Selanjutnya
Awal dari perjalanan saya mempraktikkan Buddhisme Nichiren dalam Soka Gakkai sebenarnya cukup sederhana, tetapi perjalanan itu ternyata mampu mengubah hidup saya secara mendalam.
Sejak kecil, mendiang Papa saya sudah memperkenalkan Nam-myoho-renge-kyo dan Soka Gakkai kepada saya. Beliau seorang anggota yang sangat teguh dan penuh semangat dalam kepercayaan. Beliau sering mengajak saya mengikuti pertemuan diskusi dan berbagai kegiatan Soka Gakkai yang lain. Sebagai anak kecil, tentu saja saya senang bisa pergi bersama Papa. Namun, pada waktu itu saya hanya ikut-ikutan, bukan dari kesadaran pribadi.
Pada masa pandemi, kehidupan saya berubah. Sekolah online hanya berlangsung satu sampai dua jam. Saya menghabiskan sisa waktu dengan mengerjakan tugas dan bermain telepon pintar. Pada suatu hari, saya melihat video dari orang-orang yang membagikan aktivitas harian mereka secara produktif. Saya menjadi terinspirasi untuk mencobanya. Saya membuat daftar kegiatan yang positif, dan salah satunya adalah membaca buku Discussion on Youth. Pada awalnya saya kesulitan memahami isi bukunya, tetapi saya terus membacanya hingga berulang kali. Ketika mulai memahaminya, ada semangat yang mulai bangkit dalam diri saya. Saya pun mulai mencoba melantunkan daimoku dengan niat yang tulus, meski awalnya cuma lima menit. Namun, langkah pertama itulah yang mengubah segalanya.
Manfaat terbesar yang saya rasakan adalah saya bisa mengenal diri sendiri dengan lebih mendalam. Melalui daimoku, saya menyadari ada banyak sifat yang harus saya ubah, seperti malas, mudah menyerah, dan cuek terhadap lingkungan. Saya mulai berubah menjadi anak yang lebih rajin, lebih peduli pada Mama, dan mulai berpikir untuk berkontribusi bagi Soka Gakkai. Saya merasa kian bersemangat setiap hari dan keinginan untuk berkontribusi dalam Soka Gakkai terus muncul.
Tantangan terberat bagi saya adalah rasa tidak percaya diri dan minder yang sangat besar. Sejak kecil, saya sangat pemalu. Saya bahkan tidak berani berbicara dengan orang lain. Jika ada yang mengajak saya berbicara, saya memilih menjawabnya melalui Papa karena saya yakin hanya beliau yang bisa memahami apa yang mau saya sampaikan. Dulu saya tidak pernah merasa benar-benar terlibat dalam Soka Gakkai. Saya pernah mengikuti latihan kebudayaan, tetapi karena merasa gerakan saya lambat dan tidak sebagus yang lain serta merasa membebani orang lain karena tidak cepat menghafal gerakan, akhirnya saya tidak mau ikut latihan lagi. Saya bahkan mulai menjauh dari kegiatan Soka Gakkai. Saya sering menolak jika diajak ke balai pertemuan dan lebih memilih di rumah saja.
Saya merasa tidak layak. Saya merasa lebih nyaman jika diam dan tidak terlihat. Akhirnya saya menjadi tertutup, tidak aktif, dan tidak bersemangat. Saya kehilangan kepercayaan diri. Itulah masa yang berat bagi saya.
Akan tetapi, semua itu berubah sejak saya mulai berdaimoku dengan tulus dan membaca buku Discussion on Youth. Setiap kata dalam buku itu seperti membangunkan saya dari tidur panjang. Saya mulai memahami bahwa saya bukanlah tidak mampu, tetapi hanya belum memberi diri sendiri kesempatan untuk berkembang.
Pada awalnya saya bahkan merasa malu untuk duduk di depan Gohonzon karena berdaimoku merupakan hal yang baru bagi saya. Namun, saya teringat Papa yang selalu mengajak saya dan mulai berpikir, "Ini bukan hal yang buruk. Justru berdaimoku itu hal yang baik. Kenapa aku harus malu?"
Dari lima menit, daimoku saya makin bertambah menjadi sepuluh menit, lima belas menit, sampai akhirnya bisa mencapai satu jam sehari. Waktu berdaimoku secara perlahan menjadi waktu yang membuat saya bisa mengenal diri sendiri. Dari situ, kepercayaan diri mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Saya berusaha menjaga rutinitas berdaimoku dan mengikuti pertemuan. Saya bertekad melakukan revolusi manusia karena ingin menjadi pribadi yang baru.
Peran Papa sangat besar dalam hal ini. Beliau tidak pernah memaksa saya, tetapi selalu hadir untuk mendampingi dan membimbing saya. Ketika saya mulai berdaimoku, beliau terlihat sangat bangga dan bahagia. Saya masih mengingat kata-katanya pada waktu itu, "Lima menit juga tidak apa-apa. Yang penting tulus, tapi terus tingkatkan ya."
Semangat dan kehangatan beliau menjadi energi yang besar bagi saya. Beliau adalah contoh nyata bahwa praktik Buddhisme Nichiren di Soka Gakkai benar-benar bisa membentuk manusia menjadi luar biasa.
Kemenangan saya adalah munculnya keberanian untuk memulai dan bertahan. Saya berani mengambil tanggung jawab sebagai ketua pemudi cabang. Hal ini benar-benar tidak pernah saya bayangkan. Walau ragu pada awalnya, kakak saya menyadarkan saya dengan berkata, "Kalau kamu tidak pernah mencobanya, kamu tidak akan pernah tahu." Saya menyadari bahwa inilah kesempatan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya sudah berubah. Saya ingin menantang diri dan akhirnya berani menerima tanggung jawab ini.
Dulu saya tidak berani berbicara di depan orang lain. Namun, sekarang saya akan mengatakan "Iya!" dengan penuh percaya diri jika diminta menceritakan pengalaman atau menampilkan kesenian di atas panggung. Setiap hari, ketika berdaimoku, saya selalu merasa bergembira dan bersemangat untuk mendoakan agar pandemi cepat berlalu karena saya sangat ingin bisa kembali aktif berkegiatan langsung dalam Soka Gakkai. Saya membayangkan diri saya mencoba banyak hal seperti mengikuti latihan kebudayaan, bertugas sebagai pundarika di balai pertemuan, berjuang sebagai pimpinan cabang seperti Papa, membantu membuat roti di kantin kosen-rufu, mengikuti berbagai pertemuan, atau bahkan menjadi pembawa acara jika memungkinkan.
Saya ingin mencoba semua itu, bukan hanya karena saya ingin aktif dalam Soka Gakkai, tetapi karena saya ingin menantang diri menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri, tanpa selalu bergantung pada Papa. Pada akhirnya, semua yang ingin saya coba sudah terlaksana.
Kemenangan saya bukanlah tentang jabatan atau pencapaian di luar diri. Kemenangan terbesar saya adalah kemenangan melawan diri sendiri yang dulu—melawan rasa takut, rasa ragu, dan rasa tidak percaya diri yang mengikat saya selama bertahun-tahun.
Meski Papa sudah tiada, saya akan terus berjuang dengan penuh semangat dan berkembang sebagaimana harapan beliau. Sejak dulu, Papa selalu terlihat bahagia saat tahu anak-anaknya mulai aktif dalam Soka Gakkai. Semangat Papa kini hidup dalam diri saya, dan saya ingin terus melangkah maju untuk mewujudkan impian kami bersama.
Ada satu bimbingan Ikeda Sensei dalam Discussion on Youth yang selalu jadi pegangan saya.
Masa muda berarti menggeluti segala macam persoalan. Masa muda juga berarti memecahkan persoalan meskipun ada banyak kesulitan, menyingkirkan awan gelap keputusasaan, dan bergerak maju menuju matahari, menuju harapan. Kekuatan ini adalah ciri utama kaum muda. Di tengah kecemasan dan kesulitan, selalu tujukan pandangan mata ke depan dan melangkah maju. Yang penting adalah terus maju, sambil menghadapi berbagai persoalan, kalian harus melantunkan Nam-myoho-renge-kyo dan tetap bergerak maju meskipun hanya satu atau dua sentimeter saja. Yang penting bukanlah bagaimana kalian jika dibandingkan dengan orang lain, tetapi bagaimana kalian hari ini jika dibandingkan dengan diri kalian kemarin. Jika kalian melihat bahwa kalian sudah maju meski hanya satu langkah, maka kalian sudah meraih satu kemenangan.
Bimbingan ini membuat saya sadar bahwa selama saya terus maju, walau hanya satu langkah, saya sudah meraih satu kemenangan besar dalam kehidupan ini.
Saya berharap cerita pengalaman saya ini dapat menginspirasi orang-orang yang terbelenggu perasaan minder, malu, atau ragu untuk berani memulai, berani mengambil satu langkah kecil. Pengalaman ini mengajari saya bahwa melantunkan Nam-myoho-renge-kyo ibarat menanam benih, dan buah yang akan dipanen melaluinya pastilah luar biasa, melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Saya belajar untuk percaya pada proses dan yakin bahwa semua orang pasti bisa berubah menjadi versi terbaik dirinya.
Saya bertekad untuk terus berjuang aktif dalam Soka Gakkai, mencoba banyak hal baru, dan menjadi sosok yang bisa menginspirasi serta mendukung teman-teman pemudi yang lain. Saya ingin menjadi pemudi yang mandiri dan percaya diri, yang bisa terus berkembang melalui daimoku serta menyebarkan kebahagiaan dengan berbagi Buddhisme Nichiren dan bimbingan Ikeda Sensei kepada orang lain.
Ayo kita terus melangkah bersama, satu daimoku demi satu kemenangan!