Selanjutnya
Saat membuka buku agenda berwarna hitam, setiap halamannya penuh dengan jadwal. Jika diperhatikan lebih saksama, tampak nama-nama yang ditulis dengan huruf alfabet di berbagai bagian.
“Itu adalah nama 73 karyawan saya. Saya catat agar tidak lupa kapan ulang tahun mereka masing-masing,” kata Bapak Masahiko Kawashima seraya tersenyum. Dia menjabat sebagai presiden sebuah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pengikat untuk industri otomotif dan industri tempat tidur. Seluruh karyawannya adalah orang Indonesia.
Tempat kerja Bapak Kawashima terletak di sebuah kawasan industri di salah satu sudut kota Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Saat berusia 50 tahun, dia datang ke tempat ini dan mulai bekerja sebagai presiden perusahaan tersebut. Pada saat itu, perjalanan hidupnya berliku-liku, diwarnai berbagai kesulitan.
Bapak Kawashima lahir di Kota Fukuoka, lalu pindah ke Osaka karena pekerjaan ayahnya. Orang pertama yang mulai menganut kepercayaan Buddhisme Nichiren dalam keluarganya adalah sang ayah. Bapak Kawashima pindah ke Tokyo setelah lulus SMA di Osaka. Dia menjalani masa muda sebagai mahasiswa angkatan kedua Universitas Soka dan membangun banyak titik tolak yang tak terlupakan bersama pendiri Universitas Soka, Ikeda Sensei.
Setelah lulus dari Universitas Soka, dia melanjutkan studi di Inggris, kemudian mulai bekerja di sebuah perusahaan besar yang memproduksi lift dan eskalator. Dia bekerja dengan sekuat tenaga.
Tidak lama kemudian, dia dipercaya untuk memulihkan anak perusahaan di luar negeri yang mengalami defisit. Dimulai dari Arab Saudi, lalu Inggris—di mana pun dia ditempatkan, Bapak Kawashima berhasil mengubah kondisi keuangan anak perusahaan tersebut sampai bisa mencatat laba.
“Sebagai orang yang mengibarkan ‘panji emas’ angkatan kedua Universitas Soka, saya bertekad untuk menunjukkan bukti nyata secara pasti.” Selama bertugas di Inggris, dan kadang-kadang juga di Prancis serta Italia, dia mengukir banyak kenangan pertemuan yang tak terlupakan dengan Ikeda Sensei.
“‘Apakah ada kesulitan dengan keuangan?’—Ikeda Sensei selalu memperhatikan saya sejak masa kuliah, bahkan setelah saya bekerja.” Bapak Kawashima pun menjawab dengan tegas, “Saya akan berjuang!” Dengan hati yang ingin membalas budi, dia terus sekuat tenaga menjaga dan membantu para juniornya dari Universitas Soka yang datang untuk belajar di luar negeri maupun bertugas sebagai tenaga kerja asing.
Pada suatu hari, Bapak Kawashima menerima satu album foto dari Ikeda Sensei. Di dalamnya tertulis, “Keluarga Kawashima adalah keluarga saya melalui buku ini.” Perasaan haru pun memenuhi hatinya. Dia berkata, “Saya pasti terus memperdalam prasetia untuk hidup sebagai murid Ikeda Sensei hingga akhir hayat.”
Kemandirian Bisnis yang Tidak Terduga
Kehidupan Bapak Kawashima sebagai karyawan tampaknya berjalan mulus dan lancar. Namun, setelah kembali ke Jepang pada tahun 1993, dia mengundurkan diri dari perusahaan dengan cita-cita bisa memiliki bisnis sendiri.
Pada waktu itu dia berusia awal 40-an. Namun, kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Tidak lama kemudian, dia menghadapi kesulitan ekonomi. Pada saat itu, dia bertugas sebagai ketua cabang dalam susunan Soka Gakkai. Setelah kegiatan selesai, dia langsung menuju tempat kerja paruh waktu. Dia menjadi penjaga keamanan pada larut malam. Di tengah musim dingin, tubuh maupun hatinya gemetar karena dingin yang menusuk.
Setelah selesai bekerja sebagai petugas keamanan, dia pergi bekerja keras di pusat distribusi jasa pengiriman paket. Setelah pulang ke rumah, dia terus melantunkan daimoku dengan sepenuh hati. Di samping istri dan kedua putrinya yang telah terlelap, dia memperkuat tekad di dalam hati: “Ayah takkan menyerah.”
Pada saat itu, Bapak Kawashima menetapkan target daimoku menuju tahun 2030. “Tidak ada kesulitan yang tidak dapat diatasi dengan daimoku. Saya ingin membuktikan hal itu.”
Hari-harinya dilalui dengan mendatangi kantor penempatan tenaga kerja. Pada suatu hari, dia menemukan sebuah lowongan dari sebuah perusahaan yang sedang mencari orang berkemampuan untuk bekerja di Indonesia. Dia memutuskan untuk berangkat ke Indonesia seorang diri dengan satu tekad: “Asalkan bisa menjaga keluarga.”
Beberapa tahun kemudian, ketika perusahaan di Indonesia tempat dia bekerja terlilit utang yang sangat besar, Bapak Kawashima menerima tawaran yang sama sekali tak terduga: “Apakah Bapak Kawashima bisa mengambil alih perusahaan ini sebagai pemilik?”
Dia bimbang dan melantunkan daimoku dengan sepenuh hati. Akhirnya, dia memutuskan akan mengabdikan hidupnya di Indonesia. Pada tahun 2003, saat berusia 50 tahun, dalam situasi yang sama sekali tak terduga, dia mewujudkan cita-citanya selama bertahun-tahun, yaitu kemandirian bisnis.
Hal pertama yang dia lakukan setelah menjadi presiden perusahaan adalah kunjungan ke rumah karyawannya satu per satu. Dia hanya tersenyum dan bersalaman. Walaupun tidak saling memahami bahasa, hati mereka saling terhubung.
Lama-kelamaan, kekompakan para karyawan semakin kuat dan bisnis pun berkembang dengan pesat. Dalam beberapa tahun, dia berhasil mengubah perusahaan yang rugi menjadi untung, lalu membangun perusahaan sebagai produsen komponen pengikat dengan pangsa pasar yang sangat tinggi. “Meskipun kami mengalami berbagai kesulitan, seperti krisis Lehman Shock dan pandemi Covid-19, saya sangat bersyukur karena kami bisa terus bertahan sampai hari ini tanpa memecat satu karyawan pun.”
Bukan “Berjuang Melawan Penyakit” Melainkan “Mengalahkan Penyakit”
Bapak Kawashima juga pernah diserang iblis penyakit. Pada suatu hari pada tahun 2013, dia tiba-tiba mengalami pendarahan saat buang air besar dan langsung dirawat di rumah sakit. Hasil diagnosis dokter adalah kanker lambung yang sudah mencapai stadium 3. Hanya selama satu hari saja hatinya sempat goyah. “Bagaimana dengan keluarga dan perusahaan?”
Meski demikian, dia langsung mengusir rasa takut dengan kepercayaan. “Saat itu saya bertekad, saya tidak boleh hanya berjuang melawan penyakit ini, tetapi harus mengalahkannya.”
Bapak Kawashima menjalani operasi dan berhasil pulih. Setelah 10 tahun berlalu, dia dinyatakan bebas sepenuhnya dari kanker. Pada tahun 2023, operasi katarak pada mata kirinya tidak berhasil sehingga penglihatannya menjadi buram.
Pada tahun 2024, dia mengalami matinya jaringan tulang pada sendi panggul akibat terputusnya suplai darah. Penyakit ini ditetapkan sebagai penyakit langka oleh pemerintah Jepang. Rasa sakit yang luar biasa di pangkal paha kirinya sampai membuat dia tidak bisa berjalan.
Pada musim panas tahun 2025, dia menjalani operasi untuk mengangkat bagian pangkal tulang paha yang mati dan menggantinya dengan sendi panggul buatan. Melalui perjuangan rehabilitasi, saat ini kondisinya makin membaik sampai dapat berjalan tanpa tongkat.
Bapak Kawashima berkata dengan nada ringan: “Apa pun yang terjadi pada mata dan kaki saya, saya yakin pasti ada jalannya. Saya yakin asal ada kepercayaan semuanya baik-baik saja.” Penyakit apa pun membuat “pejuang daimoku” semakin kuat dan ceria.
Di Soka Gakkai Indonesia pun, Bapak Kawashima berjuang sebagai wakil ketua divisi bapak Daerah Yogyakarta dan selama bertahun-tahun memberikan dorongan semangat kepada anggota setempat.
Sebelum jalan tol selesai dibangun, dia menempuh jalan pegunungan selama 8 jam pulang-pergi naik mobil dari tempat tinggalnya di Semarang ke Yogyakarta untuk menghadiri kegiatan Soka Gakkai.
Dalam perjuangan daimoku menuju tahun 2030, ada hal yang terus dia lakukan dengan konsisten. Setiap bulan, dia memastikan daftar target doa, lalu memberi tanda dengan garis pada doa yang terkabul.
Melalui kebiasaan itu, dia menyadari suatu hal: “Di antara semua doanya, ada target doa yang tidak langsung terkabul. Namun, setelah berjuang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, semua upaya yang saya curahkan akan mekar sebagai karunia kebijakan dan bukti nyata yang berlipat ganda. Tidak ada yang dapat menandingi kekuatan daimoku.”
Oleh karena itu, dia berkata dengan ceria:“Saya telah mencapai suasana jiwa yang siap menantikan apa pun yang akan terjadi, meskipun doa saya belum terkabul.”
Mengenai babak kedua kehidupannya yang dimulai pada usia 50 tahun, Bapak Kawashima berkata dengan penuh tekad: “Selama masih hidup, saya akan terus berkontribusi demi penyebarluasan kosen-rufu dan perkembangan Indonesia.”
Keterangan Foto
Ibu Yasuyo (kanan): "Hanya ada rasa terima kasih kepada istri yang selalu mendukung saya."