Menu
Komunitas

Komunitas

Mengubah Karma Menjadi Misi Meraih Impian

Pada Oktober 2011, saya bekerja di Bali sebagai programmer. Saya mulai mengalami mengalami insomnia. Malam hari saya sebentar tidur sebentar bangun. Kondisi saya semakin parah hingga hanya bisa tidur 2 jam saja. Otak saya terus aktif walaupun saya sudah mencoba menutup mata, mematikan lampu dan memutar musik relaksasi. Saya tetap masuk kerja dari jam delapan pagi sampai lima sore. Pekerjaan saya cukup memeras daya kerja otak dan mata. Setelah hampir 2 minggu mengalami kondisi tersebut, saya mengalami kelelahan dan tidak bisa konsentrasi, yang akhirnya menyebabkan kecemasan pada malam hari dan juga di tempat kerja. Badan saya terasa capek sekali dan nafsu makan pun menurun. Saya selalu bolak-balik ke toilet padahal saya tidak buang air kecil. 

Saya akhirnya mencoba berkonsultasi dengan psikiater di Denpasar. Dokter memberi saya obat untuk membuat saya tenang dan mudah tidur. Meski tidak pernah alergi atau takut minum obat, kali ini saya takut apabila harus terus meminum obat tersebut. Saya terus bertanya mengapa saya bisa begini dan sampai kapan. Saya tidak berani memberitahu kondisi ini ke teman-teman karena malu.

Saya sempat mengajukan surat pengunduran diri kepada manajer, tetapi dia menolaknya dan menyuruh saya untuk berpikir kembali. Saat itu dia belum tau kondisi saya. Pada suatu malam, pikiran saya menjadi sangat gelisah, saya berkeringat dingin, dan muncul niat untuk mengakhiri hidup. Saya tidak berani meminum obat dari dokter. Saya sangat cemas dan merasa sangat depresi. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk ke Jakarta mencari bantuan kepada paman saya.

Psikiater di Jakarta menyimpulkan saya mengidap gangguan bipolar dan memberikan obat untuk mengatasi kondisi tersebut. Saya harus meminum 16 macam antidepresan. Saya pernah mencoba bunuh diri dengan meminum obat dan mengiris urat nadi saya, tetapi ingatan akan keluarga membuat saya untuk mengurungkan niat bunuh diri.

Kondisi saya juga tidak berubah. Selama hampir dua minggu di Jakarta, suasana hati saya berubah-ubah. Saat efek obat habis, muncul rasa gelisah dan cemas. Saya menjadi tergantung pada obat. Orangtua saya pun akhirnya dipanggil ke Jakarta. Namun karena tidak menemukan solusi, kami pun memutuskan untuk kembali ke Tanjung Pinang.

Setelah kembali ke Tanjung Pinang, saya kesulitan membeli obat-obatan yang saya konsumsi karena stoknya yang minim di daerah akibat harganya yang sangat mahal dan sifatnya yang keras. Setelah minum, sekitar 30 menit kemudian saya akan mengantuk dan bisa tidur, tapi membuat saya haus dan jantung berdebar setelah bangun. Badan jadi tidak bertenaga. Pada awalnya, saya bahkan merasa sesak nafas, dada tertekan, dan tidak bisa bangun. Benar-benar sangat menderita. Di sela-sela waktu tersebut saya mencari tahu penyakit saya dan solusinya.

Perkenalan dengan Nam-Myoho-Renge-Kyo

Salah satu teman saya adalah pemudi Soka. Dia memperkenalkan saya kepada Buddhisme Nichiren dan memberikan majalah Soka Spirit. Dia berpesan kepada saya untuk terus melantunkan Nam-myoho-renge-kyo agar bisa ketemu dokter yang bisa mengobati saya.

Tidak lama kemudian, saya bertemu teman yang bercerita bahwa dulu dia pernah hampir punya kondisi seperti saya dan berobat kepada seorang dokter di Singapura. Saya pun mencobanya. Setelah bertemu dengan dokter, dia tidak bertanya panjang lebar. Dia hanya tanya latar belakang saya dan obat yang sedang saya konsumsi. Dia bilang tidak apa-apa, meminta saya untuk tenang saja, dan memberi saya suntikan.

Saat itu saya mulai melantunkan daimoku. Awalnya hanya 5 menit, tetapi lama-lama mulai meningkat. Meskipun kepercayaan dan kondisi emosi saya masih kurang stabil, tetapi melalui daimoku saya merasa ada harapan. Saya juga mulai mencari tentang Soka Gakkai dan pengalaman anggota yang mengalami depresi atau penyakit berat lainnya.

Titik Terang Muncul

Keajaiban pun terjadi. Setelah pulang dari rekreasi bersama teman-teman saya, saya merasa capek dan mengantuk. Saya pun berbaring dan terkejut waktu bangun karena saya tertidur hampir dua jam, padahal saya hanya mengonsumsi obat dokter dari Singapore setengah tablet kecil saja pada malam sebelumnya.

Pada malam itu, saya mengonsumsi lagi setengahnya. Setelah itu saya tidak konsumsi lagi tapi pelan-pelan saya sudah bisa tidur 2-3 jam, bahkan lebih. Mulai dari situ kepercayaan diri saya bangkit perlahan dan saya mulai berani untuk berjalan keluar rumah serta mencari matahari dan udara pagi. Secara berangsur-angsur, saya bisa tidur 6-7 jam, dan saat susah tidur, saya masih bisa tidur 4-5 jam. Saya pun bertekad untuk kembali ke dunia kerja agar roda ekonomi segera berputar. Semua ini berkat daimoku.

Awalnya saya tidak tau apa pemicu depresi yang saya alami. Namun saya menyadari bahwa pikiran saya terbebani masalah ekonomi keluarga, Papa yang terlilit hutang. Ketika saya pindah ke Bali, awalnya saya memiliki banyak teman, tetapi teman-teman saya perlahan-lahan pergi ke kota lain ataupun pulang kampung sehingga saya merasa sangat tidak betah dan juga ingin keluar dari pekerjaan. Perasaan campur aduk yang saya alami tanpa sadar menumpuk di hati dan pikiran sehingga memicu depresi. Hal-hal seperti ini benar-benar tidak boleh disepelekan.

Saya Ingin Membalas Budi Kepada Soka Gakkai

Pada bulan Juli 2012, saya pindah ke Batam dan mulai kerja. Saya sudah beristirahat hampir delapan bulan untuk pemulihan. Saya mulai menghubungi pemuda Soka Gakkai di Batam dan ikut pertemuan. Di tahun 2013, saya mengambil bagian dalam tim gimnastik pemuda untuk pesta kebudayaan. Dengan adanya kesibukan dalam kegiatan di Soka Gakkai dan pekerjaan, depresi saya perlahan-lahan menghilang dan saya tidak lagi mengalami gangguan tidur.

Di tahun 2017, saya diberi kepercayaan untuk menjadi Sokahan dan tahun 2018 diberi kepercayaan lagi untuk menjadi ketua pemuda di salah satu cabang. Saya ingin membalas budi kepada Soka Gakkai dengan berjuang sepenuh hati untuk kosen-rufu.

Dengan mengemban tugas di Soka Gakkai, saya pun merasakan perubahan nasib dan muncul keinginan untuk menang. Saya juga mulai memberanikan diri untuk mengenalkan Buddhisme Nichiren kepada orang lain. Saat ini saya benar-benar sudah sembuh dari depresi. Inilah rezeki terbesar saya.

Di akhir 2018, saya berhenti dari perusahaan tempat saya sudah bekerja selama tiga tahun. Saya mencoba memulai usaha dagang secara daring di marketplace. Awalnya lumayan lancar, tetapi pelan-pelan menjadi sepi karena berbagai kendala. 

Dalam kondisi seperti itu, saya mulai mencari pekerjaan lain. Saya memasukkan beberapa lamaran kerja ke Singapura. Ada beberapa yang berlanjut ke tahap wawancara tetapi berikutnya tidak ada kabar lagi. Saya sempat menganggur selama 3 bulan lebih, padahal saya memiliki pengeluaran rutin seperti membayar cicilan KPR, membayar sewa kos, kebutuhan bulanan, dan juga mengirimkan uang bulanan untuk orang tua yang ada di kampung.

Di saat sedang susah, saya tidak terus mengukir kalimat Gosho di hati, bahwa “musim dingin pasti berubah menjadi musim semi”. Saya terus membaca majalah Soka Spirit agar tetap termotivasi dan melantunkan daimoku dengan target bisa menjual ruko yang saya beli di tahun 2013 serta mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Kali ini saya menghadapi masalah dengan berani tanpa ada stres atau ketakutan karena saya selalu menemukan harapan melalui daimoku.

Tidak lama setelah itu, saya berhasi menjual ruko dengan harga yang lumayan bagus, walaupun saat itu kondisi ekonomi di Batam sedang kurang bagus dan banyak orang yang mau menjual properti mereka.

Tidak lama kemudian, saya mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi 10% dari gaji sebelumnya. Namun setelah bekerja setengah tahun lebih, saya merasa kurang cocok dengan pekerjaan ini. Untuk mengatasi hal ini, saya pun memasang tekad baru dan lebih giat lagi melaksanakan tugas serta mengikuti pertemuan dan kegiatan kosen-rufu. Dua bulan kemudian, saya mendapat tawaran untuk kembali ke perusahaan lama dengan tawaran gaji 30% lebih tinggi dari yang sekarang.

Dengan karunia ini, saya pun bisa mengambil kredit rumah baru yang lebih dekat ke pusat kota, menerima Gohonzon, dan berangkat ke Jakarta selama beberapa hari untuk mengikuti tur pameran Sutra Bunga Teratai bersama rombongan dari Batam.

Saya benar-benar berterima kasih kepada Gohonzon dan juga pimpinan-pimpinan di Soka Gakkai yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada saya untuk bertugas di beberapa acara besar di balai pertemuan, sehingga saya pun bisa lebih cepat mengubah nasib.

Sebelum saya mengakhiri cerita kemenangan saya, izinkan saya untuk berbagi bimbingan favorit saya dari Ikeda Sensei, “Musim dingin pasti akan berlalu. Tidak peduli apa pun yang terjadi, teruslah menyebut daimoku, di saat yang baik maupun buruk, tidak peduli apakah sedang bergembira ataupun bersedih, sedang bahagia ataupun menderita. Dengan demikian, kita pasti bisa meraih kemenangan di dalam hidup sehari-hari dan di dalam masyarakat.”

Sekarang saya bertekad agar 80% pemuda di daerah saya bisa aktif di susunan dan keluarga saya bisa ikut melaksanakan kepercayaan ini, serta melangsungkan pernikahan saya dengan lancar.