Menu
Komunitas

Komunitas

Mengubah Karma Menjadi Misi Meraih Impian

 

Keluarga saya mulai melaksanakan Buddhisme Nichiren pada tahun 2004 ketika Ibu saya didiagnosa leukimia dan harus menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Saya dan Ibu mulai menyebut “Nam-myoho-renge-kyo” setelah Bibi saya mengenalkan Buddhisme Nichiren kepada kami. Tepat sebelum operasi dilakukan, kondisi Ibu membaik dan hasil pemeriksaan menunjukkan beliau sepenuhnya sehat—bahkan dokter pun begitu terkejut! Dengan bukti nyata ini, Ibu menjadi yakin dengan hati kepercayaan ini.

Bagi saya, saya menghadapi tantangan kesehatan dengan hipertiroid sejak 2015. Saya mengalami pengalaman di ambang kematian karena badai tiroid, dengan denyut jantung sangat cepat yang bisa menyebabkan kejang. Ketika itu, saya harus meminum delapan tablet obat setiap hari. Saya banyak bertanya pada diri sendiri, mengapa saya harus mengalami begitu banyak penderitaan dalam hidup ini? Apakah saya harus terus meminum obat sepanjang hidup? Apakah saya harus dioperasi? Pada akhirnya, saya bisa menerimanya dan belajar bagaimana menghadapi gejala-gejala yang muncul dan menganggap obat sebagai “vitamin”. Akan tetapi, pada saat itu saya belum benar-benar menyadari keagungan hati kepercayaan ini.

 

Kesadaran dalam Hati Kepercayaan

Titik baliknya terjadi setelah saya menyelesaikan ujian level A pada tahun 2016. Saya selalu ingin mengejar hasrat dalam studi budaya Tiongkok dan sama sekali tidak bimbang untuk mendaftar di jurusan tersebut. Dalam kurun waktu itu, saya membuat sebuah tekad kuat dalam salah satu pelatihan Renaisans Byakuren, yakni pelatihan kepemimpinan selama enam bulan bagi Divisi Pemudi, agar tekad ini menjadi misi saya. Pada saat itu, saya benar-benar ingin menantang dan menempa hati kepercayaan saya. Hal pertama yang terjadi setelah saya tiba di rumah dari pertemuan Renaisans Byakuren adalah menerima surel (atau email) dari Nanyang Technological University (NTU) yang menawarkan tempat kepada saya dalam studi budaya Tiongkok! Saya sangat berterima kasih kepada Gohonzon dan menyebut daimoku agar diberi kesempatan untuk membalas budi ini!

Sejak itu, kesempatan dan panggung untuk itu pun “muncul” satu demi satu bagi saya untuk berkontribusi dalam kegiatan Soka—saya mengerahkan diri di chiku, dalam kegiatan Divisi Mahasiswa/i, dan juga dalam pertemuan Ikeda Kayo-kai. Pada Juni 2017, saya menerima peran sebagai pimpinan chiku. Saya mencapai begitu banyak hal dalam delapan bulan yang singkat setelah ujian Level A, sesuatu yang sebelumnya mustahil bagi saya. Hidup saya berkembang besar lewat hati kepercayaan!

Setelah itu, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri Kursus Pelatihan Divisi Mahasiswa/i antara Asosiasi Soka Singapura dan Soka Gakkai Malaysia pada Agustus (2018). Saya dapat berbagi kesan saya mengenai Revolusi Manusia Baru Jilid 30 bab “Gunung Besar”, yang ditulis Ikeda Sensei untuk generasi muda. Ada satu episode yang sangat berkesan bagi saya.

Shin’ichi Yamamoto (tokoh utama dalam novel yang mewakili Ikeda Sensei) mengingat 6 Januari 1951 ketika gurunya, Toda Sensei, sedang mengalami kesulitan besar. Toda Sensei memanggil Shin’ichi ke rumah dan memercayakan semua kepadanya—Gakkai, perusahaan, dan juga keluarganya. Toda Sensei berkata, “Misi saya dalam hidup ini juga merupakan misimu. Kamu mengerti, bukan? Tidak peduli apapun yang terjadi, jadilah orang yang kuat.” Episode ini mencerminkan tidak hanya hati guru untuk murid, tetapi juga kepercayaan berakar mendalam Toda Sensei kepada Ikeda Sensei muda, bahwa Ikeda Sensei pasti akan memenuhi misi yang dipercayakan kepadanya.

Saya merasa bahwa pastilah ada alasan mengapa Ikeda Sensei menceritakan episode ini antara dirinya dan Toda Sensei dalam bab “Gunung Besar”. Seolah-olah Ikeda Sensei ingin memberitahu kita setiap orang pesan yang sama, bahwa misinya di dunia ini adalah misi kita juga, dan bahwa beliau memercayakan segalanya dan masa depan organisasi ini kepada kita.

Saya sangat terinspirasi dan benar-benar ingin merespons Ikeda Sensei yang saya anggap sebagai guru kehidupan, dengan semangat Shin’ichi Yamamoto! Saya bertekad untuk mengajak setidaknya 25 teman baru mengunjungi Pameran Sutra Bunga Teratai. Ketika divisi mahasiswa/i diberi kepercayaan dengan misi menjadi pemandu pameran, saya tidak ragu dan langsung mendaftar.

 

Terobosan dalam Berbagi Buddhisme

Saya menyebut daimoku agar orang-orang yang membutuhkan Buddhisme Nichiren untuk muncul dalam hidup saya. Sepanjang 25 hari Pameran Sutra Bunga Teratai di the Art House Oktober 2017 yang lalu, saya merasakan banyak terobosan dan membangun banyak ikatan dengan orang-orang di sekitar saya. Secara keseluruhan, saya membawa lebih dari 30 teman ke pameran yang mengagumkan ini.

Terobosan pertama saya datang ketika saya mengeluarkan keberanian untuk mengundang seorang profesor Universitas Teknologi Nanyang (NTU) ke pameran ini! Saya bertemu dengannya pada sebuah seminar ekstrakurikuler. Saya lalu mengetahui bahwa beliau mengajar mata kuliah seni religius, dan langsung melihat ini sebagai kesempatan untuk mengundangnya ke pameran! Beliau sangat tertarik, bertanya pada saya secara lebih mendetail, dan mengatakan dia akan datang ke Pameran Sutra Bunga Teratai. Terobosan pertama ini dalam mengundang seorang profesor menguatkan keberanian saya untuk mengundang lebih banyak orang lagi.

Teman-teman ekstrakurikuler saya dari Asosiasi Mahasiswa PBB (AMPBB) kebetulan mendengar pembicaraan saya dengan profesor itu, dan mengusulkan agar kami mengadakan karyawisata ke pameran pada salah satu minggu reses. Kami menghabiskan lebih dari dua setengah jam di pameran, mendiskusikan nilai-nilai dan pesan di balik Pameran Sutra Bunga Teratai secara mendalam. Salah seorang ketua kegiatan ekstrakurikuler bahkan menyebut “Nam-myoho-renge-kyo” setelah membaca papan panel mengenai “Buku Doa Mahatma Gandhi dalam bahasa Tamil”, yang merupakan bahasa ibunya. Seorang teman lainnya berkomentar bahwa dia belum pernah bertemu Buddhisme seperti ini—sungguh tak terlupakan! Meski masing-masing memiliki keyakinan yang berbeda-beda, kami semua pulang dengan tekad baru menuju tujuan yang sama yakni perdamaian dunia.

Setelah itu, yang sangat mengejutkan bagi saya, banyak teman yang berinisiatif mengatur waktu mengunjungi pameran Sutra Bunga Teratai bersama saya. Mereka bahkan bertanya mengapa saya tidak mengajak mereka lebih awal. Saya yakin bahwa doa dan tekad kuat saya telah menciptakan sebab-sebab ini dalam jiwa mereka.

Selain harus mengatasi kuliah, tanggung jawab Gakkai dan berkali-kali membawa teman ke pameran, saya juga menjalani peran sebagai pemandu pameran Sutra Bunga Teratai. Selama kurun waktu ini, Ibu sangat khawatir karena saya sering pulang larut malam. Saya menghadapi dan menantang segalanya dengan doa, titik awal hati kepercayaan saya. Selama bertugas, saya akan mencurahkan segenap tenaga dengan semangat menyayangi setiap orang di depan saya, berbagi dengan segenap hati tentang Buddhisme dan nilai-nilai universal Sutra Bunga Teratai dengan pengunjung. Meski merasa lelah, melihat senyuman di wajah mereka, yang berterima kasih atas penjelasan saya, dan melihat mereka pulang setelah terinspirasi, membuat saya merasa semua rasa lelah itu sungguh bernilai. Faktanya, saya merasa belajar begitu banyak dari mereka!

Satu kejadian yang berkesan terjadi ketika saya bertugas sebagai pemandu. Seorang anggota mendekati saya dan mengatakan bahwa aksara mandarin dari kata kosenrufu sesungguhnya ditulis dalam naskah Sutra Bunga Teratai yang diterjemahkan Kumarajiva. Dia bahkan menunjukkan lokasi tepatnya di dalam manuskrip yang dipamerkan kepada saya. Saya sangat tersentuh, karena mengingatkan saya tentang misi mendalam dari masa lampau yang tak berawal sebagai Bodhisatwa Dari Bumi! Rasa kemisian ini memungkinkan saya menarik keluar kekuatan dan daya hidup untuk terus berjuang hingga perjalanan pameran ini berakhir.

Meskipun mengerahkan diri dalam kegiatan Soka benar-benar memuaskan, hidup tidak selalu berjalan mulus. Namun apabila saya merasa patah semangat ataupun kalah, saya akan selalu teringat apa yang dikatakan Ikeda Sensei dalam salah satu bimbingannya, “Orang-orang yang ingat bahwa mereka memiliki misi hidup yang unik akan kuat. Apapun masalah yang mereka hadapi, mereka tidak akan kalah. Mereka bisa mengubah semua masalah mereka menjadi katalis untuk pertumbuhan menuju masa depan yang penuh harapan.”

 

Meraih Kemenangan demi Kemenangan

Di tengah-tengah upaya menantang segalanya yang saya lakukan, saya meraih berbagai kemenangan.

Hormon tiroid saya sekarang berada di tingkat yang terkendali, dan obat yang harus saya minum setiap hari sudah dikurangi hingga hanya satu tablet. Dan itu terjadi satu minggu sebelum saya membagikan cerita pengalaman saya pada pertemuan peringatan 18 November. Ini sungguh merupakan sebuah tonggak pencapaian karena saat terdiagnosa dengan kondisi itu pada 2015 saya harus meminum delapan tablet setiap hari!

Saya berhasil mendapatkan beasiswa senilai S$ 1.200 dari organisasi Business China Singapore untuk sebuah pertukaran musim dingin pada Desember dan mampu menanamkan banyak bibit persahabatan! Dan saya juga menjadi bagian dari panitia penyelenggara yang memimpin satu tim ke Xi’an untuk Summer Learning Journey pada Juni 2018.

Untuk kegiatan ekstrakurikuler, saya terpilih sebagai Ketua Tim Ekspedisi Generasi Muda untuk Proyek Meraki2.0. Pada intinya, kami pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk memberikan bantuan kepada Pengungsi Rohingya dan Chin di sana pada Juni. Saya benar-benar kehilangan kata-kata ketika mengetahui bahwa saya terpilih menjadi Ketua Sayap Kemanusiaan NTU-AMPBB untuk tahun akademik berikutnya.

Dan yang paling berkesan di hati saya adalah baru-baru ini saya berbagi Buddhisme dengan seorang teman lama yang juga mendaftar ikut Youth Summit Asosiasi Soka Singapura! Dan saya melihat banyak perubahan positif dalam dirinya sejak dia mulai melaksanakan hati kepercayaan, yang merupakan suatu bukti nyata. Saya benar-benar senang bisa mengenalkan Buddhisme padanya, sebuah filosofi yang begitu berpengaruh pada hidup saya. Saya berharap bisa bekerja untuk kosenrufu bersamanya, teman seperjuangan baru dalam hati kepercayaan.

Seorang teman saya berkomentar bahwa dia terkesan dengan bagaimana saya bisa melakukan banyak hal dalam hidup saya. Nyatanya, banyak teman saya yang menyatakan kekaguman mereka melihat saya yang selalu sibuk mengerjakan sesuatu. Saya juga ingin menambahkan bahwa saya meraih hasil yang baik untuk mewujudkan tekad saya di tahun 2018 dengan melakukan yang terbaik dalam menangani semua aspek hidup saya dan mengembangkan kapasitas saya sebagai pelaksana sejati Buddhisme Nichiren. Dan dengan orang-orang yang telah saya ajak berdialog Buddhisme, saya bertekad untuk terus menjalin komunikasi dengan mereka dan terus berdoa agar mereka menjadi bahagia dengan menyadari Kebuddhaan mereka.

Saya sangat berterima kasih kepada semua teman seperjuangan dalam hati kepercayaan yang terus menyemangati saya selagi kami melangkah bersama di jalan kosenrufu ini. Saya akan merespons Ikeda Sensei dalam cara yang paling langsung, dengan menjadi bukti nyata itu sendiri. Karena tidak cara yang lebih baik untuk membalas budi kepada guru selain lewat kemenangan kita sendiri.

Menuju Youth Summit, saya bertekad menyebut daimoku agar semua sesi latihan berjalan lancar ketika saya berada di luar negeri selama bulan Juni dan untuk kesuksesan acara ini di bulan Agustus. Saya bertekad menghadiri semua sesi latihan dengan gembira sambil membuat penemuan baru mengenai diri saya sendiri dan menyemangati lebih banyak teman untuk ikut bersama kami dalam perjalanan memilih harapan ini.

 

Sumber: Creative Life, majalah bulanan Asosiasi Soka Singapura, edisi Juli 2018.