Menu
Komunitas

Komunitas

Mengubah Karma Menjadi Misi Meraih Impian

Tahun lalu, saya berdoa dengan tekad kuat bahwa saya ingin berhasil meyakinkan dua orang memeluk Buddhisme Nichiren dan menjadi bahagia.

Jika sejak awal saya adalah orang yang kuat, mungkin saya tidak akan sampai mempraktikkan ajaran Buddhisme Nichiren. Justru karena saya dulu adalah pribadi yang lemah, mudah tertekan, dan mudah marah, saya menemukan harapan dalam ajaran ini.

 Meskipun telah menjadi anggota, bahkan menjadi seorang pimpinan di Soka Gakkai, berbagai masalah tetap datang silih berganti, baik dari keluarga, kesehatan, maupun pekerjaan. Ada saat-saat ketika saya merasa kehidupan ini terlalu keras, seolah penderitaan saya berasal dari karma buruk dalam lingkungan keluarga.

 Namun, di tengah segala kesulitan itu, saya tidak pernah berhenti berjuang. Saya hanya memiliki keyakinan kuat, “Tidak ada cara lain selain terus melantunkan Nam-myoho-renge-kyo.”

 Saya belajar dan berusaha membaca walaupun saya bukan orang yang suka membaca, serta tetap aktif dalam kegiatan Soka Gakkai. Perjalanan itu sedikit demi sedikit menjadi fondasi yang menguatkan diri saya. Saya mulai menyadari bahwa yang harus berubah adalah diri saya sendiri.

 Tujuan praktik Buddhisme kita adalah menjadi bahagia—dan lebih dari itu, membantu orang lain meraih kebahagiaan. Karena itulah kita melakukan shakubuku atau memperkenalkan Buddhisme Nichiren kepada orang lain, meskipun pekerjaan ini sangatlah sulit.

 Pada suatu waktu, saya pernah mengajak sepuluh orang teman baru untuk hadir di pertemuan filosofi kebahagiaan di Batam. Beberapa mengiyakan dan beberapa menolak, tetapi pada hari pelaksanaan, tidak satu pun yang datang. Berapa banyak pun orang yang saya ajak, semuanya menolak. Saya mengajak orang-orang yang kehidupannya penuh kesulitan, tetapi mereka tetap tidak mau membuka diri. Sejujurnya saya merasa kecewa dan sedih, bahkan sempat ingin menyerah.

 Titik balik terjadi pada bulan Juli 2025 ketika Bapak Loh Seng Kwok datang ke Batam dan membagikan kisah seorang pimpinan di Jepang. Pimpinan tersebut berusaha memperkenalkan Buddhisme Nichiren kepada temannya sejak masa sekolah. Dia datang ke rumah temannya berkali-kali, tetapi selalu mendapati pintu tertutup atau diberi tahu bahwa temannya tidak ada di rumah. Meskipun begitu, dia tidak menyerah. Dia datang hingga 60 kali. Pada kunjungan ke-60, barulah dia tahu bahwa temannya sudah pindah. Semua usahanya tampak sia-sia. Namun, dia menyadari satu hal yang luar biasa: selama bertahun-tahun dia gagap, tetapi setelah perjuangan panjang tanpa menyerah itu, gagapnya hilang. Dia mungkin tidak berhasil meyakinkan temannya memeluk Buddhisme Nichiren, tetapi dia berhasil mengubah karmanya sendiri.

 Kisah ini sangat menyentuh hati saya. Semangat saya untuk memperkenalkan Buddhisme Nichiren kepada orang lain pun bangkit kembali. Saya memperbarui doa saya di depan Gohonzon, “Saya ingin melakukan shakubuku. Saya ingin membuat orang lain bahagia.” Sejak saat itu, saya menyadari bahwa memperkenalkan Buddhisme Nichiren memerlukan keyakinan, keberanian, dan tindakan nyata.

 Sebagai seorang ibu yang harus membesarkan anak sekaligus bekerja untuk menopang keluarga, waktu saya sangat terbatas. Namun, justru kontribusi untuk kebahagiaan orang lain memberi saya sukacita yang mendalam. Di sela-sela kesibukan, saya tetap mengunjungi anggota maupun teman baru untuk berdialog. Jika tidak bisa siang, saya pergi malam. Jika tidak bisa hari ini, saya mencoba esok hari. Saya belajar bahwa memperkenalkan Buddhisme Nichiren bisa dilakukan di mana saja.

 Di pasar, saya bertemu dua anak penjual tisu. Saya tidak bisa terus-menerus membeli tisu mereka, maka saya memberikan kartu bertuliskan Nam-myoho-renge-kyo dan meminta mereka menyebutnya agar menjadi lebih kuat dan berezeki. Di toko, seorang karyawan bertanya agama saya, dan saya menjawab dengan penuh keyakinan, “Saya Buddhis Soka Gakkai, Nam-myoho-renge-kyo.”

 Walaupun waktu sangat terbatas, saya tetap menjelaskan sedikit tentang ajaran Sutra Bunga Teratai yang menjadi dasar keyakinan kita.

 Ada juga seorang ibu yang pernah beberapa kali mengikuti kebersihan dan pertemuan, lalu berhenti karena banyak menghadapi masalah. Dia sempat berkata bahwa lebih baik diam di rumah saja. Namun, dengan sabar saya tetap mengajaknya. Sekarang, ibu tersebut mulai hadir kembali dalam pertemuan diskusi cabang, bahkan bersedia ikut kegiatan kebersihan jika diajak.

 Melalui seluruh proses ini, saya menyadari bahwa keberhasilan upaya kita untuk memperkenalkan Buddhisme Nichiren kepada orang lain tidak diukur dari berapa banyak orang yang kita ajak, melainkan seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri kita—dalam keyakinan, keberanian, dan ketulusan kita untuk berbagi ajaran Buddhisme ini kepada orang lain.

 Pada akhirnya saya memahami bahwa doa saya terkabulkan, bukan melalui hasil yang terlihat langsung, tetapi melalui proses transformasi diri saya sendiri.

 Melalui pengalaman ini, saya ingin berbagi bahwa setiap usaha, setiap kunjungan, setiap ajakan, dan setiap doa yang kita lantunkan adalah langkah nyata untuk membangun kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain. Memperkenalkan Buddhisme Nichiren bukan hanya persoalan mengundang orang, tetapi tentang membangkitkan manusia. Manusia pertama yang harus dibangkitkan adalah diri kita sendiri.

 Ikeda Sensei mengatakan sebagai berikut.

Dengan berbicara tentang kegembiraan dalam kepercayaan, Anda pasti akan menanamkan bibit Buddha di dalam jiwa teman Anda. Tidak perlu senang atau sedih dengan reaksi mereka. Bibit dunia Buddha yang melampaui waktu pada akhirnya akan mekar menjadi bunga kebahagiaan serta berkembang menjadi taman kedamaian dan kegembiraan. Kitalah orang yang menanam bibit Hukum Gaib. Berbanggalah karena kita melaksanakan pekerjaan teragung Sang Buddha. Mari kita menghargai dan mempererat jodoh kita dengan satu orang demi satu orang.

 Saya bangga menjadi bagian dari Soka Gakkai. Di dalam organisasi ini, saya menemukan keluarga, harapan, serta keberanian untuk terus melangkah maju. Saya bertekad bahwa semangat memperkenalkan Buddhisme Nichiren kepada orang lain akan terus menyala dalam diri saya, apa pun kesulitan yang saya hadapi.

 Dengan meneladani semangat Sensei, bersama para teman seperjuangan serta seluruh anggota, saya akan terus berjuang tanpa henti. Kita harus saling menguatkan, saling membangkitkan, dan saling mendorong menuju kemenangan masing-masing. Saya percaya sepenuh hati, kosen-rufu Indonesia pasti maju!