakiti tetangga kita.” Di hadapan kebenaran dalam pernyataan si gadis, kewenangan dan keahlian berbicara sang uskup sama sekali tak berguna. Pada akhirnya, dia hanya bisa membisu. Gadis itu, tulis Tolstoy, dengan kegembiraan yang jelas terasa, telah terbukti menang. Mari kita perlantang kata-kata gadis muda itu ----“ Membunuh itu salah, bahkan dalam perang!” Dan mari kita siarkan kata-kata itu kepada dunia!

Abad ke-20 adalah abad perang, abad dimana ratusan juta manusia tewas dalam kematian yang kejam. Sudahkah kita belajar dari tragedi-tragedi mengerikan itu? Di abad ke-21 yang baru ini, umat manusia harus dibimbing oleh prinsip paling utama bahwa membunuh adalah tindakan yang tidak pernah bisa diterima atau dibenarkan----dalam situasi apa pun. Jika kita tidak menyadari hal ini, tidak menyebarluaskan dan benar-benar menanamkan pemahaman bahwa kekerasan tidak pernah boleh digunakan untuk mendukung kepercayaan seseorang, kita tidak belajar apa-apa dari semua pelajaran pahit abad ke-20.

Pertempuran abad ke-21 yang sesungguhnya bukanlah antarperadaban dan antaragama. Pertempuran itu adalah antara kekerasan dan nonkekerasan, antara kebiadaban dan keberadaban dalam pengertian termurni kata itu.

BANJIR DIALOG

Lebih dari setengah abad yang lalu, Gandhi berusaha memutus siklus kekerasan dan balas dendam. Yang membedakan kita dari binatang, katanya, adalah upaya kita yang terus-menerus untuk melakukan perbaikan moral. Umat manusia berada di persimpangan dan harus memilih, tegasnya, kekerasan (hukum rimba) atau nonkekerasan (hukum kemanusiaan).

Dunia dewasa ini, sebenarnya, memiliki peluang yang luar biasa dan belum pernah ada sebelumnya. Kita mendapat kesempatan untuk membuka halaman baru dalam sejarah manusia. Sekaranglah waktu untuk mengumandangkan deklarasi berikut ini:

"Kami menganggap serangan teroris sebagai tantangan terhadap hukum kemanusiaan. Hanya karena alasan inilah kami menolak mengikuti hukum rimba yang mendasari serangan itu. Kami menyatakan tekad kami untuk menemukan solusi bukan lewat jalan militer, melainkan lewat dialog yang ekstensif. Daripada semakin mengobarkan api kebencian, kami memilih untuk menyiram api itu dengan ‘banjir dialog’ yang akan memperkaya dan mendatangkan manfaat bagi seluruh umat manusia.

Itulah cara terbaik dan cara satu-satunya untuk memastikan bahwa kengerian seperti itu tidak akan pernah terulang lagi, dan kami percaya itulah cara yang paling sesuai untuk menghormati kenangan akan mereka yang terenggut nyawanya dalam perang.”bDeklarasi semacam ini, bila diterapkan, pasti akan disambut dengan pujian yang tak ada habisnya dari para sejarawan di masa depan. Kebaikan besar dapat muncul dari kejahatan besar. Tetapi, ini tidak akan terjadi begitu saja. Keberanian selalu dibutuhkan untuk mengubah kejahatan menjadi kebaikan. Sekaranglah waktu bagi setiap orang dari kita untuk memunculkan keberanian semacam itu: keberanian nonkekerasan, keberanian dialog, keberanian untuk mendengarkan semua yang tidak ingin kita dengan keberanian untuk mengekang keinginan membalas dendam dan untuk dibimbing oleh akal sehat.

KESEDIAAN MENDENGAR

Dalam perbincangan dengan Ny. Veena Sikri, direktur jenderal Dewan Hubungan Budaya India, kami membahas filosofi India dan tradisi nonkekerasan. Saya mengungkapkan keinginan untuk membawa cahaya india, dengan warisan spiritualnya yang begitu besar, kepada rakyat Jepang. Harapan ini akhirnya terwujud dalam bentuk pameran yang diberi judul “Raja Ashoka, Mahatma Gandhi, dan Nehru ----”Sentuhan Penyembuh” yang diselenggarakan di Jepang pada 1944.

Raja Ashoka adalah seorang raja yang arif dan berbudi dari India kuno (sekitar abad ketiga SM). Setelah menyaksikan sendiri kejamnya realitas perang, dia menjadi pemeluk Buddhisme, dan memutuskan bahwa dia akan melandaskan pemerintahannya bukan pada kekuatan militer melainkan pada Dharma, prinsip-prinsip Buddhisme. Ketika Gandhi ditanya apakah negara nonkekerasan itu mungkin, dia menjawab tentu saja mungkin. Dia menunjuk pemerintahan Ashoka sebagai contoh, dan menegaskan bahwa mereproduksi prestasi raja itu pasti mungkin. Jawaharlal Nehru, perdana menteri pertama India merdeka, adalah murid langsung Gandhi. Ketika berkunjung ke Jepang pada 1957, Nehru mengutarakan keprihatinannya soal meningkatnya kekerasan di dunia. Dalam salah satu pidatonya dia menyatakan bahwa satu-satunya respons efektif terhadap bom hidrogen bukanlah bom dengan kemampuan merusak yang lebih besar lagi, melainkan “bom” spiritual berupa kewelasasihan, Ini hanya satu bulan sesudah Josei Toda, presiden kedua Soka Gakkai, mengeluarkan deklarasinya sendiri yang menyerukan dihapuskannya senjata nuklir.

Beberapa warga Jepang yang terlibat dalam persiapan pameran “Raja Ashoka, Mahatma Gandhi, dan Nehru” mulanya kesulitan menghargai tema “ Sentuhan Penyembuh” yang diusulkan mitra India kami. Ini mungkin sebagian karena di Jepang, istilah “Penyembuh” dalam pengertian yang lebih luas belum seakrab seperti sesudah pameran. Tetapi, inilah tema yang paling mendekati inti nonkekerasan. Karena kekerasan lahir dari jiwa yang terluka; jiwa yang terbakar dan melepuh oleh api keangkuhan, jiwa yang remuk dan tegang oleh rasa frustasi akibat ketidakberdayaan; jiwa yang kering akibat dahaga tak terpuaskan akan makna hidup; jiwa yang melisut dan menciut oleh perasaan inferioritas. Kemarahan yang timbul dari harga diri yang terluka, dari rasa terhina, meletus sebagai kekerasan. Budaya kekerasan, yang senang bila menginjak dan menghajar orang lain hingga tunduk, menyebar ke seluruh masyarakat, dan seringkali dilipatgandakan oleh media.

Pemimpin gerakan hak sipil Amerika, Dr. Martin Luther King, Jr., adalah murid filosofi Gandhi. King menyatakan bahwa orang yang jiwanya kacau tidak bisa benar-benar mempraktikkan non kekerasan. Harapan saya adalah bahwa cahaya India ----sebuah negara yang di Timur dikenal sejak zaman dahulu sebagai “negeri cahaya rembulan” ----akan membantu menyebarkan semangat perdamaian, persis seperti berkas-berkas sinar sejuk rembulan, membawa kelegaan yang menenangkan dari teriknya siang. Dari hati yang sembuh dan damai, lahir kerendahan hati. Dari kerendahan hati, lahir kesediaan untuk mendengarkan orang lain. Dari kesediaan mendengarkan orang lain, lahir saling pemahaman. Dan dari saling pemahaman, lahir masyarakat yang damai.

Nonkekerasan adalah bentuk tertinggi kerendahan hati ---- itulah keberanian tertinggi. Perdana Menteri Nehru berkata bahwa hakikat ajaran Gandhi adalah ketidakgentaran. Sang Mahatma mengajarkan bahwa “ si kuat tidak pernah berkeinginan membalas dendam” dan bahwa dialog hanya bisa dilakukan oleh si pemberani.