Menu
Filosofi

Konsep-Konsep Buddhisme

Ketika Kita Berubah, Lingkungan Kita Akan Berubah

Konsep #6: Menegakkan Ajaran Sesungguhnya untuk Menenteramkan Negara.

Lebih dari 760 tahun yang lalu, Nichiren Daishonin menyerahkan risalah “Perihal Menegakkan Ajaran Sejati demi Ketenteraman Negeri” kepada Hojo Tokiyori, penguasa de facto Jepang pada masanya. Karya ini mengambil bentuk dialog antara seorang tuan rumah dan tamunya, yang masing-masing mewakili Nichiren Daishonin dan Tokiyori. Di akhir dialog, mereka bertekad untuk bersama-sama berupaya demi kebahagiaan masyarakat.

Mengapa saya harus peduli pada sebuah risalah yang ditulis lebih dari 760 tahun yang lalu?

Dalam bagian pembukanya, Nichiren Daishonin menggambarkan kondisi di Jepang pada abad ke-13 sebagai berikut.

Pada tahun-tahun belakangan, telah terjadi gangguan-gangguan yang tidak biasa di langit, kejadian-kejadian aneh di bumi, bencana kelaparan dan wabah penyakit, yang memengaruhi setiap penjuru kerajaan dan menyebar ke seluruh negeri. ... Lebih dari setengah populasi telah direnggut nyawanya oleh kematian, dan hampir tidak seorang pun yang tidak berduka. (The Writings of Nichiren Daishonin, jilid 1, hlm. 6)

      Setelah tujuh abad berlalu, kita terus saja menghadapi tantangan serupa. Prinsip-prinsip yang diajarkan dalam risalah ini dapat menjadi pedoman saat kita menangani masalah-masalah dalam masyarakat serta bekerja untuk perdamaian dan kebahagiaan.


Apakah artinya “menegakkan ajaran sejati”? 

Pertama-tama, “menegakkan ajaran sejati” berarti menerapkan ajaran Sutra Bunga Teratai, bahwa semua orang mempunyai sifat Buddha, dalam kehidupan kita sendiri. Dengan mengembangkan keyakinan terhadap ajaran ini dan berbaginya dengan orang lain, kita bisa membuat kepercayaan ini menjadi fondasi masyarakat.

     Tentu saja mengatakannya lebih mudah daripada melakukannya. Hal ini membutuhkan upaya yang berkomitmen. Itulah sebabnya Nichiren Daishonin mendesak, “Anda harus secepatnya mengubah prinsip-prinsip yang Anda pegang di hati dan memeluk kendaraan tunggal yang sejati, doktrin baik tunggal [dari Sutra Bunga Teratai]” (WND-1, 25).

     Bagi kita sekarang, memeluk Sutra Bunga Teratai berarti melantunkan Nam-myoho-renge-kyo, inti sari dari sutra tersebut, dan menegakkan keyakinan bahwa semua orang pantas mendapatkan penghormatan tertinggi. Praktik melantunkan Nam-myoho-renge-kyo dan berbagi Buddhisme membantu kita membebaskan diri dari gagasan dan prasangka yang sebelumnya kita anut, serta mengembangkan hati mahaluas yang memedulikan kebahagiaan seluruh umat manusia.

     Tentu saja tidak setiap orang harus melantunkan Nam-myoho-renge-kyo. Sebaliknya, tujuan kita adalah menjadikan filosofi yang menghormati jiwa dari Sutra Bunga Teratai sebagai fondasi masyarakat. Seperti yang dikatakan pendiri Soka Gakkai, Tsunesaburo Makiguchi, kita terlibat dalam “proses memurnikan gagasan dan pemikiran negatif yang merajalela pada Masa Akhir Dharma ... dengan kebenaran dari Nam-myoho-renge-kyo”.


Apa yang bisa saya lakukan untuk mewujudkan cita-cita ini?

Saat kita berubah, lingkungan kita pasti akan berubah. Tidak peduli betapa pun sains, teknologi, ataupun undang-undang berkembang, tanpa perubahan hati secara mendasar, kita tidak bisa mengubah masyarakat. Meningkatkan diri sendiri dan berkontribusi bagi kebahagiaan orang lain adalah kunci untuk transformasi ini. Berikut ini ada tiga cara bagi kita untuk membuat perubahan yang positif:

1. Melantunkan Nam-myoho-renge-kyo untuk masyarakat yang damai.
Kebahagiaan kita tidak terpisahkan dari kebahagiaan orang lain. Ikeda Sensei mengatakan, “Kunci untuk membangun perdamaian dan kemakmuran di dunia kita... ada di dalam hati manusia ... Orang yang mendoakan kedamaian dan ketenteraman masyarakat serta bertenggang rasa terhadap orang lain akan menyadari perlunya berkontribusi bagi masyarakat dan melakukan aksi nyata.”

2. Berbagi Buddhisme.
Berbagi Buddhisme dengan orang lain adalah tindakan berani yang membuat kita menjadi makin perhatian kepada orang-orang di sekitar. Hubungan yang saling percaya pun akan terbangun. Ikeda Sensei mengatakan, “Yang terpenting ... adalah berdoa dengan sungguh-sungguh untuk bisa menyampaikan tentang Nam-myoho-renge-kyo kepada orang-orang yang sedang susah atau menderita, lalu berbagi Buddhisme Nichiren dengan tulus dan percaya diri di lingkungan sekitar Anda.”

3. Membina orang-orang berkemampuan.
Pada akhir risalah ini, sang tamu berikrar “untuk mewujudkan perdamaian di dunia ini tanpa menundanya.” Satu orang yang berkomitmen dapat menginspirasi orang lain yang tak terhitung. Ikeda Sensei mengatakan, “Satu benih yang dipelihara akan tumbuh menjadi tanaman dan pada gilirannya akan menghasilnya banyak bibit; setiap bibit itu adalah sumber untuk menghasilkan lebih banyak bibit yang tak terhitung. Dalam cara yang sama, segalanya dimulai dari satu orang.”

       Melalui upaya setiap hari berdasarkan keyakinan kita untuk meningkatkan diri dan membantu orang lain, kita bisa menciptakan masa depan yang harmonis, saling memahami dan menghormati, serta dipenuhi harapan yang cemerlang bagi seluruh umat manusia.