Konsep #7: Gohonzon
Tulisan di atas kertas bisa memiliki bobot dan nilai yang besar—surat cinta dapat membuat hati kita berbunga-bunga. Membaca surat wasiat dari orang tua yang kaya raya bisa menyebabkan drama keluarga yang serius. Menemukan uang Rp 100.000 di jalan bisa membuat kita merasa sangat beruntung.
Gohonzon, objek penghormatan dalam pelaksanaan Buddhisme Nichiren yang terdiri dari sejumlah tulisan di atas kertas, melambangkan realitas hakiki jiwa dan hukum alam semesta.
Ikeda Sensei menjelaskan Gohonzon secara ringkas sebagai berikut, “Peta hanyalah kertas. Namun, jika memercayai peta dan menggunakannya, kita pasti tiba di tujuan. Gohonzon adalah objek penghormatan untuk memunculkan suasana batin yang agung sehingga kita dapat menjadi benar-benar bahagia.”
Nichiren Daishonin mewujudkan Gohonzon sebagai representasi visual dari Hukum Nam-myoho-renge-kyo, hukum hakiki alam semesta dan kebenaran fundamental semua kehidupan. Melantunkan Nam-myoho-renge-kyo menghadap Gohonzon memampukan kita untuk meleburkan jiwa dengan daya hidup besar alam semesta dan mengembangkan kehidupan dengan kebahagiaan yang tak tergoyahkan.
Gohonzon secara konkret mengungkapkan pencerahan Nichiren Daishonin mengenai Hukum Nam-myoho-renge-kyo. Nichiren Daishonin adalah orang pertama yang melantunkan Nam-myoho-renge-kyo, yang secara harfiah berarti pengabdian kepada Myoho-renge-kyo (Hukum Menakjubkan dari [kitab] Sutra Bunga Teratai)—yaitu judul dari Sutra Bunga Teratai, ajaran tertinggi Buddha Sakyamuni. Judul sutra mengandung esensi dari sutra tersebut. Nichiren Daishonin meyakini hal ini dan menambahkan kata nam untuk menandakan pengabdian terhadap ajaran sutra tersebut, yaitu semua orang secara setara memiliki sifat Buddha.
Beliau menyatakan, “Saya, Nichiren, telah menuangkan jiwa saya ke dalam tinta sumi, maka percayailah Gohonzon dengan segenap hati Anda. Keinginan Sang Buddha adalah Sutra Bunga Teratai, tetapi jiwa Nichiren tiada lain adalah Nam-myoho-renge-kyo.”
Dalam menuliskan Gohonzon, Nichiren Daishonin menggunakan aksara Tiongkok dan Sanskerta untuk menggambarkan Upacara Angkasa dari Sutra Bunga Teratai. Di bagian tengahnya adalah tulisan “Nam-myoho-renge-kyo” dalam aksara Tiongkok yang melambangkan menara pusaka, yaitu objek utama upacara tersebut yang melambangkan dunia Buddha.
Nichiren Daishonin menyatakan, “Pada Masa Akhir Dharma, tiada menara pusaka selain sosok laki-laki dan perempuan yang memeluk Sutra Bunga Teratai.”
Gohonzon mengungkapkan kenyataan bahwa semua orang, tanpa terkecuali, bisa membuka dunia Buddha bawaan yang ada dalam diri mereka dengan melantunkan frasa “Nam-myoho-renge-kyo”.
Kita menggunakan cermin untuk merefleksikan penampilan fisik kita, tetapi apakah yang dapat kita gunakan untuk melihat hati dan pikiran kita?
Gohonzon berfungsi sebagai cermin yang merefleksikan suasana batin kita. Sebagai kristalisasi dari kearifan Buddha, Gohonzon membantu kita untuk melihat jelas dan memunculkan kebenaran hakiki bahwa kebajikan Buddha, yaitu welas asih, kearifan, dan keberanian, terdapat dalam jiwa kita.
“Jangan pernah mencari Gohonzon di luar diri Anda,” demikian tulis Daishonin. “Gohonzon hanya berada dalam darah daging kita, manusia biasa yang memeluk Sutra Bunga Teratai dan melantunkan Nam-myoho-renge-kyo.”
Dengan berdaimoku di hadapan Gohonzon, kita dapat mengeluarkan diri yang paling hakiki dan memunculkan kekuatan besar dari dalam diri kita, sambil menyelaraskan kehidupan kita dengan irama alam semesta, dengan lingkungan sekitar kita.
Dalam cermin Gohonzon, “Buddha” adalah suasana batin paling mulia yang dapat kita semua perjuangkan untuk kita wujudkan dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Untuk merasakan hasil yang paling efektif dari melantunkan Nam-myoho-renge-kyo kepada Gohonzon, kita harus menyadari isi hati kita saat berdoa, serta berjuang mengarahkan doa kita untuk menjadi bahagia dan membantu orang lain melakukan hal yang sama.
Jika kita berdoa kepada Gohonzon seperti sedang mengemis bantuan, atau jika kita melantunkan Nam-myoho-renge-kyo secara terpaksa, penuh keraguan dan keluhan, maka “suasana pikiran itu justru akan tercermin persis pada seluruh alam semesta, seperti bayangan yang tampak jelas pada permukaan cermin yang terang.” Demikian penjelasan Presiden SGI Daisaku Ikeda Sensei.
Ikeda Sensei juga menyatakan, “Di sisi lain, saat Anda bangkit dengan keyakinan yang kuat pada Nam-myoho-renge-kyo, Anda akan memperoleh karunia yang tiada tara. Untuk mengendalikan pikiran Anda yang luar biasa halus dan sangat mendalam, Anda harus berjuang memperkuat kepercayaan pada Nam-myoho-renge-kyo dengan semangat yang baru. Dengan demikian, kehidupan maupun lingkungan sekitar Anda akan terbuka lebar dan setiap tindakan yang Anda ambil akan menjadi sumber karunia kebajikan bagi Anda.”
Melantunkan Nam-myoho-renge-kyo setiap hari kepada Gohonzon adalah proses untuk mengatasi kenegatifan dan memunculkan tekad yang paling positif untuk menerobos kebuntuan apa pun. Semakin sering kita mengulangi proses ini, semakin mudah pula bagi kita untuk bertindak berdasarkan tekad ini dan secara positif mengubah setiap situasi dengan kearifan, welas asih, keberanian, dan daya hidup yang memancar dari dunia Buddha bawaan kita.
Nichiren Daishonin mewujudkan Gohonzon dengan tekad menuntun semua orang ke kebahaiaan. Beliau juga menggambarkannya sebagai “panji penyebaran Sutra Bunga Teratai.” Dengan kata lain, Gohonzon adalah alat yang membantu kita menyebarkan ajaran dari kitab Sutra Bunga Teratai dan mewujudnyatakan potensi tak terbatas kita untuk menciptakan kehidupan yang bahagia dan penuh kepuasan batin.
Meskipun menghadapi penentangan luar biasa terhadap upayanya menyebarkan kitab Sutra Bunga Teratai, Nichiren Daishonin tidak pernah goyah. Ikeda Sensei menyatakan, “Dalam proses mengajarkan Dharma dan mengatasi penganiayaan besar, Nichiren Daishonin mewujudkan jiwa dari Buddha kegembiraan tak terbatas—Buddha yang telah tercerahkan sejak waktu yang tak berawal dan menyatu dengan Hukum alam semesta yang abadi. Suasana batin Buddha kegembiraan tak terbatas yang tercerahkan sejak waktu yang tak berawal diperoleh melalui perbuatan, ucapan, dan pikiran kita. Inilah suasana jiwa yang tertulis di dalam Gohonzon.”
Dengan mengikuti peta menuju kebahagiaan, yaitu Gohonzon, kita pasti akan mengubah kehidupan kita. Saat kita menyelaraskan doa kita dengan prasetia Daishonin untuk kosen-rufu, yang terkristalisasi dalam Gohonzon, melantunkan Nam-myoho-renge-kyo dan mengajarkan praktik ini kepada orang lain, kita juga dapat mengubah semua kenegatifan dan penderitaan kita menjadi bahan bakar untuk menjalani kehidupan yang dipenuhi kegembiraan tiada tara.