Menu
Komunitas

Komunitas

Mengubah Karma Menjadi Misi Meraih Impian

Sejak kecil saya sering ikut orang tua saya menghadiri pertemuan Soka Gakkai. Saya juga ikut kegiatan Lion Cub, divisi anak-anak Soka Gakkai di Jakarta. Bagi saya, kegiatan di Soka Gakkai sangat menyenangkan dan membuat saya nyaman. Saya juga bertemu dengan banyak teman. Aktif di kegiatan Soka membuat saya menjadi sosok yang lebih percaya diri dan berani. Saya merasa diri saya maupun kepercayaan saya terus bertumbuh selama saya terus berjuang dalam kegiatan Soka Gakkai. Saya selalu tulus mengikuti acara apa pun yang diselenggarakan karena melalui kegiatan kosen-rufu saya bisa memupuk rezeki yang tak kasatmata dalam hidup saya.  Ikeda sensei mengatakan, “Berkontribusi untuk kesejahteraan orang lain dan menanamkan sinar harapan kepada orang-orang di sekitar kita juga membuat hidup kita sendiri gemilang dengan harapan baru dan membuatnya bersinar dengan karunia kebajikan dan rejeki.”

Sejak SMP, saya selalu memikirkan cara untuk bisa masuk ke SMA negeri favorit untuk meringankan biaya orang tua saya, karena masuk sekolah swasta biasanya membutuhkan biaya yang mahal. Walaupun masuk ke sekolah negeri favorit sangatlah sulit dan banyak saingan, tetapi saya akhirnya bisa masuk salah satu SMA negeri favorit di Jakarta. Ini berkat daimoku karena Mama selalu mengajak saya daimoku untuk menantang semua ini. Daimoku selalu menjadi landasan kami sekeluarga dalam melewati kehidupan kami sehari-hari.

Sejak dulu, Mama saya seringkali bepergian ke daerah Depok dengan kereta. Mama sering melihat anak muda berjaket kuning yang merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Setiap kali lewat stasiun UI, Mama berdaimoku dalam hati seraya berpikir bahwa dia ingin anaknya keluar dari stasiun tersebut mengenakan jaket kuning UI. Hal tersebut menjadi doa dan tekad Mama setiap kali beliau melewati stasiun UI. Namun Mama tidak pernah mengatakan keinginannya kepada saya karena takut membebani saya, apalagi karena kuliah di UI tidaklah mudah.

Ketika pameran Sutra Bunga Teratai diselenggarakan di Universitas Indonesia, saya sudah duduk di kelas 2 SMA. Saya berusaha menyempatkan waktu menjadi pemandu di pameran di sela-sela kesibukan sekolah. Saya juga terlibat dalam kebudayaan untuk acara pembukaan di UI. Pertama kali saya berada di UI, saya merasa universitas ini begitu besar, dan bertanya-tanya seperti apakah rasanya bisa berkuliah disini. Selintas tebersit di benak saya, “Dengan daimoku saya pasti bisa belajar di sini.” Saya menanamkan tekad demikian dalam diri saya sejak saat itu. 

Seiring berjalannya waktu, saat duduk di kelas 3 SMA, saya harus memikirkan jurusan apa yang harus saya ambil ketika kuliah nanti. Saya berdaimoku kepada Gohonzon untuk mengetahui jurusan apa yang harus saya ambil, dan akhirnya terpikir untuk mengambil program Studi China karena saya ingin belajar mandarin. Awalnya saya masih ragu-ragu tetapi dengan daimoku saya menjadi yakin untuk mengambil jurusan tersebut.

Menjelang pendaftaran untuk kuliah, saya sudah bertekad untuk kuliah di UI dan UI menjadi pilihan utama saya. Bisa masuk universitas negeri juga dapat meringankan biaya orang tua saya karena saya masih ada dua adik. Namun saya juga mencoba untuk mendaftar beasiswa penuh meskipun tidak lolos. Dari situ saya kembali menguatkan tekad untuk masuk perguruan tinggi negeri. 

Ada beberapa jalur untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Saat itu peraturan sekolah hanya memperbolehkan 40% siswa untuk mendaftar lewat jalur rapor dan seleksinya dilakukan oleh pihak sekolah. Ternyata saya tidak terpilih. Saya sempat bingung dan kecewa, tetapi saya bertekad lagi untuk melantunkan daimoku agar saya bisa lolos melalui jalur tes.

Sebenarnya saya sudah mempersiapkan dari semester pertama kelas 3 dengan mengikuti bimbingan belajar. Saat semester dua, saya makin giat mengikuti bimbel dari pukul 7.00 hingga 10.00 pagi. Saya juga tidak lupa untuk melantunkan daimoku satu jam setiap harinya.

Di hari pengumuman penerimaan di PTN, saya baru berani melihat hasilnya satu jam setelah waktu yang ditetapkan. Dengan total pendaftar sebanyak 45 ribu lebih dan yang diterima hanya 1.600 peserta, saya dinyatakan lolos seleksi dan diterima di Universitas Indonesia. Yang membuat saya sangat gembira adalah saya mendapatkan beasiswa Indonesia Pintar sehingga tidak perlu membayar biaya pendaftaran, uang tes maupun uang semester selama saya kuliah di UI. Hal ini benar-benar sesuai tekad dan doa saya dari awal untuk mendapatkan beasiswa penuh. Saya merasa sejak kecil mengikuti kegiatan kosen-rufu dan berdaimoku seperti memupuk rejeki yang tak kasatmata. Saya sungguh berterima kasih kepada Gohonzon dan Ikeda Sensei. Saya juga sangat berterima kasih kepada Mama dan Papa yang selalu optimis mendukung saya.

Saat ini saya sedang berjuang kuliah di UI dan bertekad bahwa ke depannya sesibuk apa pun saya akan selalu berjuang untuk kosen-rufu dan membalas budi kepada Ikeda Sensei. Tekad pribadi saya adalah ingin mengikuti pertukaran ke luar negeri. 

Saya selalu mengukir bimbingan Sensei berikut di kehidupan saya: “Doa yang disertai tindakan yang nyata dan berkelanjutan akan mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.”