Sebelumnya
Saya adalah seorang baby fortune (bayi berezeki) karena Mama saya sudah menganut kepercayaan ini sejak saya masih dalam kandungan. Namun, perjalanan hidup saya tidak selalu mudah. Sejak kecil saya banyak mengalami proses jatuh bangun yang membentuk diri saya hingga menjadi seperti sekarang.
Ketika duduk di kelas 2 SD, saya dikenal sebagai anak yang sangat malas belajar. Saya bahkan sering berbohong kepada Mama agar tidak perlu mengerjakan PR ataupun belajar untuk ujian. Kebohongan ini berlangsung hampir satu tahun, sampai akhirnya terungkap ketika Mama bertemu dengan orang tua teman sekelas saya.
Mama sangat marah dan kecewa. Mama mencoba semua cara agar saya berubah, mulai dari dialog yang penuh nasihat sampai tindakan keras. Namun, tidak ada yang berhasil. Di tengah keputusasaan itu, Mama tersadar bahwa karena sibuk mengurus adik-adik saya, Mama jarang berdaimoku dan berdoa kepada Gohonzon. Sejak itu, Mama memperkuat kembali kepercayaannya dan mulai rajin berdoa setiap hari agar saya bisa berubah dan mendapat pencerahan.
Luar biasanya, sekitar lima bulan kemudian, perubahan itu benar-benar terjadi. Tanpa ada paksaan, perlahan-lahan muncul keinginan dalam diri saya untuk mengerjakan PR dan jujur kepada Mama. Saya juga menyadari bahwa belajar ternyata bukan hal yang sulit. Sejak saat itu, Mama tidak perlu lagi memaksa saya atau adik-adik saya untuk belajar. Kesadaran itu tumbuh dari diri kami sendiri. Saya bahkan berhasil masuk peringkat tiga besar saat SMA di salah satu sekolah ternama di Tangerang.
Mama selalu konsisten menjalankan gongyo dan berdaimoku pagi dan malam serta aktif mengikuti kegiatan Soka Gakkai. Tidak lama kemudian, Mama mulai mengajak saya dan adik-adik ikut kegiatan Soka Gakkai. Awalnya saya belum mengerti makna dan manfaatnya, tetapi saya mencoba membuka hati dan mengikuti berbagai kegiatan generasi muda. Saya pun mulai konsisten berdaimoku pagi dan malam bersama Mama dan adik-adik.
Tidak lama kemudian, saya dipercaya menjadi pimpinan generasi muda di Daerah Serpong.
Saat memilih jurusan kuliah, saya sempat bingung. Meski sudah diterima di jurusan Desain Grafis, saya masih ragu. Papa dan Mama menyarankan saya mencoba jurusan Arsitektur. Saat menjalani ujian masuk, saya sangat menikmati prosesnya seolah-olah sudah disiapkan oleh Gohonzon. Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari kegiatan Soka Gakkai ternyata sangat membantu saya dalam tes ini. Sambil menunggu hasil tes, setiap hari saya berdoa penuh keyakinan kepada Gohonzon agar mengarahkan saya ke Jurusan Arsitektur jika memang inilah jalan yang terbaik. Saya berdoa selama satu bulan penuh.
Saya akhirnya diterima dengan predikat terbaik (A) dan bahkan mendapatkan diskon besar uang pangkal, yang sangat membantu keuangan keluarga. Saya langsung kembali ke depan Gohonzon untuk berdoa dan mengucapkan terima kasih atas jawaban, arahan, dan rezeki yang telah diberikan kepada saya. Dukungan keluarga membuat saya bisa mengambil langkah yang lebih bijak untuk masa depan. Proses itu memperkuat kepercayaan saya.
Setelah lulus, saya cukup beruntung karena dapat bekerja di perusahaan besar. Saya bekerja selama satu tahun sampai mendapat kabar bahwa Papa terkena penyakit jantung dan harus segera dioperasi. Saya pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan di Jakarta dan membantu usaha pembangunan kompleks perumahan yang dijalankan Papa di Kalimantan.
Namun, sejak saya tiba di Kalimantan, berbagai masalah justru bermunculan: aksi demo warga, penipuan bahan material, penggelapan uang oleh vendor pemerintahan, hingga kebakaran rumah. Saya merasa sangat susah hati dan bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan apa yang saya kerjakan. Namun, saya teringat bimbingan dari Ikeda Sensei, “Di mana pun kamu berada, di situlah tanah sinar sentosa. Jadikanlah tempat kamu berpijak sebagai tanah sinar sentosa.”
Mama terus mendoakan kami agar selalu diberikan keselamatan dan solusi dalam semua kejadian. Saya mengajak Papa untuk melawan semua kesulitan itu dengan kepercayaan melalui doa bersama pagi dan malam. Seiring waktu, satu per satu kesulitan mulai menemukan jalan keluar dan akhirnya teratasi. Kondisi Papa pun semakin membaik.
Pada tahun 2011, saya mulai mendapat banyak permintaan desain dari senior dan teman kuliah. Saya berusaha selalu membantu mereka dengan sungguh-sungguh, dan hasilnya permintaan semakin banyak. Akhirnya saya kembali ke Jakarta untuk mengembangkan usaha sendiri karena Papa sudah bisa kembali bekerja seperti dulu.
Tahun 2011–2012 menjadi titik penting dalam kehidupan saya. Saat itu saya mulai berdoa kepada Gohonzon agar diberikan jalan dan arahan supaya usaha saya dapat bermanfaat bagi banyak orang. Saya juga berdoa agar dipertemukan dengan jodoh baik yang percaya pada kemampuan saya.
Enam bulan kemudian, doa saya dijawab. Jodoh baik mulai bermunculan. Namun, jalannya sama sekali tidak mulus. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Berbekal pengalaman di Kalimantan, saya bisa menghadapinya satu per satu. Sambil terus berdoa kepada Gohonzon, saya tersadar bahwa selama ini saya telah diarahkan dan dipersiapkan untuk momen ini, saat saya harus menghadapi semuanya sendiri di garis terdepan. Sungguh rezeki yang sangat besar bisa menerima berkah ini dan menyadari bahwa semua yang terjadi adalah bukti dari kekuatan Gohonzon dan juga bukti bahwa saya telah dikelilingi oleh dewa-dewi pelindung seperti yang selalu dikatakan oleh Ikeda Sensei. Usaha saya semakin maju dan dikelilingi banyak jodoh baik.
Tahun 2021, dua minggu sebelum saya dan istri menikah, kami menghadapi ujian besar: kantor kami harus pindah. Tetangga yang didukung oleh pengurus warga merasa terganggu dengan aktivitas kantor kami di rumah dan memberi kami waktu dua minggu untuk pindah. Saya dan istri sangat bersusah hati. Istri saya saat itu belum lama mempraktikkan kepercayaan ini. Kami pun segera memasukkan doa baru kepada Gohonzon agar diberikan lokasi yang sesuai dengan keinginan kami.
Beberapa hari kemudian, kami menemukan lokasi yang tepat dan sesuai dengan impian saya sejak dulu: kantor di dalam gedung, terletak di jalan boulevard, memiliki lift pengunjung, parkiran luas, dan harga yang sesuai dengan anggaran kami. Kami menyadari bahwa ini seperti hadiah pernikahan dari Gohonzon. Bencana berubah menjadi rezeki besar. Kejadian ini memperkuat kepercayaan kami dan menjadi bukti nyata bagi istri saya bahwa dengan kepercayaan dan keberanian mengambil langkah, kita pasti bisa menang menghadapi tantangan.
Tahun 2021 adalah titik balik yang benar-benar menguji saya sebagai seorang manusia. Usaha yang telah saya bangun dengan kerja keras, yang sebelumnya mulai menunjukkan hasil, tiba-tiba berada dalam kondisi yang sangat terancam akibat pandemi. Banyak proyek yang harus dihentikan, ada yang gagal bayar dari para klien, dan kesulitan ekonomi melanda usaha saya dengan sangat berat.
Saya dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan hasil usaha yang sudah saya bangun atau mempertahankan karyawan-karyawan saya. Saya terus berpikir dan berdoa kepada Gohonzon agar diberikan jalan dan arahan. Dari hasil dialog dengan keluarga, saya memutuskan untuk tetap mempertahankan seluruh staf dan karyawan saya tanpa ada pengurangan gaji, meskipun keputusan ini jelas akan memengaruhi keuangan usaha dan tabungan pribadi saya.
Saya berpikir bahwa usaha saya pasti bisa berkembang dan kembali menghasilkan saat pandemi ini berakhir. Namun, bagi saya, keselamatan dan kebutuhan hidup keluarga dari orang-orang yang telah bekerja membantu usaha saya jauh lebih penting untuk diutamakan.
Waktu pun berjalan. Pandemi akhirnya mulai mereda, dan proyek-proyek yang sebelumnya terhenti mulai berjalan kembali. Pada saat itu, tabungan dan dana cadangan saya hampir habis seluruhnya. Namun, saya tidak pernah sedikit pun menyesal telah mengambil keputusan untuk mengutamakan kemanusiaan.
Saya berdoa dengan sungguh-sungguh agar semua dapat segera kembali normal. Meskipun usaha saya bisa dikatakan memulai kembali dari nol, saya tidak gentar. Sedikit demi sedikit, usaha saya bangkit kembali dan akhirnya semuanya berjalan normal seperti semula.
Kepercayaan kepada Gohonzon membuat saya menjadi manusia yang berani mengambil keputusan besar dan menyadari betapa berharganya setiap kehidupan yang ada di sekitar saya.
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi usaha saya. Kantor kami harus diperbesar karena jumlah tim sudah tidak mencukupi lagi. Namun, perusahaan mengalami banyak piutang usaha sehingga arus keuangan berhenti berputar. Saya harus mengucurkan banyak dana pribadi ke dalam perusahaan.
Pada saat bersamaan, para pimpinan di Banten pun bertekad untuk membangun sebuah benteng kosen-rufu yang baru di Banten pada tahun 2030. Mendengar berita itu, saya dan istri sangat bersemangat sekaligus susah hati karena kami ingin sekali berpartisipasi dalam zaimu pembangunan benteng kosen-rufu tersebut. Kami akhirnya membuat target total zaimu selama lima tahun ke depan yang akan kami donasikan.
Tantangan kali ini lebih besar dari sebelumnya, tetapi pengalaman dan pemelajaran Buddhisme membuat kami lebih tegar dan berani dalam melawan fungsi iblis yang datang. Kami pun semakin giat melantunkan Nam-myoho-renge-kyo. Saya bertekad untuk bangun lebih awal agar bisa berdoa lebih banyak dan lebih fokus kepada Gohonzon.
Kami juga memerlukan biaya yang sangat besar untuk renovasi kantor. Selama tiga bulan, saya dan istri memperbanyak doa kami dengan sungguh-sungguh karena kami harus memenangkan tantangan ini. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan finansial yang mendesak, saya memberanikan diri untuk berdialog dengan banyak perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan kami agar bisa menggunakan material mereka secara gratis sekaligus mempromosikan produk mereka.
Banyak dari mereka memperhatikan perkembangan perusahaan dan sangat menghargai cara kami berbisnis yang jujur dan selalu menguntungkan semua pihak. Di luar dugaan, hampir semua merek menyetujui dan ingin berpartisipasi.
Enam bulan setelah bertekad dan berjuang, kami akhirnya berhasil membangun kantor baru dengan luas dua kali lipat dari kantor lama, dengan segala fasilitas yang mendukung jalannya usaha, dan hanya menggunakan 30% dari total anggaran yang seharusnya dikeluarkan. Banyak klien yang menunggak pun berhasil melunasi tagihan mereka.
Berkat pemelajaran Buddhisme, keberanian kami sekeluarga dalam melawan setiap tantangan melalui kepercayaan, kekuatan doa, dialog, dan berdana kepada Soka Gakkai, saya dan istri berhasil meraih bukti nyata kekuatan Gohonzon dalam kehidupan kami dan mewujudkan mimpi kami.
Saya teringat satu bimbingan Makiguchi Sensei, “Tidak ada gunung yang terbentuk dari debu yang menumpuk sedikit demi sedikit. … Sesungguhnya gunung terbentuk dari ledakan besar pada kerak bumi.” Bagi saya, menumbuhkan kepercayaan dalam diri ibarat memunculkan gunung yang menjulang dalam hati. Kepercayaan kita tercipta dari ledakan tekad dan perjuangan untuk melawan rasa takut, mengubah keadaan, dan menaklukkan tantangan di depan kita. Hanya Buddhisme Nichirenlah yang memampukan kita menciptakan ledakan besar itu.
Itulah perjalanan saya, dari seorang anak yang malas belajar hingga menjadi orang yang terus bertumbuh melalui berbagai tantangan. Saya belajar bahwa setiap ujian bukanlah hukuman, melainkan cara kehidupan menempa kita menjadi lebih kuat.
Saya yakin selama kita terus berdoa, berjuang, dan melangkah dengan kepercayaan, kita akan selalu dikelilingi oleh kekuatan kehidupan—oleh dewa-dewi pelindung—yang membawa kita menuju kemenangan sejati dalam kehidupan ini.