Menu
Komunitas

Komunitas

Mengubah Karma Menjadi Misi Meraih Impian

Bagi saya, ada banyak sekali perbedaan antara menjalani kehidupan dengan pelantunan Nam-myoho-renge-kyo atau berdaimoku dan tanpa berdaimoku. Dulu ketika saya tidak berdaimoku, hati sepertinya hampa, kehidupan dijalani begitu saja. Namun, dengan berdaimoku, hati dan jiwa saya terisi. Kehidupan ini terasa lebih bermakna dan saya juga jadi tahu arah dan tujuan hidup. Sudah lama sejak saya mulai berdaimoku. Sejak bertugas sebagai pimpinan cabang, hampir setiap malam saya selalu berdaimoku. Sudah kurang lebih 20 tahun saya diberi tugas sebagai pimpinan dan hampir setiap hari saya melantunkan Nam-myoho-renge-kyo selama dua jam lebih. Saya mendapat pelatihan di Soka Gakkai dan juga diberi buku pedoman pimpinan. Dalam buku tersebut, ada bimbingan dari Ikeda Sensei bahwa “Sebagai seorang pimpinan, sudah selayaknya kita harus selalu mengirimkan doa untuk kebahagiaan anggota. Ketika berdaimoku untuk anggota, daimoku kita akan kembali kepada kita juga.” Dengan daimoku yang konsisten, kita bisa menghadapi masalah dengan lebih tenang dan bijaksana, sehingga tidak mudah meledak marah, tidak gampang terbawa suasana, dan kehidupan kita juga terasa lebih bermakna. Walaupun singkat, kehidupan ini akan berarti kalau kita mengisinya dengan hal-hal yang positif, terutama dalam kegiatan Soka Gakkai. Saya dan keluarga, terutama istri, hampir tidak pernah absen hadir dalam daimoku bersama setiap kamis di Balai Pertemuan Batam, kecuali kalau kami keluar kota atau sakit parah. Namun, sejauh ini kami tidak pernah sakit parah sampai tidak bisa hadir.

Saat berdaimoku bersama, hati saya merasa sangat nyaman karena bisa bertemu dengan anggota dan sama-sama melantunkan Nam-myoho-renge-kyo selama satu jam. Sebelum ada kampanye 800 juta daimoku pada tahun 2026 ini, sebenarnya sudah belasan tahun saya terbiasa berdaimoku selama dua hingga dua setengah jam setiap hari. Jadi saat kampanye daimoku diluncurkan, saya berdiskusi dengan istri dan kami sama-sama memasang tekad untuk menantang diri meningkatkan daimoku menjadi tiga setengah jam setiap hari, yang artinya satu kartu dalam sehari.

Ikeda Sensei juga pernah berkata bahwa “Sekaranglah waktunya untuk berdaimoku. Sebagai pimpinan, kita harus berdaimoku hingga tuntas untuk memungkinkan semua orang bergerak maju dan menang.” Saat membaca kalimat ini, saya merasa hati saya terpanggil dan tergugah. Sebagai seorang pimpinan, saya harus berdaimoku untuk  impinan lain dan untuk anggota. Jadi pelaksanaan Buddhisme saya harus untuk diri sendiri dan orang lain. Saat sedang berdaimoku, saya selalu memikirkan kondisi pimpinan lain, sambil membayangkan wajah mereka. Saya mengirimkan daimoku untuk mereka, terutama yang sedang banyak masalah. Untuk mendukung tercapainya target utama program nasional tahun 2026, kami juga bertekad untuk berdialog dan  harus memperdalam pemelajaran. Kadang kami bingung mau mengunjungi atau berdialog dengan siapa, tetapi ketika kami berdaimoku dan bertekad untuk berdialog, tiba-tiba bisa terpikir orang-orang yang mau diajak untuk berdialog.

Mengenai peningkatan upaya belajar, saya teringat bimbingan dari mantan ketua umum, Bapak Peter Nurhan. Beliau berkata, “Sebagai seorang pimpinan, sebaiknya setiap hari mempelajari atau membaca buku Ikeda Sensei, satu kalimat atau sepotong kata Gosho Daishonin atau Soka Spirit.” Sejak belasan tahun lalu mendengarkan bimbingan ini dan karena saya juga gemar mempelajari Buddhisme, sampai sekarang pun saya selalu meluangkan waktu untuk membaca. Untuk kampanye daimoku, saya harus mengatur waktu dan pekerjaan. Awalnya terasa berat karena harus membagi waktu pagi, siang dan malam. Mustahil bagi saya untuk bisa sekali duduk langsung berdaimoku selama tiga setengah jam, apalagi saya bekerja dan ada banyak kegiatan di Gakkai.

Pada pagi hari sebelum berangkat kerja, saya berdaimoku kurang lebih satu jam. Saat istirahat makan siang, saya pulang ke rumah untuk berdaimoku tiga puluh menit sampai satu jam dan pada malam hari saya lanjut berdaimoku lagi sehingga setiap hari mencapai tiga setengah jam. Sampai sekarang target tersebut bisa tercapai dan saya belum pernah bolong satu hari pun.

Saya bekerja di bidang konstruksi bangunan dan saat ini saya dipercaya oleh seorang pengusaha untuk memantau proyek-proyeknya. Sudah hampir tujuh tahun proyeknya tidak pernah putus dan saya selalu dipanggil untuk mengawasi proyeknya. Saya bersyukur dan berterima kasih atas rezeki bisa bertemu dengan majikan ini. Waktu kerja saya juga lumayan bebas, yang penting pekerjaan bisa selesai, tidak seperti pekerja kantoran yang harus tepat waktu pukul 8 sampai kantor dan pukul 5 sore baru pulang.

Dalam Soka Spirit tahun 2024, saya pernah berbagi pengalaman ketika baru pindah ke Batam pada tahun 2004. Saat itu keadaan sangat berat, baik ekonomi, keharmonisan keluarga maupun kesehatan. Keuangan keluarga saat itu masih mengandalkan istri yang bekerja untuk membiayai kehidupan dan hal tersebut berdampak terhadap keharmonisan keluarga. Pekerjaan saya tidak stabil dan saat itu anak juga masih kecil. Saya terus berdaimoku dan teringat pada satu bimbingan Ikeda Sensei, “Ketika kita berdoa, hati kita bersinar seperti sebuah lilin yang dapat menerangi tempat yang telah lama gelap miliaran tahun. Saat kita berdaimoku, kegelapan dalam jiwa kita segera tersingkir”. Inilah prinsip sebab akibat yang terjadi bersamaan. Ketika berdaimoku, pada saat itu juga doa kita telah terjawab di dalam jiwa kita.

Jadi lewat daimoku yang sungguh-sungguh, saya menyadari pada saat itu bahwa saya hanya punya satu jalan untuk menghadapinya, yaitu saya harus bekerja lebih keras. Saya harus lebih fokus banting tulang dan berdoa untuk lebih berani lagi, agar saya bisa ambil alih tanggung jawab kepala keluarga rumah tangga ini. Saya berdoa seperti ini, bukan berarti langsung mendapat pekerjaan dan ekonomi meningkat, tetapi dengan keberanian seperti itu akhirnya perlahan-lahan pekerjaan semakin membaik dan stabil sampai kondisi seperti hari ini.

Ada dua hal yang ingin saya capai dalam perjuangan kosen-rufu ke depan. Yang pertama adalah kemajuan divisi bapak. Hal ini menjadi tantangan dalam perjuangan saya. Yang kedua adalah mewujudkan benteng kosen-rufu yang baru dan merupakan harapan semua anggota di Batam. Saya pribadi berharap bahwa dalam sisa hidup saya benteng ini bisa terwujud dan saya bisa memberikan kontribusi, baik dalam pikiran atau tenaga dengan latar belakang saya sebagai kontraktor, maupun dalam bentuk sumbangan karena benteng ini adalah untuk masa depan kosen-rufu di Batam, untuk anak dan cucu kita ke depannya. Saya yakin melalui doa pembelian lahan ini bisa segera terwujud. Ada sebuah bimbingan Sensei tentang daimoku yang sangat berkesan bagi saya, “Nam-myoho-renge-kyo adalah raungan singa. Ketika kita melantunkan Nam-myoho-renge-kyo, tidak peduli apa pun yang terjadi, kita tidak akan pernah kalah. Kita akan menjadi kuat dan bersemangat melalui Nam-myoho-renge-kyo untuk menghadapi dan
mengatasi rintangan.”

Saat kita melantunkan Nam-myoho-renge-kyo, otomatis hati kita akan semakin bersinar; jika tidak dijalankan hati menjadi kosong. Jadi gongyo dan daimoku sebenarnya adalah kebutuhan, tidak perlu menunggu kondisi yang kritis atau genting baru kita berdaimoku. Apa pun yang terjadi, baik senang atau sedih, saya tidak pernah melalaikan gongyo dan daimoku. Bagi saya, ada masalah atau tidak ada masalah, berdoa adalah sebuah kebutuhan untuk makanan jiwa, saya tidak merasa ini adalah kewajiban.