Menu
Komunitas

Komunitas

Mengubah Karma Menjadi Misi Meraih Impian

Saya terlahir di keluarga yang sudah memeluk hati kepercayaan Buddhisme Nichiren sejak tahun 1975. Masa-masa akhir sekolah dasar dan awal sekolah menengah atas menjadi salah satu kenangan terburuk dalam hidup saya. Saya sering mengalami perundungan (Ing. bullying) dan dihindari oleh banyak teman-teman karena sikap dan penampilan saya.

Mama mencoba melakukan sesuatu pada awalnya, seperti datang ke sekolah dan berbicara dengan guru, tetapi tidak ada tindakan apapun dari sekolah. Hal ini membuat saya sangat stres dan mencari pelarian dengan membaca manga (komik Jepang) dan bermain game online di komputer. Kedua hal ini akhirnya memberikan efek yang negatif dalam kehidupan saya.

Saya begitu menikmatinya dan membantu saya melupakan apa yang terjadi di sekolah. Nilai sekolah saya menurun dan orangtua pun sering memarahi saya yang sudah tidak disiplin dan hanya bermain saja. Setiap harinya, saya dirundung secara fisik seperti dipukul dan ditendang, ataupun secara mental seperti dihina dan diancam di sekolah.

Depresi menghantam saya dengan sangat keras, di bawah tekanan teman-teman disekolah, dan ditambah dengan penyakit alergi dermatitis atopik yang saya derita, yang membuat kulit saya sakit dan gatal dimana-mana, saya merasa tidak ada gunanya lagi hidup seperti ini.

Perlahan-lahan saya mulai menutup diri dari teman-teman, keluarga, dan lingkungan. Ada saat ketika saya berpikir lebih baik saya bunuh diri, tetapi saya mengurungkan niat karena takut. Pada akhirnya saya pun mulai menggunakan lebih banyak waktu saya untuk membaca komik dan bermain game.

Di saat ini, Mama saya juga mulai menyuruh saya untuk berdaimoku, tetapi saya merasa sangat malas dan tidak yakin dengan kekuatan Gohonzon. Tetapi entah mengapa saya suka  membaca buku sejarah Soka Gakkai dan majalah bulanan Soka Spirit, majalah bulanan Soka Gakkai.

Dengan membaca bimbingan yang ada di Soka Spirit, saya bisa merasakan bagaimana Buddhisme ini mengajarkan untuk tidak menyerah, dan terus maju tanpa rasa takut. Hal ini memberikan saya kekuatan untuk bertahan di masa-masa sulit di sekolah, dan perlahan-lahan semua berubah menjadi lebih baik. Meskipun begitu, saya merasa seperti di jalan yang berkabut tanpa tahu arah dan tujuan saya.

Di tahun 2012, berkat usaha keras para pimpinan ibu Honbu 3 DKI Jakarta, Mama saya mau kembali aktif di susunan Soka Gakkai. Sejak itu, masalah-masalah yang tidak tampak di permukaan pun bermunculan, harga sewa ruko yang terus bertambah tiap tahunnya membuat kami tidak ada pilihan lain selain pindah.

Mama pun berdaimoku dengan sekuat tenaga dan pada akhirnya kami mencapai kemenangan pertama setelah kembali ke Soka Gakkai, yaitu berhasil membeli ruko menggunakan kredit bank dengan harga yang terbilang sangat murah, dari yang sebelumnya hanya sewa ruko. Saya pun mulai ikut berbagai kegiatan generasi muda, dan menyebut daimoku

Di tahun ke 3 SMP, saya mulai tertarik dengan film animasi Jepang. Di sinilah awal dari keinginan kuat saya untuk pergi ke Jepang meskipun tidak tahu bagaimana caranya.

Tanpa disadari, masalah besar yang mengubah hidup saya pun datang. Saat sedang berada di rumah, saya melihat orangtua saya sedang berdebat dan mendengar bahwa keluarga kami ternyata sedang menghadapi masalah ekonomi yang sangat besar. Melihat hal ini di depan mata saya, pikiran saya menjadi kosong, dan tidak tahu harus berbuat apa.

Terlintas di pikiran saya “Apakah ini akhir dari semuanya?” “Apakah sudah tidak ada harapan lagi?” Saat pikiran-pikiran negatif itu muncul,  saya berlari ke arah Gohonzon dan mulai berdaimoku karena secara reflek hati saya tahu kalau saya membutuhkan kekuatan Gohonzon.

Setelah itu saya langsung kembali ke kamar orangtua saya dan menghentikan mereka berdebat, dan mengajak mereka berdua berdaimoku bersama. Itu adalah daimoku pertama Papa setelah lebih dari 10 tahun.

Begitu Papa dan Mama kembali tenang, saya membiarkan mereka untuk beristirahat dan tidak memikirkan masalah ini dahulu. Sejak saat itu, dunia saya berubah untuk selamanya. Saya memutuskan dan bertekad dalam hati bahwa saya sudah tidak bisa membebani orangtua lagi, dan sudah tidak bisa bersikap egois lagi untuk meminta sesuatu yang berhubungan dengan uang. Saya harus berusaha sebaik mungkin untuk tidak membuat orangtua saya stres.

Sejak itu, saya berusaha menjaga agar nilai saya di sekolah terus di atas rata-rata atau bahkan melebihi itu. Saya berusaha untuk tidak membuat orangtua saya khawatir terhadap ranking ataupun keadaan saya.

Perlahan keinginan saya untuk bisa belajar di Jepang semakin membesar. Saya pun membaca bimbingan Ikeda Sensei yang didasarkan pada Gosho Nichiren Daishonin:

“Jika kita tidak bangkit untuk menantang diri kita sekarang, kapan lagi?”

Terpacu oleh kata-kata tersebut, saya mulai mencari tahu informasi untuk pergi ke Jepang, termasuk informasi beasiswa. Di awal tahun 2015, saya pun pergi ke kaikan untuk mengikuti seminar dari Universitas Soka di Jepang. Saat itu saya mulai bertekad ingin ke Universitas Soka Jepang. Saya sadar keadaan ekonomi keluarga kami sangat sulit, oleh karena itu saya harus berjuang keras untuk melamar beasiswa ke universitas-universitas lain di Jepang, tetapi pilihan utama saya adalah Universitas Soka.

Saya pun bergiat belajar di sekolah demi menjaga nilai dan untuk menambah pengetahuan saya lebih dalam. Walaupun begitu, masalah tetap tidak terhindarkan. Masalah ekonomi semakin membesar, hubungan dengan orang lain di sekolah dan alergi yang memburuk, dan stres dari berbagai masalah yang datang.

Saya mulai meluangkan waktu untuk menyebut daimoku dan membaca cerita pengalaman orang-orang lewat Soka Spirit sebanyak mungkin. Saya merasa dengan membaca cerita mereka, motivasi saya diperkuat dan saya semakin yakin dengan target saya sendiri.

Di pertengahan tahun 2015 setelah kenaikan kelas, saya mulai melakukan Praktik Kerja Lapangan selama 2 bulan setengah dan dalam kurun waktu itu, saya mulai belajar bahasa Jepang secara otodidak dengan ponsel setiap hari. Saya juga belajar bahasa Jepang dari menonton animasi Jepang.

Dalam waktu 2 bulan setengah tersebut, kemampuan bahasa Jepang saya cukup meningkat dan tanpa waktu lama, saya langsung menerobos untuk mengambil Japanese Language Proficiency Test atau JLPT level N4, dan saya berhasil lulus tes. Di tengah perjalanan, keraguan kembali muncul. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, apa yang benar-benar saya inginkan? Mengapa saya ingin kuliah di Jepang?

Tidak Ada Doa Yang Tidak Terkabulkan

Meskipun awalnya saya tidak tahu, tetapi perlahan-lahan, semuanya menjadi lebih jelas melalui perjuangan saya untuk Kosenrufu. Di saat saya menghadapi berbagai masalah di sekolah menjelang akhir 2015, saya pun berdaimoku, membaca Soka Spirit dan sebisa mungkin berpartisipasi dalam kegiatan SGI.

Perlahan-lahan saya merasa misi saya terbangkitkan sebagai Bodhisatwa Muncul Dari Bumi untuk menyebarkan Hukum Gaib dan juga harus berjuang untuk kebahagiaan orang lain. Begitu saya menyadari hal ini, saya akhirnya berhasil menemukan tujuan hidup yaitu untuk Kosenrufu.

Saya juga bertekad untuk membalas budi kepada Ikeda Sensei dan melaporkan kemenangan saya ke Sensei dengan bukti nyata. Nichiren Daishonin mengatakan “Dengan daimoku, tiada doa yang tak terkabulkan”.

Sejak membaca bimbingan tersebut, saya pun bertekad untuk menyebut daimoku setiap hari selama 1 jam  dam menulis tekad saya. Saya pun mulai menjadi lebih positif dan yakin bahwa saya bisa mengubah kondisi saya menjadi lebih baik.

Semakin bertekad, fungsi iblis pasti akan muncul. Sesaat sebelum Ujian Nasional, saya jatuh sakit dan terkena penyakit hepatitis A. Akibatnya, ujian saya menjadi tertunda dan saya harus dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu karena seringkali saya makan di warteg demi menghemat dan kurang tidur.

Tentu saja, hal ini membuat saya cukup patah semangat karena ini bisa mempengaruhi nilai saya untuk mendaftar di ke Universitas Soka. Saya pun menyebut daimoku dan beristirahat sebanyak mungkin demi memulihkan kesehatan.

Berkat hal ini, saya bisa mengikuti Ujian Nasional susulan dengan nilai memuaskan dan berhasil meraih nilai Ujian Nasional bahasa Inggris tertinggi di sekolah dengan nilai 98. Setelah lulus, saya mulai lebih fokus terhadap persiapan untuk pergi ke Jepang. Saya juga berusaha untuk lebih aktif di pertemuan SGI dan lebih giat menyebut daimoku. Tidak lama kemudian, saya kembali ditimpa musibah.

Saat sedang mengendarai motor selagi membawa barang pesanan toko, saya menabrak angkot dengan cukup keras dan pingsan. Kepala saya dan tubuh saya terbentur cukup keras dan mungkin bila tidak ada helm, saya mungkin sudah tidak ada di dunia ini. Meskipun begitu, saya benar-benar merasa kekuatan Gohonzon dan dewa-dewi yang melindungi saya.

Gaibnya, walaupun saya tertabrak cukup keras, tidak ada dampak buruk terhadap kepala saya saat di rontgen. Hari itu, saya benar-benar berterima kasih terhadap Gohonzon.Sejak saat itu saya merasa lebih bersemangat dan bisa menyebut daimoku lebih banyak. Daimoku yang awalnya terasa berat, perlahan-lahan menjadi menyenangkan dan membuat saya nyaman. Saya juga semakin berjuang di kegiatan-kegiatan mahasiswa. Saya pun mulai mempersiapkan berbagai dokumen untuk mendaftar sebelum tenggat waktu dari Universitas Soka Jepang, dan juga mengambil tes-tes yang harus dijalani.

Saya baru mengetahui bahwa uang jaminan harus masuk sebelum tenggat waktu. Kami sekeluarga bingung bagaimana bisa mendapatkan uang jaminan yang cukup besar bagi kami. Mama dan saya berdaimoku mati-matian untuk mendapatkan jalan keluar dan akhirnya dua hari sebelum tenggat kami berhasil mengumpulkan uang jaminan.

Tekanan untuk melawan kelemahan diri sendiri yang terkadang merasa ragu dan cemas apakah dapat diterima di Universitas Soka Jepang juga muncul. Tetapi upaya melawan kelemahan diri sendiri membuat saya semakin rajin menyebut daimoku, dari yang sebelumnya hanya satu jam menjadi dua jam.

Tekad saya semakin kuat dan saya semakin yakin pasti dapat diterima oleh Universitas Soka Jepang dan mendapatkan beasiswa penuh. Tidak peduli apapun yang terjadi saya harus membuktikan kekuatan Gohonzon.

Salah satu kutipan dari bimbingan Sensei yang saya baca,

“Doa dengan tekad kuat akan menggerakkan seluruh alam semesta dan dewa – dewi pelindung untuk mendukung saya.”

Pada 8 Desember, ketika kedua orangtua saya sedang pergi, saya tiba-tiba mendapatkan surel pengumuman dari Universitas Soka. Jantung saya berdegup sangat keras. Namun semua itu berubah menjadi tangis bahagia yang penuh rasa terima kasih ketika saya membaca bahwa saya diterima dan mendapat beasiswa penuh! Saya segera membuka butsudan dan menyebut daimoku.

Lalu saya menelepon Mama dan kami menangis gembira bersama-sama.

Tantangan yang datang tidak sampai di situ saja. Saya harus menyiapkan uang untuk membayar uang sekolah dan berbagai hal lain yang harus dipersiapkan.

Tentu saja, awalnya terlihat mustahil, bahkan Mama mulai putus asa melihat banyaknya hal yang harus dipersiapkan. Akan tetapi, saya percaya dan yakin kami pasti menang. Dan pada akhirnya tantangan pun kami berhasil atasi satu per satu.

Semua ini tidak akan tercapai tanpa dukungan dari teman-teman seperjuangan di Soka Gakkai. Mereka mengirimkan daimoku dan memberikan semangat kepada saya.

Gohonzon sudah membuka jalan untuk saya. Saya bertekad untuk berjuang demi kosenrufu dunia sebaik mungkin. Saya mulai menyadari bahwa masalah-masalah yang saya hadapi membuat saya lebih kuat dan begitu juga hubungan pertemanan dengan teman-teman saya.

Sekarang, sudah lebih dari 5 bulan saya di Jepang. Hari-hari saya menjadi sangatlah menyenangkan dan membuat saya bisa menjadi lebih siap untuk menghadapi masalah-masalah yang saya miliki.

Saya tidak menyangka hidup saya akan berubah menjadi seperti sekarang. Terima Gohonzon! Terima kasih Sensei! Terima kasih Soka Gakkai!