Menu
Filosofi

Konsep-Konsep Buddhisme

Bodhisatwa Membuka Jalan Menuju Kebahagiaan bagi Semua

Konsep #5: Bodhisatwa dari Bumi

 

Mengapa saya lahir di dunia ini? Untuk apa saya hidup? Sepanjang sejarah, semua orang, mulai dari filsuf hingga masyarakat awam, bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan yang fundamental ini.


Jawaban Buddhisme adalah kita ada di dunia ini untuk menjadi bahagia mutlak sambil mengatasi segala macam tantangan, mengembangkan kehidupan yang gigih dan penuh sukacita, serta membuka jalan menuju kebahagiaan bagi orang lain. Inilah yang Buddhisme
sebut sebagai jalan Bodhisatwa.

Ikeda Sensei menjelaskannya sebagai berikut.

Kita harus membuka mata kita pada potensi tak terbatas yang dimiliki setiap orang.
Dalam arti yang paling luas, misi agama adalah menaklukkan keegoisan serta memotivasi kita untuk saling membantu dan menyemangati satu sama lainnya.
Jalan Bodhisatwa dari Buddhisme Mahayana, yang didasarkan pada filosofi kemuliaan kehidupan, dipraktikkan dalam masyarakat sebagai perjuangan yang penuh keberanian dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatasi kepentingan diri, berkontribusi untuk orang lain dan masyarakat, menjalani kehidupan dengan baik, serta meningkatkan diri kita.

 

Siapakah Bodhisatwa Dari Bumi?

 

Di dalam Sutra Bunga Teratai, Bodhisatwa Dari Bumi adalah suri teladan jalan Bodhisatwa. Mereka muncul dalam bab "Bermunculan dari Bumi", bab ke-15 sutra tersebut. Murid-murid Sang Buddha mengajukan diri untuk memenuhi misi penyebaran Hukum Nam-myoho-renge-kyo setelah kemoksaan Sang Buddha. Akan tetapi, Buddha Sakyamuni mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama melatih sekelompok Bodhisatwa yang belum pernah diketahui, yang digambarkan "sebanyak butiran pasir enam puluh ribu Sungai Gangga" dan "mampu melindungi, memeluk, membaca, melafalkan, dan secara luas menyebarkan sutra ini" (The Lotus Sutra and Its Opening and Closing Sutras, 252).

 

Pada saat itu juga, bumi bergetar dan terbelah, lalu jutaan Bodhisatwa yang cemerlang keluar seraya menari-nari, siap untuk melaksanakan misi menyebarkan Sutra Bunga Teratai pada masa yang paling sulit setelah wafatnya Sang Buddha, yaitu masa sekarang.


Ikeda Sensei mengatakan, "Tampaknya 'keluar seraya menari-mari' adalah gambaran yang sesuai untuk kemunculan Bodhisatwa Dari Bumi. ... Mereka tidak muncul dengan terpaksa karena disuruh oleh Sakyamuni. Sebaliknya, [mereka] melompat dan menari-mari dengan sangat gembira bahwa 'Akhirnya, sekaranglah waktunya kita!'" (The Wisdom of the Lotus Sutra, Jilid 3, 252).

 

Apa Saja Ciri Khas Bodhisatwa Dari Bumi?

 

Nichiren Daishonin meyakini bahwa misi pribadinya sama dengan misi Bodhisatwa Dari Bumi. Daishonin mengabdikan dirinya untuk memenuhi prasetia Bodhisatwanya, yaitu menyebarkan Sutra Bunga Teratai dengan penuh sukacita dan menuntun semua orang menuju pencerahan.


Daishonin menghadapi ujian berat yang mengancam nyawa demi menyebarkan ajaran tentang Nam-myoho-renge-kyo, yang terus memberdayakan orang-orang di seluruh dunia, bahkan setelah hampir 800 tahun berlalu. Inilah bukti betapa universalnya ajaran tersebut.

 

Jadi, apa kaitan antara cita-cita Bodhisatwa Dari Bumi ini dengan kehidupan kita sendiri? Dengan semangat yang sama seperti para Bodhisatwa ini dan Nichiren Daishonin, kita mempraktikkan Buddhisme untuk menjalani kehidupan yang paling bermakna dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Mari kita lihat sejumlah ciri khas Bodhisatwa Dari Bumi yang dibahas oleh Daishonin dan dapat kita wujudkan dalam kehidupan.
 

 

  1. "Fungsi api adalah membakar dan memberikan penerangan" ("Pewarisan Hukum Pokok Kehidupan," The Writings of Nichiren Daishonin, Jilid 1, 218). Sebagai Bodhisatwa yang pemberani, kita "membakar" penderitaan kita dan mengubahnya menjadi cahaya kearifan untuk menunjukkan kepada orang lain tentang cara untuk terus maju dalam kehidupan, tanpa ditaklukkan oleh apa pun.
     
  2. "Fungsi air adalah membersihkan kotoran" (Ibid., 218). Kita memurnikan jiwa dengan melantunkan Nam-myoho-renge-kyo. Dengan tidak tercemar oleh delusi, atau pikiran yang tidak berdasarkan akal sehat, dan tantangan dari kehidupan sehari-hari dan masyarakat, kita menghadapi apa pun secara langsung, menyebarkan sikap yang bersemangat dan tulus kepada semua orang di sekitar kita.
     
  3. "Angin meniup debu dan menghembuskan kehidupan bagi tumbuhan, binatang, dan manusia" (Ibid., 218). Umat Buddha Nichiren tidak pernah membiarkan dirinya ditaklukkan oleh rintangan. Sebagai Bodhisatwa, kita menularkan energi baru kepada orang lain dengan membersihkan semua pengaruh negatif seolah-olah semua ini tidak lebih "dari debu yang tertiup angin ("Surat Membuka Mata", The Writings of Nichiren Daishonin, Jilid 1, 280).
     
  4. "Bumi menumbuhkan rerumputan dan pepohonan, dan langit memberikan kelembaban yang menyuburkan" (Ibid., 218). Seperti bumi yang menopang semua tumbuhan dan hujan yang menyuburkannya, kita percaya bahwa semua orang sama-sama memiliki sifat Buddha, dan kita merangkul setiap orang dengan dorongan semangat yang hangat, sambil berupaya membangun masyarakat damai dan harmonis yang menghormati martabat kehidupan, tempat semua orang dapat hidup sejahtera.

 

Ikeda Sensei mengatakan sebagai berikut.

Sesuai dengan prasetia sebagai Bodhisatwa, kita sudah memilih untuk lahir pada Masa Akhir Dharma yang sarat kejahatan, dengan segala macam nasib atau karma—seperti penyakit, kesulitan keuangan, perselisihan keluarga, kesepian, kepercayaan diri yang rendah, dan lain sebagainya—untuk membantu menuntun orang lain menuju pencerahan. Namun, dengan melantunkan Nam-myoho-renge-kyo, berjuang dalam pelaksanaan Buddhis untuk diri sendiri dan orang lain, serta mendedikasikan diri demi kosen-rufu, atau terwujudnya perdamaian dunia melalui pemberdayaan dan kebahagiaan setiap individu, daya hidup yang penuh tenaga sebagai Bodhisatwa Dari Bumi dan suasana jiwa Kebuddhaan yang luas meluap dari dalam diri kita. Jiwa kita akan berlimpahan dengan kearifan, keberanian, kekuatan, harapan, dan kegembiraan untuk mengatasi setiap kesulitan dan rintangan menakutkan yang muncul. Dengan menang secara berani atas serangan karma, kita memperlihatkan kebenaran ajaran Buddhisme Nichiren dan karunia besar dari praktik Buddhis kita, dan terus memajukan kosen-rufu. 

Bila tersadarkan pada jati diri sendiri sebagai Bodhisatwa Dari Bumi, kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa kita lahir di dunia ini, sehingga dapat memberikan harapan kepada orang lain.