Menu
Komunitas

Komunitas

Mengubah Karma Menjadi Misi Meraih Impian

Saya telah mempraktikkan filsafat Buddhisme Nichiren Daishonin yang luar biasa ini sejak tahun 2013. Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk berbagi kemenangan yang saya alami baru-baru ini.

Pada tanggal 19 November 2020, saudara laki-laki saya terjangkit COVID-19 dan keesokan harinya seluruh keluarga kami termasuk orang tua dan saya dinyatakan positif kecuali satu saudara perempuan dan keponakan saya. Saat mengetahui orang tua saya terjangkit COVID-19, saya benar-benar hancur dan putus asa. Saya bertanya-tanya mengapa orang tua saya yang sudah di rumah sejak Februari harus menghadapi ini. Saya memutuskan untuk melantunkan daimoku agar mengetahui apa yang perlu saya lakukan selanjutnya.

Dalam novel Revolusi Manusia Baru Presiden Ikeda berkata: “‘Bertekunlah mengembangkan kepercayaan Anda hingga akhir hayat. Jika tidak, Anda akan menyesal’ (WND-1, 1027). Itulah sebabnya saya ingin Anda semua hidup bangga dengan komitmen seumur hidup untuk menyebarluaskan Hukum Nam-myoho-renge-kyo. Jika Anda bertekun dalam pelaksanaan Buddhis ini hingga akhir, Anda pasti akan mencapai suasana jiwa kebahagiaan yang tak terhancurkan dan menikmati kehidupan yang penuh rezeki baik.”

Setelah melantunkan daimoku, saya mengerti mengapa kami harus menghadapi ini bersama-sama. Saya menyadari bahwa jika saya tidak terjangkit COVID-19 maka orang tua saya akan sendirian dalam isolasi. Ini benar-benar karunia dari Gohonzon bahwa anggota keluarga kami semua dirawat di rumah sakit yang sama dan bisa berjuang menghadapinya bersama-sama.

Saat itu, saya terpilih untuk menjadi pembawa acara pertemuan daring SGI Bharat (India) untuk merayakan 18 November. Hari itu, saat pertemuan diadakan, gejala COVID-19 yang saya alami semakin parah. Saya demam, sekujur tubuh sakit dan bahkan tidak ada stamina untuk berdiri. Saya benar-benar kehabisan tenaga. 

Nichiren Daishonin telah menjalani hidupnya di tengah penganiayaan yang tanpa henti dengan prasetia yang penuh welas asih untuk menuntun semua orang menuju kebahagiaan. Mengingat hal ini, dan sebagai murid sejati Nichiren Daishonin, saya memutuskan untuk tetap menjadi pembawa acara dengan keyakinan hanya inilah yang akan membantu saya menghadapi tantangan saat ini.

Ikeda Sensei berkata: Hanya ketika berjuang melawan tantangan di depan mata barulah kita dapat mengungkapkan sifat Buddha bawaan kita, yang terwujud sebagai kearifan, keberanian, dan welas asih melalui pelantunan Nam-myoho-renge-kyo serta upaya untuk berbagi filsafat universal penghormatan martabat jiwa dari Buddhisme Nichiren Daishonin.

Saat itulah saya mendapat kekuatan dan keberanian untuk bertugas sebagai MC dalam pertemuan dengan suasana jiwa yang tinggi meskipun semua serangan iblis dari berbagai penjuru. Pertemuan itu sukses besar. Buddhisme Nichiren Daishonin adalah kompas kehidupan yang membantu saya menghadapi setiap situasi sulit dengan cara yang positif. Kondisi ibu mulai membaik tetapi kondisi ayah terus memburuk. Saya mendapatkan keberanian dari bimbingan Ikeda Sensei yang berbunyi: 

Tanpa filsafat hidup dan kepercayaan yang teguh, kita seperti kapal yang tanpa kompas, tidak tahu arah yang harus kita tuju, terombang-ambing angin karma dan berakhir seperti kapal yang karam di karang. (Value Creation, majalah bulanan Soka Gakkai Bharat, 2015). Mengukir bimbingan ini dalam hati, saya tidak menyerah dan berusaha keras merawat ayah saya. Kami melakukan segala yang memungkinkan untuk memulihkan kesehatan. Saya juga terbiasa bangun pada pukul 3 pagi dan melantunkan daimoku untuk hasil yang terbaik. Saya bahkan bersahabat dengan direktur rumah sakit dan dia benar-benar menjadi dewi pelindung bagi saya. Dia memastikan bahwa saya nyaman tinggal di rumah sakit, membuat saya senyaman mungkin. Dia bahkan mengunjungi saya dan ayah saya setiap hari.

Saya juga memastikan daimoku saya akan mencapai ayah dengan berdaimoku di sampingnya. Meskipun beliau tidak sadar, saya yakin daimoku saya membantunya berada dalam suasana jiwa yang tinggi dan juga membantunya untuk tidak merasakan sakit apa pun. Melihat kami semua di sisinya, saya yakin ayah merasa sangat nyaman.

Keesokan harinya saya kembali duduk di sampingnya untuk melantunkan daimoku. Hari itu ayah memegang tangan saya, membuka matanya, menatap saya dan menutup matanya kembali. Setelah 2 hari, ayah meninggal dengan tenang, wajahnya seperti tersenyum. Kehampaan karena kehilangan ayah tentu saja tidak akan pernah terisi, tetapi ketika saya melihat kembali, saya tidak memiliki penyesalan. Saya telah melakukan yang terbaik sebagai seorang putri dan melakukan setiap tanggung jawab saya sebaik-baiknya tanpa mengeluh.

Ini mengingatkan saya pada kutipan bimbingan Sensei dan memberi saya kegembiraan yang luar biasa karena saya melaksanakan kata-kata guru saya: Ada begitu banyak anak muda yang tidak mampu berwelas asih kepada orang tuanya sendiri. Bagaimana mereka bisa diharapkan untuk peduli terhadap orang yang sama sekali asing? Upaya untuk mengatasi sikap yang dingin dan tidak peduli dalam jiwa sendiri dan mencapai…. welas asih ... adalah inti dari revolusi manusia.

Langkah pertama dalam mencapai revolusi manusia besar kita sendiri, … bekerja untuk kebahagiaan diri sendiri dan orang lain ... harus dimulai dengan membalas budi kepada orang terdekat kita, orang tua kita. Sekarang saya merasa benar-benar puas bahwa saya telah membalas budi kepada ayah saya. Nichiren Daishonin berkata: “Bagi orang yang memunculkan keyakinannya dan melantunkan Nam-myoho-renge-kyo dengan pemahaman mendalam bahwa sekarang adalah saat terakhir hidupnya, sutra menyatakan: ‘Ketika kehidupan orang-orang ini berakhir, mereka akan disambut oleh ribuan tangan Buddha, yang akan membebaskan mereka dari semua rasa takut dan menjaga mereka agar tidak jatuh ke dunia buruk.”’

Dengan bantuan kepercayaan Buddhisme Nichiren, saya dapat membantu ayah melanjutkan perjalanan abadinya dengan damai. Tujuan dari praktik agama ini adalah untuk memastikan bahwa setiap orang meninggal dalam suasana jiwa dunia Buddha dan menyatu dengan dunia Buddha alam semesta. Saya yakin bahwa ayah berada dalam suasana jiwa tertinggi bahkan saat ini. Saya merasa sangat bersyukur akan hal ini. Saya berikrar mengubah perjuangan saya menjadi misi hidup dan berprasetia untuk membantu siapa pun yang berjuang dalam keadaan yang serupa dengan kemampuan penuh saya.

Ketika Anda melantunkan daimoku dari hati untuk mendoakan sesuatu, jalan terbuka di depan Anda dan alam semesta memberi Anda kesempatan untuk mencapainya. Sangat gaib hanya beberapa hari setelah upacara kematian ayah saya, seorang kolega meminta saya untuk membantunya mendapatkan kamar rawat karena dia terjangkit COVID-19. Dia berusaha menelepon setiap rumah sakit tetapi tidak ada kamar yang tersedia. Melalui koneksi saya dengan direktur rumah sakit, saya mendapatkan kamar rawat untuknya di kamar yang persis sama dengan ayah saya.

Seperti yang Sensei katakan, “Setiap kali Anda melakukan sesuatu, Anda harus melakukannya dengan upaya 100 persen”, jadi saya mengambil kesempatan ini untuk menjaga kolega saya sepenuhnya untuk membuktikan dengan tindakan bahwa saya adalah seorang bodhisatwa. Melupakan rasa sakit karena kehilangan ayah, saya melakukan segala sesuatu untuk menjaga kolega saya. Saya berkomunikasi dengan dokter, memastikan bahwa dia mendapatkan pengobatan dan makanan yang tepat. Saya mengiriminya makanan setiap hari. Saya melakukan yang terbaik untuknya.

Saat kondisi kolega saya makin parah, saya melantunkan daimoku dengan keyakinan penuh bahwa saya akan mengeluarkannya dari situasi ini dan saya akan menang. Saya teringat pada bimbingan Ikeda Sensei: “Selama ada orang yang menderita, selama ada orang yang sengsara, pertempuran pasukan Buddha berlanjut, karena Buddha tidak bisa meninggalkan siapa pun—bahkan satu orang pun yang menderita.”

Situasi kolega saya sangat menantang karena dia memiliki penyakit bawaan seperti tekanan darah tinggi, gangguan pada ginjal dan hati. Bahkan setelah memberinya perawatan terbaik pun tidak ada tanda-tanda perbaikan. Saya merasa sangat lelah secara emosional karena teringat pada ayah. Namun sebagai murid Nichiren Daishonin, saya menggunakan setiap kepedihan dan penderitaan saya sebagai papan loncatan untuk mewujudkan jiwa dunia Buddha. Sekarang ini kolega saya sudah sembuh dan kembali ke rumah.

Ikeda Sensei memberikan bimbingan berikut mengenai misi kita sebagai bodhisattva, “Ketika kita menjaga orang lain, daya hidup kita sendiri meningkat. Ketika kita membantu orang lain memperluas suasana jiwa mereka, hidup kita juga berkembang. Tindakan yang bermanfaat untuk orang lain juga pasti bermanfaat bagi diri sendiri. Kehidupan kita dan kehidupan orang lain sungguh tak terpisahkan”. Dengan ini saya benar-benar dapat mengubah karma saya menjadi misi.

Misi saya tidak berakhir di sini dan masih berlanjut. Beberapa hari setelah kolega saya keluar dari rumah sakit, seorang kerabat jauh meminta bantuan untuk mendapatkan kamar di rumah sakit yang sama karena mereka juga positif terjangkit COVID-19. Saya menganggap ini sebagai kesempatan dan membantu mereka. Secara gaib, mereka dirawat di kamar yang sama dengan ayah dan kolega saya. Saya berdoa setiap hari dan mengambil tindakan terbaik untuk membantu mereka berkomunikasi dengan para dokter dan memastikan mereka mendapatkan perawatan terbaik. Saya yakin mereka juga akan menjadi lebih baik karena daimoku saya menjangkau mereka setiap hari dan mereka akan pulang dengan kemenangan. Setelah 3 minggu dirawat di rumah sakit, mereka dapat pulang dengan sehat.  Saya kini bertekad membantu sebanyak mungkin orang sebisa saya dan mengambil tindakan dari hati untuk menyebarluaskan kosen-rufu sekarang juga. Saya ingin mengakhiri pengalaman saya dengan kutipan ini:

Dengan membantu orang lain menjadi bahagia, kita juga menjadi bahagia. Bagaimanakah orang-orang yang sedang menderita dalam neraka, yang telah kehilangan keinginan untuk hidup, dapat bangkit kembali? Hanya memikirkan masalah kita sendiri sering kali membuat kita makin putus asa. Namun, dengan mengulurkan tangan kepada orang yang sedang menderita, kita sendiri mendapatkan kembali semangat hidup. Mengambil tindakan karena kepedulian terhadap orang lain memungkinkan kita untuk memperbaiki hidup kita sendiri.