Menu
Komunitas

Komunitas

Artikel

Pada tgl 17 Maret 2019, di Gedung Pusat Kebudayaan Soka Gakkai Indonesia diadakan acara “Membangun Peradaban Generasi Peduli dan Damai “ yang diprakarsai oleh Generasi Muda Soka Gakkai Indonesia sebagai bagian dari Pre-Event Pameran Sutra Bunga Teratai 2019. 

Acara ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan keberdaayaan untuk berkontribusi bagi perubahan nyata di lingkungan masyarakat dan sekitar , dan juga membangun gerakan akar rumput yang melibatkan generasi muda khususnya kaum milenial untuk melakukan aksi nyata di masyarakat untuk menyebarkan perdamaian.  Dalam acara ini Soka Gakkai Indonesia mendapat dukungan dari dua organisasi sosial yakni Toleransi.id dan Peace Generation yang memiliki visi misi yang sama dengan Soka Gakkai Indonesia dalam mempromosikan perdamaian.

Tarian  "Wonderful Law" yang dibawakan oleh divisi Pemudi Soka Gakkai Indonesia menjadi pembuka dalam acara kali ini.  Dalam sesi yang bertemakan“ My Human Revolution-- Suara Keberanian dan Harapan" dibawakan oleh dua pembicara yang sudah mendapat banyak penghargaan Nasional dan Internasional dan seringkali berbicara di forum Nasional dan Internasional, yakni Ayu Kartika Dewii (Co-Founder Toleransi.id, SabangMerauke, dan Milenial Islami) dan Irfan Amalee (Co-Founder PeaceGeneration) yang telah banyak melakukan aksi nyata di masyarakat melalui gerakan-gerakannya dalam menyebarkan benih-benih toleransi dan perdamaian di kalangan kaum muda. Tema " My Human Revolution" diilhami dari bimbingan Presiden Soka Gakkai Internasional Daisaku Ikeda yang mengatakan bahwa “Revolusi manusia hebat dalam diri satu individu membantu mencapai sebuah perubahan nasib suatu bangsa, selanjutnya, akan mengubah nasib seluruh umat manusia".

Ayu Kartika Dewi mendirikan organisasi SabangMerauke sebuah program pertukaran pelajar atau live-in dimana anak-anak pelajar dari berbagai daerah ditempatkan di rumah keluarga yang berbeda agama dan etnis dengan tujuan menanamkan nilai-nilai toleransi kepada anak-anak muda. Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa toleransi tidak bisa hanya diajarkan tetapi toleransi harus dialami dan dirasakan. 

Ia mendirikan organisasi-organisasi sosial tersebut berawal dari pengalamannya ketika menjadi seorang Guru SD  di Maluku Utara dimana ia melihat secara langsung dampak-dampak konflik kerusuhan Ambon terhadap anak-anak di Maluku Utara sehingga mereka memiliki prasangka buruk terhadap agama satu dengan yang lainnya. Dari rasa marah terhadap peristiwa-peristiwa Intoleransi yang terjadi di Indonesia akhirnya ia mengubah kemarahan tersebut menjadi sebuah aksi nyata untuk melakukan suatu perubahan di masyarakat.

Irfan Amalee mendirikan Peace Generation sejak 2007, dimana gerakan yang dibentuk berkomitmen untuk mempromosikan perdamaian dengan media kreatif seperti BoardGame For Peace, Komik, dan buku-buku yang mengajarkan nilai-nila perdamaian. Buku-buku yang telah diterbitkan tersebut telah digunakan oleh berbagai sekolah di Indonesia dan mendapatkan berbagai penghargaan. 

Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab  yang sama untuk perdamaian dan ia juga mengajak seluruh pihak harus bersama-sama menghadapi dunia ini karena terorisme bukan hanya disebabkan karena konflik agama tetapi karena paham-paham kekerasan yang sudah menyebar dan menjadi seperti penyakit kanker yang dapat mengancam perdamaian.

Kedua pembicara juga mengajak seluruh kaum muda untuk bisa bersama-sama melakukan aksi nyata dalam perdamaian dan perlu banyak sekali ruang-ruang publik atau ruang perjumpaan yang dapat menyatukan berbagai orang yang berbeda-beda sehingga dapat mengklarifikasi prasangka-prasangka yang timbul antar umat beragama dan suku-suku di Indonesia.

Dalam sesi kedua “Youth Focus Dialogue For Peace” yang diprakarsai Divisi Mahasiswa Soka Gakkai Indonesia, para mahasiswa membahas topik “ Keberagaman” dalam sebuah talkshow yang dimana pembicaranya merupakan perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas yang membahas mengenai kekuatan dari sebuah keberagaman yang ada di Indonesia.

Para peserta yang hadir mengikuti acara ini terdiri dari berbagai kalangan seperti murid-murid sekolah, mahasiswa, LSM, dan juga anggota Soka Gakkai Indonesia. Pada acara ini peserta juga memberikan komentar-komentar yang positiv sehingga mereka dapat memahami dan menanam benih-benih perdamaian di hati mereka.